Shalat Idul Adha di 3 Negara

Ini adalah pengalamanku yang paling berharga karena aku dapat mengamati dan melakukan shalat Idul Adha di 3 negara yang berbeda sehingga aku tahu bagaimana rasanya dan kesimpulanku tidak ada yang sekhidmat shalat Id di Indonesia.

Shalat Idul Adha di Indonesia

Umumnya saat Idul Adha, semua libur karena di Indonesia hari ini termasuk hari libur keagamaan. Shalat Idul Adha di Indonesia umumnya dilaksanakan di lapangan terbuka dan di dalam masjid. Dari malam sebelum Idul Adha terdengar suara takbir bertalu-talu meskipun tidak semeriah malam Idul Fitri. Semua orang muslim gembira merayakan datangnya hari ini.

Paginya, orang-orang muslim berduyun-duyun menuju ke lokasi pelaksanaan shalat Idul Adha. Pakaian yang umumnya dipakai adalah baju dan sarung serta tak ketinggalan kopyah atau peci di kepala dengan sajadah di tangan.

Ilustrasi: Berduyun-duyun menuju ke lokasi shalat Id.
Gambar dari http://iphotoku.blogspot.com

Di lokasi, terdengar suara jamaah yang mengumandangkan takbir sampai shalat Id dilaksanakan. Lalu imam memimpin shalat Id dengan 7 kali takbir di awal rakaat pertama dan 5 kali takbir di pada rakaat kedua sebelum membaca surat Al Fatihah.

Ilustrasi: Shalat Id di Indonesia.
Gambar dari: http://panel.mustangcorps.com

Setelah shalat dilakukan kutbah oleh khatib dan setelahnya umumnya dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban sampai sore hari.

Dan itulah yang selama bertahun-tahun aku alami di Indonesia. Namun wawasanku menjadi bertambah ketika aku mengikuti prosesi shalat Idul Adha di 2 negara lain yaitu di Amerika Serikat dan di Turki yang akan aku ceritakan berikut ini.

Shalat Idul Adha di Amerika Serikat

Beberapa tahun yang lalu, aku mendapat tugas mewakili sekolah dan Indonesia untuk hadir ke sebuah workshop di Carnegie-Mellon University, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat dan dunia, di Pittsburgh, Pennsylvania. Hari kedua workshop bertepatan dengan Idul Adha. Karena muslim di sana minoritas maka agak sulit mencari informasi dimana lokasi shalat Id akan dilakukan. Kemudian dengan browsing di Internet, alhamdulillah, akhirnya aku menemukan Pittsburgh Islamic Center yang terletak di 4100 Bigelow Boulevard yang rupanya tidak jauh dari hotel tempat aku menginap, kira-kira berjalan 10 menit untuk mencapainya. Rupanya Islamic Centernya berada di pemukiman penduduk.

Tidak seperti di Indonesia, tidak terdengar suara takbir yang menggema. Suara takbir hanya terdengar ketika aku memasuki ruangan shalat. Bangunan Islamic Centernya sendiri tidak semegah Islamic Center di Indonesia. Hanya sebuah rumah lumayan besar di pojok jalan sebuah pemukiman biasa yang bisa menampung mungkin sekitar 100-150 orang jamaah.

Pittsburgh Islamic Center
Gambar dari: http://maps.google.com

Hal menarik yang baru aku temui adalah shalat Id-nya dibagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi I (jam 08.30 – 09.30) dan sesi II (10.00 – 11.00). Hal ini dilakukan karena hari agung ini bukanlah hari libur nasional seperti di Indonesia, sehingga mahasiswa dan karyawan yang tak bisa melakukan di pagi hari bisa melakukan shalat Id pada sesi yang kedua.

Tidak seperti di Indonesia juga, alunan takbir yang dikumandangkan tidak semerdu dan berirama seperti di Indonesia. Datar-datar saja. Prosesi shalat Id nya sama seperti di Indonesia. Hanya saja tidak aku temui pakaian bersarung khas Indonesia. Yang ada pakaian bebas harian atau gamis dengan peci. Karena dingin, hampir seluruh jamaah memakai kaus kakinya.

Ruangan shalat di Pittsburgh Islamic Center

Prosesi kutbah juga sama, hanya saja bahasa yang dipakai tentunya adalah bahasa Inggris dipadu dengan bahasa Arab ketika mengutip ayat-ayat suci Al Quran. Tidak lama prosesinya karena sekali lagi, hari ini bukan hari libur. Pemotongan hewan kurbannya pun dilakukan pada sore hari.

Aku beruntung tinggal di Indonesia yang mayoritas muslim sehingga suasananya lebih syahdu. Salutku untuk mereka sebagai muslim minoritas karena masih mau meluangkan waktu untuk shalat Id di tengah kesibukan pekerjaan mereka. Subhanallah.

Shalat Idul Adha di Turki

Aku menemui banyak hal menarik di Istanbul, Turki. Turki adalah negara sekuler dengan hampir seluruh penduduknya beragama Islam. Turki adalah negeri 1000 menara, karena banyak sekali ditemui masjid dengan menara-menara yang menjulang tinggi.

Disini masih ada sayup-sayup suara adzan, terutama karena aku tinggal di penginapan di dekat Masjid Biru di kawasan Sultanahmet. Jam 5.30 pagi aku berangkat menuju ke Masjid Biru dengan berjalan kaki. Dekat sekali dari penginapan hanya berjalan 5 menit saja.

Dari kejauhan lampu-lampu di menara masjid ini berkilauan di waktu Shubuh. Ya Allah, betapa besar kekuasaanMu, aku bisa berada di salah satu masjid termegahMu. Subhanallah, masjid ini dibuat pada abad ke-16 masih berdiri kokoh dan megah dengan desain yang indah dengan warna biru yang mendominasi.

Masjid Biru di waktu Shubuh

Tetap saja aku tidak mendengar suara takbir dari masjid, yang terdengar adalah suara khutbah. Aku bingung kok khutbah shalat Id sudah dimulai ya, kapan shalat Id nya.

Di luar kompleks masjid banyak sekali polisi dan mobil-mobil polisi. Kawasan masjid biru dikelilingi oleh pagar. Biasanya aku melewati pintu selatan tapi aku diwajibkan melalui pintu timur dan digeledah pula. Tumben nih, karena kemarin-kemarin tidak seketat ini. Bahkan kamera tidak diperkenankan untuk dibawa masuk, meskipun ada beberapa orang yang berhasil menyembunyikan kamera dan lolos dari penggeledahan.

Seusai diperiksa, aku langsung masuk ke dalam, aku sengaja berwudhu di penginapan, karena di Masjid Biru, tempat wudhunya ada di luar masjid dan di waktu shubuh bulan November suhunya bisa mencapai 10-12 derajat.

Di dalam masjid sudah banyak orang sedang mendengarkan khutbah dari Imam Besar Masjid Biru dengan bahasa Turki. Aku langsung melaksanakan shalat Shubuh terlebih dahulu. Aku menyimpulkan bahwa saat itu dilakukan kultum. Uniknya mimbar kultumnya bukan ada di depan seperti halnya kultum di masjid di Indonesia tapi ada disamping serong kiri jamaah. Aku mengambil foto ini dari kamera handphone. Sayang aku tidak membawa kamera digital karena tidak diperbolehkan.

Kultum dari Imam Besar

Selama kultum aku berusaha menebak-nebak apa yang disampaikan oleh sang Imam Besar. Aku kaget mendengar sang Imam mengucapkan “Tsunami in Indonesia”, wah ada apa ini kok tiba-tiba sang Imam mengucapkan itu, masa sih dia tahu ada aku hehehehe. Mungkin dia menyampaikan bahwa musibah itu bisa terjadi dimana sehingga kita harus tetap meminta keselamatan dariNya.

Sejam kemudian datang serombongan pria-pria berjas hitam (Men in Black) mengawal seseorang. Dan seseorang itu langsung menempati shaf terdapan. Wah VVIP datang nih. Siapa dia aku juga tidak tahu. Bisa jadi walikota atau artis atau siapapun yang terkenal di Istanbul atau di Turki. Para Men in Black (MIB) ini kekar-kekar dengan alat komunikasi terpasang di telinga dan segera menyebar ke seluruh bagian masjid.

VVIP tampak di kejauhan memasuki shaf paling depan

Tak lama, shalat Id dimulai, prosesi seperti biasa hanya saja, takbir 7 kali pada rakaat pertama dan takbir 5 kali pada rakaat kedua bukan di awal sebelum membaca surat Al Fatihah, tapi dilakukan sebelum ruku’. Rupanya berbeda dengan di Indonesia tapi tidak melanggar aturan, yang penting takbir 7 kali di rakaat pertama dan takbir 5 kali di rakaat kedua.

Yang unik, setelah shalat Id dilakukan khutbah yang tidak begitu lama, kemudian setelah doa di penghujung khutbah selesai, barulah imam memimpin jamaah untuk mengumandangkan takbir.

Khutbah

Seusai shalat Id tidak ada pemotongan hewan kurban. Umumnya hewan kurban disalurkan ke negara-negara yang membutuhkan seperti Palestina, Afghanistan, atau mungkin Indonesia.

Yang ada setelah shalat Id, ada jamuan sederhana, para jamaah diberikan gratis sup hangat di luar Masjid Biru. Lumayan ada yang hangat-hangat gratis di tengah dinginnya udara pagi.

Jamuan sup gratis di luar kompleks Masjid Biru

Sup cair gurih lezat nan hangat

Itulah yang berbeda dari shalat Idul Adha di 3 negara yang berbeda. Aku merasakan tidak enaknya menjadi minoritas di Pittsburgh, aku merasakan bedanya di negara muslim tapi sekuler di Turki, tapi aku paling menikmati di Indonesia.

Cerita tambahan di Masjid Biru

Setelah shalat Id selesai, sebagian besar orang-orang berjubel ke depan. Aku bingung, ada apa ini? Masa pembagian zakat fitrah, ini kan bukan Idul Fitri, lha ya mosok sih orang Turki ini melarat-melarat wong Turki ini masih termasuk negara yang kaya lah. Aku juga tertarik maju ke depan siapa tahu ada beneran orang VVIP itu bagi-bagi rejeki berupa Tele (Turkish Lira) hehehehe.

Di kerumunan itulah aku bertemu dengan orang Indonesia yang sedang melanjutkan studi Doktoral di Marmara University, namanya Abbas, orangnya masih muda, mungkin seumuran atau lebih tua sedikit. Abbas bilang bahwa VVIP itu adalah Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan atau biasa dipanggil Erdogan.

Waktu itu aku tidak tahu nama lengkapnya, hanya terdengar R. Doohan, lah kok kayak Juara Motor GP yang namanya M. Doohan. Ternyata namanya Erdogan.

Oleh Abbas aku diajak mengantri bersalaman, aku bingung kenapa kok orang-orang ini rela antri bersalaman dengan perdana menteri ini. Abbas menjawab, orang yang satu ini berbeda dengan pejabat lain terutama di Indonesia karena rendah hati dan masih mau bergaul dengan rakyat biasa. Buktinya ada disini dan ya yang aku alami ini. Abbas menambahkan, Erdogan ini tegas luar biasa seperti PM Iran, Ahmadinejad namun tidak seagresif Ahmadinejad, lebih mengutamakan dialog jika masih bisa. Aku hanya bilang “ooooo” dengan panjang.

Penjagaan MIBnya juga tidak selebay Paspampres negara yang aku tinggali sekarang ini, namun mereka tetap waspada dan siaga, buktinya mereka berhasil menangkap seseorang yang mereka anggap berbahaya, menurut Abbas biasanya adalah kelompok separatis suku Kurdi.

Kerumunan antrian untuk bersalaman dengan PM Turki, Erdogan

Untung di Indonesia, ketrampilanku dalam antrian sudah terlatih jadi dalam hitungan menit aku sudah bisa sampai ke depan dengan mudah, sedangkan si Abbas yang tadi bersamaku tertinggal di tengah. Di samping Erdogan ada imam besar masjid biru. Aku hanya menunggu giliran sebentar karena orang-orang didepanku hanya bersalaman saja karena MIBnya meminta salaman dipercepat. Ketika sampai giliranku, aku mengucapkan salam kepada PM Erdogan.

HP: Assalamualaikum (sambil bersalaman dan akan mencium tangannya sebagai tanda hormatku)
PM: Walaikumsalam, where you come from? (sambil menarik tangannya cepat-cepat sehingga tidak bisa aku cium tangannya dan memandangku)
HP: I come from Indonesia sir
PM: Masya Allah

Setelah itu pembicaraan tidak dapat dilanjutkan lagi karena MIBnya memintaku untuk lanjut bersalaman dengan imam masjid biru. Tak lama dibelakang Abbas bersalaman tanpa ditanya oleh PM Erdogan. Aku bertanya ke Abbas kira-kira alasan mengapa PM Erdogan dan Imam tidak mau dicium tangannya meskipun itu sebagai tanda hormat. Abbas hanya menjawab bahwa mereka tidak mau dikultuskan, hanya itu jawabnya. Seperti biasa aku hanya bisa menjawab “oooo” dengan panjang.

Hanya itu saja pertemuan singkatku dengan Perdana Menteri Turki. Meski sebentar saja memang terlihat jika Erdogan ini seorang muslim yang rendah hati, wajahnya bersih bersinar. Sayang sekali semua ini tidak ada fotonya karena MIBnya melarang adanya kamera.

About these ads
Categories: Hari ini aku belajar..., Jalan-Jalan, Keliling Dunia, Kisah | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,776 other followers

%d bloggers like this: