Aktivitas Hari Minggu

Hari Minggu ini, aku beraktivitas pagi, sebenarnya tujuan jalan-jalan pagi untuk menemukan tumbuhan tomat atau jati atau  pokoknya tumbuhan yang memiliki “bulu” lembut untuk bahan mengajar hari Senin besok. Sebenarnya bulu itu disebut trikomata karena merupakan modifikasi lapisan epidermis tumbuhan.

Wisata Kuliner: Soto Ayam Surabaya Cak Anton

Namun sebelum ke tujuan utama itu, aku dan istri sarapan soto ayam Surabaya di Mekarsari, Cimanggis, Depok. Letaknya ada di depan toserba Sanjaya. Pokoknya jika ada gerobak di depan toserba tersebut sudah dipastikan itu adalah gerobak soto. Buka dari jam 7 sampai jam 11an atau tergantung se-habis sotonya, dan sore buka dari jam 4 sampai jam 8.30. Pemilik dari warung soto tersebut adalah Cak Anton, orang Malang, Jawa Timur, tapi ia melabeli sotonya Soto Ayam Surabaya. Hari  minggu seperti ini sudah dipastikan banyak pelanggan yang akan datang sehingga ia sudah menyiapkan potongan ayam, jeroan sangat banyak, dan kerupuk putih. Berbeda dari hari biasa, ia tidak banyak membawa ayam dan jarang sekali ada jeroan dan telur. Harga seporsi nasi soto ayam standar (tanpa tambahan telur, ceker, jeroan, dan kerupuk) cukup Rp 5.000 saja. Air kemasan gelas Rp 500, kerupuk putih Rp 500, jeroan ayam Rp 2.000, dan sepotong ceker atau kepala ayam Rp 1.000, serta sebutir ayam Rp 2.000. Cukup murah, jarang sekali ada makanan nasi + lauk hanya berharga Rp 5.000. Total aku bayar Cuma Rp 12.000 saja berdua dengan istri, minum air kemasan dan kerupuk. Puncak keramaian di hari Minggu sekitar jam 7 sampai jam 8.

Soto Ayam Surabaya di Mekarsari

Soto Ayam Surabaya di Mekarsari

Cak Anton sang Pedagang

Cak Anton sang Pedagang

Seporsi Soto Ayam

Seporsi Soto Ayam

Highway to Heaven

Kemudian aku melanjutkan pencarian tumbuhan tomat, melewati sebuah jalan tembus yang memiliki penunjuk jalan yang unik. Lokasi jalan ini ada di dekat rumah di belakang perumahan Pondok Duta II Cimanggis, Depok. Jika ke kanan maka nama jalannya adalah jalan bahagia satu dan kalau belok kiri nama jalannya adalah jalan bahagia 2 tapi kalo jalannya lurus bernama jalan bahagia. Sepintas biasa saja namun kalau diambil pelajaran juga bisa yaitu satu-satunya jalan bahagia adalah jalan ke menuju ke atas ke langit (baca: surga). Betul gak? Akhirnya di jalan bahagia ini aku merasakan kebahagian karena akhirnya aku menemukan lokasi tanaman Jarak yang daun dan batangnya berbulu dimana tidak terlalu jauh rumahku. Aku tidak langsung memotong tumbuhan  karena aku berencana untuk melakukannya pada hari Senin agar lebih segar.

Jalan Bahagia


Jalan Baru Jalan Dengan Geliat Ekonomi

Setelah itu aku dan istri memutuskan untuk jalan-jalan sebentar toh tumbuhannya sudah diketahui lokasinya. Kami menuju ke jalan Juanda Depok yang lebih dikenal dengan jalan Baru karena jalan itu termasuk jalan yang baru dibangun untuk menghubungkan jalan raya Bogor ke jalan Margonda, Depok, panjangnya sekitar 5 kilometer.

Berbeda dengan 3 tahun yang lalu, situasi jalan juanda di hari Minggu masih sepi belum banyak pedagang kaki lima, namun lihatlah kini, kendaraan hanya bisa berjalan maksimal 10 km/jam dikarenakan berjubelnya pejalan kaki sampai setengah jalan. Trotoar digunakan untuk etalese pedagang kaki lima. Sejauh mata memandang ke depan, berkilometer ke depan, penuh berjubel pejalan kaki dan pedagang. Ada 3/5 dari panjang jalan tersebut digunakan untuk berdagang.

Situasi Jalan Baru

Situasi Jalan Baru

Geliat perekonomian di jalan baru pada hari Minggu, konon jumlah total transaksi di sini dapat mencapai ratusan juta. Bagaimana tidak, anda mencari barang apapun bisa dipastikan ada, mulai dari yang termurah Rp 500 (air minum kemasan gelas), sampai dengan Rp 150 juta (mobil Honda Jazz baru). Apa saja ada, mulai dari makanan minuman, peralatan rumah tangga, pakaian, perlengkapan mobil dan motor, tanaman hias, alat tulis dan kantor, keperluan sekolah, sepatu, majalah dan buku serta barang-barang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Yang jelas harganya terjangkau sekali untuk kalangan menengah ke bawah. Soal kualitas juga tak kalah dengan yang mahal namun pandai-pandai memilih, seperti sepatu, jacket, helm yang aku miliki saat ini merupakan barang yang dijual di sana. Nah ada pedagang yang menawarkan celana training seharga Rp 17.000, wah kebetulan celana training istri sudah rusak jadi aku beli saja.

Breaking The Rule: Angkot Ngetem Di Tengah Jalan Raya

Berikutnya aku masih berusaha mencari batang tebu,  di jalan baru tidak ada maka aku mencoba di belakang kampus UI biasanya di sana ada pasar kaget juga. Sudah tiba di lokasi eh malah gak ada. Akhirnya aku mencoba mencari di Margonda arah Cibinong. Wow lalu lintas kok jadi macet neh tumben pagi-pagi pertigaan Margonda dengan Siliwangi kok udah rame ternyata itu gara-gara 1 angkot yang ngetem di tengah jalan. Super Egois tuh supir, demi kepentingannya sendiri tapi merugikan banyak orang. Aku berhenti sejenak untuk mengabadikan momen ini. Lihat saja di foto, jalan didepannya song kosong. Banyak mobil yang dibelakangnya sangat terganggu dengan ulah si sopir ini yang ngetem sembarangan. Padahal lokasi ngetemnya ga jauh dari Kantor Polisi Margona, wah gimana nih pak Polisi?

Angkot Ngetem di Margonda

Angkot Ngetem di Margonda

Wisata Kuliner: Bakso Timbul

Aku lanjutkan perjalanan sampai ke lokasi yang aku duga terdapat penjual tebu, ternyata belum buka. Ah pencarian tebu ini membuatku kelaparan lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 10 lebih. Ya sudahlah aku menuju ke penjual bakso kaki lima langgananku di Komplek BBD di Cimanggis. Namanya Bakso Pak Timbul, lumayan enak di kelasnya. Seporsi Cuma Rp 4.000 atau 5.000 tergantung tingkat kelaparan. Syukurlah, ternyata Pak Timbul jualan, biasanya hari Minggu begini dia dapat pesanan di pesta-pesta. Karena sering menerima pesanan dari ibu-ibu yang akan mengadakan pesta sampai-sampai digerobaknya ditulis no hapenya. Bahkan kadang sambil berjualan begitu ada pesanan via hapenya.Modern juga nih bakso Timbul. Lalu aku memesan 1 porsi saja seharga Rp 5.000.Sementara istriku belanja di pedagang sayur di dekat situ aku menghabiskan seporsi saja. Tepat habis istriku selesai belanja dan kami pulang ke rumah.

Bakso Tmbul

Bakso Timbul


Yip-Yip Tidur dengan Berbagai Posisi

Di  rumah, Yip Yip masih tidur dengan berbagai posisi yang aneh. Bener loh, tidak ada yang ngajari dan bukan rekayasa sama sekali. Aku amati terus selama satu jam. Ada empat perubahan hampir tiap 15 menitnya. 15 menit pertama posisi tidurnya seperti gambar dibawah ini.

Yip Yip Bobok

Yip Yip Bobok

Kemudian 15 menit kedua posisi tidurnya sudah berubah menjadi seperti dibawah ini

Yip Yip Bobok

Yip Yip Bobok

Kemudian 15 menit berikutnya posisi tidurnya sudah berubah menjadi seperti dibawah ini

Yip Yip Bobok

Yip Yip Bobok

Dan 15 menit kemudian posisi tidurnya sudah berubah menjadi seperti dibawah ini

Yip Yip Bobok

Yip Yip Bobok

Sungguh-sungguh unik gaya tidurnya, sudah seperti gaya tidur orang, terlentang dan miring. Kadang kalau dia tidur jadi bikin aku iri aja. Kayaknya bahagia banget, hidupnya gak pernah susah, hidup cuma main ama kucing tetangga (Belsi dan Bulbul),  makan, minum, reproduksi, dan tidur. Kesehatan, makanan, minuman, tempat tinggal sudah aku sediakan. Enak banget jadi Yip Yip. Gap using mikirin kerjaan. Hobinya DUGEM, selalu malam-malam keluar terus balik lagi subuh dan langsung naik ke kursi kesukaannya untuk tidur.

Pekerja Anak

Kemudian sorenya aku mencari kembali batang tebu di tempat biasanya aku beli es tebu yaitu di Depok II. Akhirnya aku bisa dapatkan batang tebu, aku beli 2 batang saha seharga Rp 2.000. Ternyata menurut pengajuan penjual tebu tersebut aku adalah orang ke-6 yang membeli batang tebu. Wow, sepertinya materi pelajarannya sama nih.

Lalu aku balik pulang melewati sebuah jalan tembus menuju jalan baru, di tepi jalan kulihat ada anak kecil kira-kira usianya sekitar 9-10 tahun sedang tertidur lelap kelihatannya terlelah setelah berjualan karena kulihat juga barang dagangannya yaitu cobek ulekan yang dipanggul. Ya Allah, kasihan sekali bocah itu. Seharusnya dia duduk di bangku sekolah, bukan berjualan dan memang bukan kewajibannya bekerja. Aku juga ga bisa banyak membantu, aku doakan saja semoga anak itu mendapat kemudahan dan kemuliaan kelak. Amin Kemana orang tuanya ya? Aduh pemerintah bagaimana sih? Katanya wajib belajar 9 tahun, katanya alokasi dana pendidikan besar, kok bisa ada anak yang bekerja ya? Miris hatiku. Beruntung sekali aku dulu hidup serba kecukupan. Terima kasih Ya Allah. Ketika aku ambil fotonya, dia sedang dibangunkan oleh teman-temannya sesama pedagang cobek yang lebih tua.

Baru Bangun Tidur

Baru Bangun Tidur


Jalan Baru Berubah Menjadi Kumuh

Lalu aku lewati jalan baru, aku shock sekali melihat jalan tersebut. Bagaimana tidak? Seharusnya jalan itu bersih dengan penataan tamannya yang indah namun yang terjadi adalah super kotor banyak sampah dan tanaman di trotoar menjadi rusak, rebah karena terinjak. Jahatttttt.

Tanaman jadi rusak

Tanaman jadi rusak

Sampah di Jalan Baru

Sampah di Jalan Baru

Manusianya gimana sih sudah mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tapi dibiarkan saja. Emang siapa yang bakal membersihkan itu. Pak Walikota Depok gimana sih? Pak Kepala Dinas Pertamanan gimana sih? Masak tamannya diacak-acak diem aja. Bukan akan dibandingkan pentingan mana antara manusia dengan tanaman. Manusia boleh lebih penting, mereka berjualan untuk memenuhi nafkah, membiayai anak untuk sekolah. Tapi sejalan dengan alam, harusnya manusia juga harus menghargai alam. Tanpa ada alam, dalam hal ini tanaman juga memberi manfaat untuk manusia sebagai penghisap karbondioksida dan penyuplai oksigen. Harusnya mereka bertanggung jawab, minimal tidak merusak tanaman dan membersihkan sampahnya sendiri. Persis peribahasa “Habis manis sepah dibuang”. Semoga para pedagang cepat sadar kalau perbuatan mereka juga merugikan sendiri. Karena apa? Karena untuk memperbaiki tanaman yang rusak itu juga memakai uang pembayar pajak ya uang kita sendiri. Makin banyak yang rusak makin banyak biaya yang dikeluarkan. Sayang sekali, kan bisa dialokasikan ke program pemerintah lain yang membutuhkan biaya banyak semisal pengobatan murah atau pendidikan murah. Betul gak?

Breaking The Rule: Nglanggar rambu

Satu lagi ini pelanggaran ya aku temui di jalan Juanda yang merupakan Proyek Percontohan Kawasan DIsiplin Lalu Lintas di Depok. Sudah jelas ada rambu gede begitu, si pengendara motor masih gak peduli dan tidak bisa menahan hasrat untuk lebih cepat 5 menit untuk tiba di tujuan. Padahal belokan yang diperbolehkan kurang dari 50 meter di depan. Seumpama ada kecelakaan, dia lemah secara hukum karena melanggar rambu. Padahal dia bawa dirinya, anak bayinya, dan istrinya. Pantaskah dia lulus ujian teori SIM C? TIDAK! SESUNGGUHNYA DIA TIDAK PANTAS! Gejala apa sih ini? Kok manusia Indonesia hobi banget ngelanggar aturan. Berani banget. Salahnya ada dimana? Budaya Instan sih. Instan sampai di rumah (dengan ngelanggar aturan), Instan dapet SIM (dengan nyogok), Instan kaya (dengan korupsi), Instan Nilai Bagus (dengan nyontek), Instan cari solusi/kemenangan (dengan anarkis/ngrusak/rusuh), Instan Makan (Mi instan he he he). Sampai kapan Indonesia seperti ini? Kok ga berubah, gak mau maju kali ya? Berubah dong.

Breaking the rule

Breaking the rule

Advertisements
Categories: Kisah, Wisata Kuliner | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: