Tabrakan Maut

Kemarin sore dalam perjalan pulang dari sekolah, aku, pak uto, dan pak Yayat pulang berkonvoi menggunakan motor karena memang jalan pulang kami sama yaitu melalui jalan kahfi dan tugu yang sudah selesai di beton. Kami melewati jalan andara, konvoi dipimpin pak uto diikuti pak Yayat dan aku yang terakhir. Di depan Andara Town House, kulihat dari kejauhan dari arah yang berlawanan, ada motor, yang menyalip mobil Avanza Silver dari arah yang sama, dengan sangat kencang sekali hampir menabrak pak Uto, namun pak Uto mampu menghindar, tapi tidak bagi pak Yayat, motor kencang yang dikendarai seorang perempuan yang tidak memakai helm ataupun jaket itu menghantam sisi kanan motor pak Yayat, akibatnya spion kanan, cover/batok depan belakang, dan footstep menjadi korban. Setelah menghantam motor pak Yayat, perempuan tadi tidak bisa mengendalikan laju motornya dan akhirnya terjerembab di depan persis bumper mobil Avanza Silver yang disalipnya tadi. Untung saja mobil Avanza itu perlahan jalannya, apa jadinya kalau si mobil berkecepatan tinggi. Tamat riwayatnya.

Aku langsung berhenti dan turun dan mencoba menepikan motor si perempuan yang terjatuh itu tapi rupanya tertahan oleh bumper depan kanan mobil. Lalu aku meminta supir Avanza Silver yang ternyata seorang ibu itu untuk mundur, terlihat panik si ibu Kemudian setelah motor tersebut terbebas dari himpitan bumpe, beberapa orang membantu si perempuan pengendara motor yang terjerembab itu dan menarik motor ke pinggir. Aku meyakinkan si ibu bahwa kecelakaan itu adalah bukan kesalahannya namun ibu menjadi korban sebenarnya. Lah si ibu malah marah-marah ke aku, disangkanya aku lah penyebab si perempuan pengendara motor kilat itu, padahal aku cuma orang yang kebetulan menyaksikan. Aku bilang kepada ibu tadi bahwa ibu salah alamat jika ibu mau marah-marah, salahkan si perempuan pengendara motor. Masih untung si ibusupir Avanza tidak minta ganti rugi atas baretnya pintu kanan dan retaknya bumper kanan mobilnya, kemudian si ibu meninggalkan lokasi.

Seorang satpam Andara Town House menyalahkanku karena membiarkan mobil tadi pergi, padahal aku gak nyuruh pergi. aku berdebat bahwa mobil itu sebenarnya korban bukan pelaku, masih untung si ibu tadi tidak minta ganti rugi, makin runyam. Si satpam ngotot bahwa jika roda dua lawan roda empat maka roda empat lah yang salah. Lha orang model kayak gini nih yang suka salah kaprah. Ga semua kasus seperti itu, dalam hal ini yang salah adalah si motor. Dulu waktu aku kuliah, aku pernah mengalami kejadian serupa, aku disalahkan padahal aku sebenarnya juga korban, dan diminta mengganti kerugian dan biaya pengobatan. KTP-ku di tahan oleh keluarga yang tak sengaja kutabrak (collateral damage). Setelah aku penuhi penggantian biaya pengobatan, maka sudah saatnya aku mengambil KTP-ku didampingi kakakku, eh tapi malah diminta biaya tambahan untuk yang non medis seperti pijat urut, padahal aku juga korban. Ketika kakakku menolak membayar lebih (karena ada kecenderungan memanfaatkan situasi untuk memeras) nah keluarganya mengatakan karena aku lah yang mengendarai beroda lebih banyak daripada yang ditabrak. Namun hal itu langsung dibantah oleh kakakku, mana ada aturan atau hukum yang mengatakan seperti itu, harus dilihat kasusnya seperti apa dulu. Si keluarga mendebat balik, tapi kakakku menggertak karena kakakku selama menjadi dosen di fakultas hukum, tidak ada aturan seperti itu (kakakku memang dosen tapi bukan fakultas hukum dan memang tidak ada aturan seperti itu), maka si keluarga akhirnya sepakat menerima penggantian pengobatan dan mengembalikan KTP-ku.

Nah balik ke cerita semula, setelah adu argument, ada seseorang yang bilang agar tidak usah saling menyalahkan, segera diobati si perempuan. Benar juga yang dikatakannya, aku bingung tiada kapas, yang ada Betadine milik satpam tapi tidak segera dioleskan karena si satpam menunggu sampai lukanya dibersihkan. Aduh emang si satpam ini banyak omong. Ada tukang cendol lewat, aku mau beli es nya untuk kompres memarnya, padahal aku Cuma butuh es sebanyak 500 rupiah aja, tapi si abang penjual minta 1000, lah emang mau diminum, wong buat nolong orang. Apalahi setelah kutahu esnya sudah diserut dan dicampur santan, aku batalkan niat untuk beli es. Aku tanpa pikir panjang mengambil sapu tanganku lalu kuminta air ke kantor satpam dan kubersihkan luka di kaki kanan si perempuan tadi perlahan-lahan karena dia menjerit sakit karena perih. Sambil kubersihkan lukanya, aku interogasi si perempuan kenapa kok ngebut, ternyata dia mahasiswi UPN Jakarta semester IV yang lagi buru-buru ke kampus untuk melihat jadwal semester pendek.  Aku juga cerita jika aku juga alumni UPN tapi UPN Surabaya, dia sedikit lebih tenang. Ternyata lukanya tidak parah sekali hanya luka lecet di jari-jari kaki kanan dan tangan serta salah urat. Oh iya anehnya orang yang bilang untuk segera ngobati si perempuan malah ilang, bener-bener deh omong doang bisanya, tak bisa aksi, bantuin ngerawat kek. Tak lama ibu si perempuan datang dan bertanya apa yang terjadi, lalu aku ceritakan kronologisnya. Si ibu malah menyalahkan anaknya si perempuan itu karena memang salah. Aku ngobrol dengan tetangga yang mengantarkan ibu si perempuan itu, dia mengatakan bahwa si perempuan ini baru belajar mengendarai motor. Hebat, belum mahir tapi sudah berani ngebut. Tak lama si perempuan ini diangkut ojek untuk dibawa pulang.
Rupanya si ibu ini baik sekali, mau mengganti kerusakan motor pak Yayat, mulai dari spion lengkap, batok depan belakang, footstep, dan tutup oli. Entah berapa yang harus dibayar ke bengkel itu sih urusan keluarga si ibu. Setengah jam kemudian motor pak Yayat sudah bisa dikendarai. Akhirnya kami pulang berkonvoi, kali ini lebih berhati-hati sekali. Sayang sekali aku tidak mengabadikan momen itu karena aku sendiri sibuk sampai kelupaan.

Banyaknya kecelakaan mungkin diakibatkan karena mudahnya memperoleh SIM, mudahnya mendapatkan kendaraan baru, tidak dewasanya pengguna lalu lintas, pengetahuan yang minim mengenai berkendara yang aman dan nyaman.

Waktu aku buat SIM Depok baru, aku ikuti semua prosedur dengan jujur tidak ada acara suap-suapan, tes teori ya tes teori, tes praktek yang tes praktek. Ada orang yang sampai 4 kali tidak lolos tes teori, aku pikir tesnya susah, ternyata tidak lho, dari 11 kesalahan yang diperbolehkan, aku cuma salah 7 saja. Tes teori SIM mengenai etika lalu lintas dan rambu-rambu saja. Lah itu kalo sudah 4 kali gak lulus artinya itu orang minim sekali pengetahuan dan etika lalu lintasnya alias kalo di jalan mungkin sudah asal bisa nyetir saja. Kalau mendapatkan SIM aja seperti ini (tanpa acara suap/acara instan) mungkin angka kecelakaan bisa ditekan.

Dari kejadian di atas, aku belajar sekaligus peringatan untuk diriku: Kalo naik kendaraan, tak usalah ngebut-ngebut di luar batas, perhatikan keselamatan, keamanan dan kenyamanan diri dan orang lain. Jika takut telat ya lebih baik telat daripada bertaruh lima menit lebih awal tapi pada akhirnya kecelakaan yang menyebabkan rugi banyak, baik waktu, materi, dan sakit.

Kemudian aku harus belajar mengatur waktu, apabila waktu tempuh ke sekolah adalah 30 menit maka berangkatlah 45 menit sebelumnya, sehingga ada extra time 15 menit untuk urusan lain-lain seperti macet, sakit perut di jalan, isi bensin, ban bocor, fotokopi, dan lain-lain.

Sepandai-pandainya bikers zig-zag, nyalip sana-sini, pada akhirnya pasti jatuh juga. Serta tidak semua pengendara motor menyebalkan dan tidak semua pengemudi mobil itu lamban. Aku seorang biker sekaligus driver dan pejalan kaki, karena ya nyetir motor ya nyetir mobil jadi bisa lebih paham terhadap perasaan supir mobil dan pengendara motor serta pejalan kaki.

Advertisements
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: