Perjalanan Sore

Kemarin sore, selesai rapat pukul 16.15 WIB, aku segera pergi ke stasiun KRL di UI untuk menemani ibundaku yang akan pulang ke Surabaya. Ibunda akan menaiki kereta api Sembrani jurusan Jakarta Kota – Surabaya Pasar Turi. Tepat jam 16.45 aku bertemu Ibunda dan kakak yang hanya mengantar sampai di stasiun UI, kendaraanku aku titipkan ke parkir depan stasiun UI. Ibunda sudah membeli 2 karcis KRL Depok Ekspres seharga Rp 9.000/orang.

Karcis KRL Depok Ekspres

Karcis KRL Depok Ekspres

Kemudian kami menuju ke peron untuk menunggu datangnya KRL. Mungkin karena sudah lama aku tidak naik KRL, rupanya, kini sudah ada 2 petugas yang memeriksa karcis. Beda dengan dahulu. Setelah aku berbincang sebentar dengan petugasnya, ternyata pemeriksaan ini sudah dilakukan mulai bulan April 2007. Wow berarti sudah lama sekali aku tidak naik KRL.

Petugas Peron

Petugas Peron

Setengah jam kemudian, setelah berulang kali KRL Ekonomi yang lewat, tibalah KRL Depok Ekspres yang kim tunggu-tunggu. Kami naik dan bebas memilih tempat duduk sesuka kami karena sepi sekali, bahkan ada yang selonjoran di kursi.

Situasi di KRL Depok Ekspres

Situasi di KRL Depok Ekspres

Situasi di KRL Depok Ekspres

Situasi di KRL Depok Ekspres

Selain keretanya yang bersih, rapi, nyaman, dan dingin sudah ada perbaikan lain yaitu keamanan yang oke. Petugas selalu memeriksa karcis tiap penumpang. Bahkan ada penumpang yang keliru naik kereta, dan diharuskan membaya kekurangannya. Wah sudah ada perbaikan nih dari PT. KAI. Dengan seragam hitam-hitam serta postur yang tegap, membuat petugas ini disegani dan dihormati.

Petugas Memeriksa Karcis

Petugas Memeriksa Karcis

Setengah jam kemudian, KRL sudah naik ke jalur layang, itu menandakan bahwa tak lama lagi KRL akan melewati stasiun Gondangdia, Gambir, dst. Di tiap stasiun layang KRL berhenti dan naiklah para penumpang. Rupanya mereka bukan akan ke Jakarta Kota namun akan pulang ke Depok, hanya saja memanfaatkan sepinya kereta yang ke arah Jakarta Kota untuk mendapatkan kursi kosong. Karena jika mereka “sok taat” dengan aturan, mereka tidak akan kebagian kursi apabila harus menunggu kereta ini berangkat dari Jakarta Kota.

Situasi KRL setelah lewat jalur layang

Situasi KRL setelah lewat jalur layang

Jika tadi sepi tiada penumpang sekarang jadi ramai ditambah pula ada pedagang asongan yang masuk, padahal itu tidak diperbolehkan. Namun petugas bertindak cepat dan tepat. Petugas menahan dan meminta mereka untuk berhenti berjualan serta menegur mereka. Woow, salut untuk PT. KAI.

Pedagang Asongan di KRL Depok Ekspres

Pedagang Asongan di KRL Depok Ekspres

Tepat pukul 18.15, kami tiba di stasiun Jakarta Kota, banyak sekali orang yang berjubel, dan ketika pintu kereta terbuka, bukannya memberi kesempatan penumpang yang akan turun terlebih dahulu apalagi orang tua, mereka para penumpang seakan-akan kesetanan dan tak peduli siapa yang didepannya, langsung berebut masuk dan berebut kursi kosong. Setelah beberapa menit pintu kereta kosong dan kami turun. Sangat disayangkan, PT KAI tidak memikirkan lansia yang kesulitan untuk turun kereta, karena sangat curam jika turun. Aku harus membantu ibundaku menuruni tangga kereta. Eh kok ya beruntung sekali di jalur KRL kami bersebelahan dengan jalur kereta Sembrani. Langsung saja kami naik gerbong kereta Sembrani dan mencari kursi sesuai dengan nomor kursi yang tertera di tiket. Setelah melepas Ibunda, aku langsung turun dan membeli karcis KRL Depok Ekspres, memang mahal Rp 9.000 dibanding karcis KRL Ekonomi seharga Rp 1.500, namun dijamin setelah keluar dari KRL Ekonomi, aku langsung mandi keringat dan pegel-pegel, mengingat jam itu adalah jam pulang karyawan, berjubel, penuh sesak. Jangan pernah berharap mendapat kursi atau dapat lesehan di lantai gerbong. Aku amati sudah ada perbaikan di stasiun Jakarta Kota, petugas keamanan ditambah dan tiap orang yang akan masuk ke dalam selalu diminta untuk menunjukkan karcis atau kartu tanda berlangganan KRL.

Aku harus menunggu 45 menit untuk menunggu datangnya KRL Depok Ekspres. Lalu aku nongkrong, sambil mengusir rasa bosan menunggu, aku ngobrol dengan orang disebelahku. Hingga 3 orang bergantian yang duduk disebelahku baru keretnya datang. Terakhir adalah ibu bersama anaknya yang baru pulang dari Mangga Dua untuk membeli sepatu boot untuk anaknya agar dapat di pakai saat pentas bersama sanggar modelling di Depok. Namun sayang, si ibu gagal mendapatkan sepatunya karena sudah tutup tokonya.

Akhirnya kereta datang, aku segera naik, namun kalah cepat dengan penumpang lain dan akhirnya aku terpaksa berdiri, sedangkan si ibu dan anaknya mendapatkan kursi. Tetap nyaman juga keretanya meski banyak penumpang namun tidak separah KRL Ekonomi.

Situasi Pulang

Situasi Pulang

Beberapa penumpang yang tidak kebagian kursi memang sengaja karena mereka memiliki kursi lipat kecil yang dijual oleh pedagang asongan di Stasiun Jakarta Kota. Kursi lipatnya kecil namun kuat menahan beban puluhan kilogram. Mereka duduk di pintu kereta yang tidak menjadi keluar masuknya penumpang. Di depanku ada beberapa penumpang yang lesehan dengan alas koran. Ya sudahlah aku bergabung saja dengan mereka duduk di lantai kereta, dan mereka memberiku kertas korang sebagai alas.

Duduk Lesehan

Duduk Lesehan

Kereta melaju kencang karena tidak berhenti di stasiun-stasiun seperti halnya kereta KRL Ekonomi, dan itulah yang membedakannya selain tempatnya yang nyaman dan dingin. Setengah jam berikutnya KRL Depok Ekspres berhenti di Stasiun Pondok Cina. Aku turun disini karena dekat dengan stasiun UI tempat dimana kendaraanku aku titipkan. Aku malas berjalan karena lelah dan aku naik ojek yang rupanya sudah aku duga akan menaikkan tarifnya. Benar juga ketika aku sodorkan uang Rp 5.000, si ojek mengaku tidak ada kembalian dan aku tanyakan berapa tarifnya dia menjawab Rp 4.000. Wow please deh pak, deket begitu Rp 4.000, bercanda banget, kataku dalam hati. Udah begitu tidak ada kembalian, aku tahu strateginya dia aja biar di kasih full Rp 5.000. Ya sudahlah, rejeki si ojek. Aku beri sajalah. Dan aku kembali menaiki kendaraanku dan pulang deh. Seru banget perjalanan sore ini.

Advertisements
Categories: Kisah | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Perjalanan Sore

  1. wah senangnya naik kereta… tut… tut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: