The 3rd iEARN (International Education and Resource Network) REGIONAL BRIDGE (Building Respect and Dialogue through Global Education)

Awal dari bergabungnya SMA Al Izhar ke dalam organisasi internasional iEARN ini dimulai dari ditunjuknya aku dan Pak Anto (sebagai wakil dari SMP Al Izhar) oleh Kepala SMA Al Izhar waktu itu, Pak Edi Sutarto, untuk menghadiri workshop iEARN yang pertama kali di PPPG Kejuruan di Sawangan, Depok. Workshop tersebut difasilitasi oleh Farah Kamal dari iEARN Pakistan dan Dorris Wu dari iEARN Taiwan.

iEARN adalah sebuah organisasi non pemerintah (NGO) yang beranggotakan lebih dari 20.000 sekolah dari 115 negara yang ada di dunia. iEARN memberdayakan guru dan murid untuk saling bekerja sama / berkolaborasi secara online dengan menggunakan internet iEARN adalah komunitas inklusif dari para pendidik dan pembelajar dari seluruh dunia.

iEARN Indonesia saat ini berdiri dibawah naungan Associated School Project Network UNESCO yang dikomandani oleh Ibu Hj Hasnah Gasim, seorang staf dari kantor Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO. ASPNet UNESCO adalah asosiasi sekolah-sekolah dibawah bendera UNESCO. Al Izhar (SMP & SMA) sudah tergabung dalam ASPNet UNESCO sekitar tahun 2002, dan sejak dari tahun tersebut Al Izhar sudah banyak berpartisipasi di dalam kegiatan ASPNet UNESCO.

Seputar BRIDGE (Building Respect and Dialogue through Global Education)

BRIDGE yaitu program iEARN yang disponsori oleh The Youth Program Division of the Bureau of Educational and Cultural Affairs at State Department and iEARN USA yang meliputi negara-negara muslim dengan Amerika Serikat untuk menjembatani terbentuknya sebuah rasa saling menghargai dari sesama anggotanya. BRIDGE memiliki banyak program seperti pertukaran guru dan murid, professional development, conference, online collaboration antar anggotanya.

Anggota BRIDGE antara lain Indonesia, Bangladesh, Mesir, India, Yordania, Lebanon, Uni Emirat Arab, Malaysia, Maroko, Nepal, Oman, Pakistan, Suriah, Arab Saudi, Tunisia, dan Amerika Serikat
Konferensi BRIDGE di Beirut ini didukung oleh Bahia Hariri, kepala Komisi Pendidikan di DPR Lebanon bekerja sama dengan American Community School, Beirut. Konferensi ini juga merupakan titik kulminasi dari online collaboration project yang tergabung dalam BRIDGE pada tahun 2004 – 2005. Konferensi ini bertemakan “Empowering people through the use of ICT (Information & Communication Technology) and global connection”.

Perjalanan Aku

Perjalanan aku ke konferensi ini adalah dalam rangka memenuhi undangan dari Ms. Eliane Metni yaitu koordinator iEARN Lebanon, untuk mempresentasikan karya murid SMA Al Izhar Pondok Labu dalam pelajaran Lingkungan yang juga merupakan hasil project kolaborasi BRIDGE.

Aku didampingi oleh koordinator iEARN Indonesia yaitu Ibu Hj Hasnah Gasim yang juga merupakan staf dari kantor Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO bersama saudara Suparno, seorang guru Fisika dari SMA Labschool Rawamangun, Jakarta. Biaya perjalanan dan akomodasi aku ditanggung penuh dari dana BRIDGE kecuali biaya pembuatan passport aku sendiri yang menanggung dan biaya fiskal airport dibiayai oleh sekolah.

Perjalanan dimulai pada tanggal 6 Juli 2006, aku berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 22.00 menggunakan pesawat Emirates dengan tujuan Dubai transit via Kuala Lumpur. Perjalanan menuju Dubai ditempuh kurang lebih 10 jam. Aku tiba di Bandara Internasional Dubai pada tanggal 7 Juli 2006 pukul 04.00. Aku menyempatkan untuk sholat Shubuh di bandara sebelum menuju hotel transit yaitu Dubai Millenium Airport Hotel. Perbedaan yang sangat mencolok antara fasiltas bandara di Dubai dengan bandara Soekarno Hatta.

Di Pesawat Menuju Dubai

Di Pesawat Menuju Dubai

Tiba di hotel, aku menemukan hal yang istimewa, bahwa ternyata supervisor resepsionis hotel tersebut adalah seorang warga negara Indonesia yang berdomisili di Depok. Dubai merupakan kota kedua setelah Abu Dhabi, banyak pusat bisnis dan perbelanjaan di kota ini. Kebersihan dan keindahan kota menjadi nomor satu, kecuali debu dan panas. Aku menggunakan waktu istirahat untuk menyempatkan melakukan sedikit observasi di pusat bisnis dan ekonomi kota Dubai. Aku menggunakan bis gratis yang disediakan oleh hotel.

Setiba di pusat bisnis dan ekonomi (baca: Mall) tersebut, aku menemukan beberapa produk Indonesia yang dijual di Carrefour Dubai diantaranya adalah salah satu merk mie terkenal di Indonesia dan rokok kretek dari Indonesia. Meskipun mata uang resminya adalah real namun dollar amerika serikat juga diterima sebagai pembayaran sah namun tetap uang kembaliannya menggunakan mata uang lokal. Tidak ada perbedaan mendasar pada konsep mall yang ada di Dubai dengan di Indonesia. Hanya saja, pengunjung lebih mematuhi aturan untuk tidak merokok di sembarang tempat. Tak lama melakukan observasi dan karena “jet lag” aku dan rombongan memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat sambil menunggu pesawat ke Beirut yang berangkat pada sore harinya. Aku juga menyempatkan untuk membeli Video CD tentang Dubai yang telah aku sumbangkan ke Perpustakaan Pusat Al Izhar.

Pusat Perbelanjaan di Dubai

Pusat Perbelanjaan di Dubai

Sore harinya, di saat matahari masih menyengat panas, kami terbang menuju ke Beirut dengan pesawat Emirates. Karena panasnya udara, di pesawat yang sedang menunggu di appron pun seperti suasana angkot di Indonesia, berkeringat. Namun ketika lepas landas, udara panas tidak lagi aku rasakan.

Tiba di Beirut sekitar pukul 18.00 waktu setempat, namun suasana belum menampakkan malam. Setelah melewati urusan keimigrasian, aku bertemu dengan rombongan dari negara lain. Dan dengan menggunakan bus mini panitia, kami diantarkan ke Plaza Hotel yang terletak di Jalan Hamra, sebuah jalan utama di pusat kota Beirut. Karena kami tiba sehari sebelum pelaksanaan konferensi dimulai maka aku dan rombongan belum mendapatkan fasilitas makan malam, oleh karena itu Ibu Hj Hasnah Gasim selaku pimpinan rombongan dan koordinator iEARN Indonesia memutuskan untuk mencari makanan di luar hotel. Aku mendapatkan kesempatan untuk merasakan perbedaan masakan di dunia. Aku mencicipi masakan khas Arab – Maroko, nasi kebuli yang dibungkus kulit roti. Hampir sama rasanya seperti yang ada di Indonesia namun berbeda. Kesulitan yang dirasakan adalah komunikasi karena bahasa yang digunakan adalah Arab dan Perancis. Kebetulan ibu Hj Hasnah Gasim pernah bertugas di Paris selaku staf Dubes UNESCO di Paris maka bahasa Perancis beliau membuat aku tertolong.

Keesokan paginya aku dan Pak Ano berjalan-jalan di sekitar hotel, situasinya mirip dengan jalan legian, kuta. Namun jalannya agak lebih lebar dan bukan dari aspal tapi paving block. Para pejalan kaki ada yang menggunakan jilbab, ada yang memakai cadar, ada yang memakai you can see, ada yang biasa saja. Negara Arab yang serasa bukan di Arab, karena terpengaruh Budaya Prancis sebagaimana yang menjajahnya dulu.

Di depan Bank of Beirut, Jalan Hamra

Di depan Bank of Beirut, Jalan Hamra

Masihd di tempat yang sama

Masihd di tempat yang sama

Keesokan sore harinya pada tanggal 8 Juli 2005, kami menuju ke Sekolah ACS (American Community School) yaitu sekolah swasta yang diperuntukkan anak dari warga asing terutama Amerika Serikat. Fasilitas di Al Izhar nampaknya lebih unggul mulai dari locker, lapangan olahraga, dan kantin, dibandingkan dengan sekolah tersebut, hanya perpustakaannya dilengkapi sistem anti pencurian dan juga dilengkapi dengan puluhan unit komputer yang terkoneksi dengan Internet.

Kami disambut oleh Kepala Sekolah ACS tersebut dengan sepatah dua kata dan dilanjutkan dengan gala dinner. Karena mungkin makan malam menurut tradisi Amerika maka aku harus menanyakan terlebih dahulu minuman yang disajikan, apakah cola ataukah beralkohol. Aku menyempatkan diri untuk berkenalan dengan peserta dari negara lain seperti Nepal, Bangladesh, Maroko, dan Mesir. Keramah tamahan para peserta terasa sekali, tampak akrab dan saling menghargai seakan-akan kami ini adalah teman lama.

Foto Bareng Guru-Guru Peserta

Foto Bareng Guru-Guru Peserta

Makan Bersama Guru dari Arab Saudi dan Nepal

Makan Bersama Guru dari Arab Saudi dan Nepal

Setelah makan malam, seluruh peserta diajak oleh panitia untuk berjalan kaki menuju pantai Beirut. Suasananya tak jauh berbeda dengan di Pantai Ancol Jakarta, ada pedagang makanan kaki lima, dan ramainya, hanya berbeda garis bujur dan lintang saja. Kemudian kami beranjak menuju hotel dengan menggunakan bus panitia.

Keesokannya tanggal 9 Juli 2005 pagi, setelah sarapan pagi ala Lebanon, kami berangkat menuju sekolah ACS, tempat diadakannya konferensi. Upacara pembukaan yang dibuka oleh Baia Hariri dan Dubes AS dilakukan dengan khidmat. Dalam pembukaan tersebut ditampilkan pertunjukkan tari tradisional Lebanon yang dibawakan oleh siswa-siswi dari Hajj Bahaa School di Saida, Lebanon dan dari tim tari Kamel Youssef Jaber Cultural Center, Nabatieh, Lebanon.

Dabke, Tari Tradisional Lebanon

Dabke, Tari Tradisional Lebanon

Pembukaan tersebut dihadiri pula oleh Duta Besar dari negara-negara peserta konferensi termasuk Indonesia, yaitu Dubes Indonesia untuk Lebanon, Bapak Abdullah Syarwani. Beliau menyatakan kegembiraannya atas kedatangan kami mewakili Indonesia dalam konferensi ini Beliau juga mengundang kami untuk singgah sebentar di kantor Kedubes Indonesia di Baabda Hill, timur kota Beirut.

Aku, Pak Abdullah Syarwani (Dubes), Bu Hasnah, Pak Ano

Aku, Pak Abdullah Syarwani (Dubes), Bu Hasnah, Pak Ano

Bersama siswa ACS

Bersama siswa ACS

Di hari pertama konferensi, pada sesi 1 aku masuk ke dalam diskusi “IEARN makin a positive change in developing the educational process in Egypt” yang dipresentasikan oleh rekan-rekan iEARN Mesir yaitu Hamdy, Hazem, dan Zaki. Dalam diskusi itu diterangkan manfaat iEARN dalam peningkatan proses pembelajaran siswa di kelas di sekolah Mesir, ditampilkan pula testimonial dari para murid, guru, dan orang tua. Rupanya aku adalah satu-satunya peserta yang bukan dari negara Arab, peserta lainnya dari negara Arab semua, sehingga ketika si presenter agak kesulitan dalam berbahasa Inggris, dengan enaknya dia memakai bahasa Arab dan berdebat dengan bahasa Arab. Wah curang.

Tiba saatnya makan siang, seluruh peserta diajak ke sebuah restoran lokal yang bernama Socrate, disana kami disuguhi makanan ala Lebanon, nasi kebuli lengkap dengan daging kambingnya. Kami berbaur dengan peserta dari negara lain untuk lebih mengakrabkan diri. Aku berusaha makan sesuai dengan tata krama makan.

Socrate Restaurant

Socrate Restaurant

Makan bareng Guru dari Mesir

Makan bareng Guru dari Mesir

Pada sesi 2, aku masuk ke dalam diskusi “Teaching values through Physics” yang dipresentasikan oleh saudara Suparno dari SMA Labschool Rawamangun Jakarta. Diskusi ini menampilkan bagaimanan mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui pelajaran fisika di kelas.

Sesi berikutnya aku masuk ke dalam diskusi “Making pedagogical websites work: Objectives and Implementation” yang dipresentasikan oleh Mohamed dari Maroko. Diskusi ini mengenai cara membuat website (non teknis) dan ditampilkan website karya murid dari India.

Untuk sesi terakhir, aku masuk ke diskusi “Teddy Bears, simple ideas creating major impacts, a Malaysian success story” yang dipresentasikan oleh Abdul Hamid dan Zaid Isa dari Malaysia yang mendiskusikan bahwa boneka Teddy Bear dapat membantu siswa dalam bertukar ide dan belajar budaya daerah atau negara lain.

Seusai konferensi di hari pertama, kami diajak panitia untuk makan malam di Al Bandar yang terletak di barisan bukit dekat kota Tripoli, Lebanon. Membutuhkan satu jam perjalanan untuk mencapainya. Disuguhkan makanan khas Lebanon yang aku gak kenal baik aroma dan rasanya. Ada makanan yang mirip dengan kroket, aku pikir pasti enak dan isi daging, maka aku santap tapi ternyata isinya sayuran yang pahit. Ga jadi makan deh. Hidangan yang kukenal dan kusantap adalah sayap ayam dan kentang goreng. Nasi? Mana ada, aku sudah kangen dengan nasi. Ada yang cukup menghibur yaitu suasana malam pegunungan yang indah dapat aku rasakan.

Makan Malam di Bandar

Makan Malam di Al Bandar

Masih di dekat Al Bandar

Masih di dekat Al Bandar

Hari berikutnya hari Minggu tanggal 10 Juli 2005, seluruh peserta bepergian ke Lembah Beka tempat peninggalan kota kuno yang bernama Aanjar yaitu peninggalan kerajaan islam di Lebanon serta bukit Baalbek tempat dimana peninggalan kerajaan romawi yaitu kuil romawi. Di sana ada penjual kerajinan perak, aku membelikan oleh-oleh untuk istriku berupa gelang perak seharga U$D 20. Sepanjang perjalanan kami menemui banyak pos penjagaan yang dijaga dengan ketat oleh pasukan Lebanon, karena sebelumnya pasukan Israel menarik diri dari Lebanon. Kuil peninggalan romawi tersebut berada di atas bukit, yang tersusun atas batu-batuan yang tinggi, besar dan berat sekali. Kuil ini termasuk warisan dunia yang diakui oleh UNESCO.

Reruntuhan Masjid di Kota Aanjar

Reruntuhan Masjid di Kota Aanjar

Monumen Perang di Bukit Baabda

Monumen Perang di Bukit Baabda

The Day Out, Kuil Romawi

The Day Out, Kuil Romawi

Masih di Kuil

Masih di Kuil

di depan pilar Kuil Romawi

di depan pilar Kuil Romawi

Konferensi di hari berikutnya tanggal 11 Juli 2005, pada sesi 1 aku masuk ke diskusi “Free open source software, a new look” yang dipresentasikan oleh Paul Metni dari Lebanon, membahas tentang alternatif penggunaan operating system selain windows yaitu menggunakan Linux.

Pada sesi 2, kami dijemput oleh Bapak Rahman, staf dari Kedutaan Besar RI untuk Lebanon untuk bertemu dengan Bapak Abdullah Syarwani, Duta Besar Indonesia untuk Lebanon. Perlu 30 menit dari tempat konferensi menuju Kedubes RI yang terletak di bukit Baabda. Kami disambut oleh Bapak Abdullah Syarwani dan dijamu dengan masakan Indonesia ala Lebanon. Kami juga dipresentasikan mengenai profil Kedubes RI. Sebelum berpamitan pulang, Bapak Abdullah Syarwani secara khusus menitipkan salam kepada Bapak Bustanil Arifin melalui aku, karena sesama aktivis di Dewan Nasional sebagaimana kata Bapak Abdullah Syarwani dan Alhamdulillah sudah aku sampaikan kepada Bapak Bustanil Arifin secara langsung.

Malam harinya diadakan malam kesenian, dari Indonesia, aku sangat lupa kalau pernah diberitahu oleh Bu Hasnah untuk mempersiapkan kesenian tradisional Indonesia. Coba kalau aku ingat pasti akan kubawa pakaian silatku dan senjata kipasku. Aku juga ga bawa batik lagi, akhirnya aku pinjam Pak Ano dan akhirnya kami menampilkan batik dan olah raga tradisional asli Indonesia yaitu Pencak Silat Minangkabau. Aku melakukan teknik Minangkabau dihadapan para peserta dan tanpa diduga aku mendapat applaus yang sangat meriah dari para peserta, karena kebanyakan peserta tidak menduga bahwa ada olah raga beladiri tradisional yang menarik dari Indonesia.

Aku memeragakan teknik Minangkabau

Aku memeragakan teknik Minangkabau

Konferensi di hari terakhir yaitu pada tanggal 12 Juli 2005 pada sesi 3, aku mendapat kesempatan untuk mempresentasikan “Sampah itu Seribu Rupa” yang merupakan hasil karya siswa SMA Al Izhar (karya KOMPILASI: Puti dkk, serta karya anak kelas X) mengenai produk daur ulang. Sebenarnya aku grogi karena baru kali ini tampil di depan peserta Internasional, belum lagi bahasa Inggrisku masih potal patel, dan aku berterus terang ke seseorang guru dari Nepal, dan dia menjawab dalam bahasa Inggris Aku mendapat masukkan dari para peserta diskusi yaitu memasukkan siswa ke dalam Youth Forum iEARN Internasional, dan aku menyadari bahwa ternyata masalah sampah itu tidak saja dihadapi oleh Indonesia, namun di negara peserta lain juga menjadi permasalahan utama, seperti yang diungkapkan peserta dari negara Nepal dan Lebanon.

Saat Presentasi

Saat Presentasi

Karya Siswa SMA Islam Al Izhar

Karya Siswa SMA Islam Al Izhar

Presentasi

Presentasi

Setelah presentasi bersama guru Lebanon

Setelah presentasi bersama guru Lebanon

Karena pesawat kami menuju tanah air berangkat pada sore harinya, maka setelah presentasi aku, kami segera meminta ijin kepada panitia untuk pulang lebih awal dan melewatkan farewell party. Dibantu oleh Bapak Rahman, staf dari Kedubes RI untuk Lebanon, kami mendapatkan kemudahan dalam proses keimigrasian di bandara (mulai dari mengisi form apalah pokoknya berbahasa arab, sampai lolos dari penggeledahan barang bawaan). Dan dengan membawa pengalaman baru dan kenangan yang tak terlupakan kami pulang menuju tanah air menggunakan pesawat Emirates transit via Dubai.

Ada pengalaman lucu di Dubai, aku bertemu dengan orang Malaysia, rupanya dia baru menyelesaikan studi S3 nya di Glasgow dan sekarang kembali ke Malaysia. Kami ngobrol sebentar dan dia bertanya kepadaku apakah saya pusing-pusing di Beirut? Aku jawab aku sehat-sehat saja. Dia malah bingung dan Pak Ano temanku menjelaskan bahwa pusing-pusing itu adalah jalan-jalan, baru aku ngeh. Dan kami tertawa tergelak-gelak.

Manfaat dari kegiatan ini:

  1. Aku mendapatkan pengalaman berharga dalam beradaptasi dengan kebiasaan lokal dari Lebanon serta beradaptasi dengan peserta dari negara lain.
  2. Aku menemukan bahwa keramah tamahan dan saling menghargai diperlukan dalam membina hubungan jangka panjang yang baik
  3. Aku dapat bertemu dengan rekan-rekan guru dari negara lain.
  4. Aku sadar bahwa permasalah yang dihadapi oleh umat manusia dari negara manapun adalah sama yaitu perdamaian, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pangan.
  5. Nama SMA Al Izhar Pondok Labu berkibar di dunia Internasional karena mewakili nama Indonesia dalam konferensi ini.

Kendala dari kegiatan ini:

Karena terbatasnya waktu untuk mengikuti konferensi maka proses adaptasi dipercepat, dan kesempatan untuk melakukan observasi menjadi terbatas.

Yang sebaiknya harus dilakukan:

iEARN ini merupakan komunitas pendidikan dan sumber daya internasional. Murid dan guru dapat memperoleh sumber daya (resource) dari rekan-rekan murid atau guru yang tergabung di iEARN. Salah satu pendidikan modern adalah komunikasi, kerjasama, dan problem solving. Dengan adanya collaboration project dari iEARN, murid dan guru dapat meningkatkan kemampuan komunikasi, kerjasama, dan problem solving baik murid dan guru. Namun tanpa pengetahuan yang memadai tentang iEARN, maka murid dan guru akan mengalami kesulitan dalam melakukan collaboration project. Jadi menurut aku, yang harus dilakukan adalah Al Izhar mengadakan workshop tentang iEARN karena sampai saat ini hanya 3 orang saja dari Al Izhar yang pernah dilatih iEARN.

Saat ini aku juga telah menjadi fasilitator aktif dalam setiap workshop yang diselenggarakan oleh iEARN Indonesia Saat ini iEARN Indonesia telah beranggotakan lebih dari 40 sekolah dengan taraf sangat baik dan beranggotakan lebih dari 500 guru dan murid. Jika Al Izhar memanfaatkan peluang ini, maka jaringan kerjasama antar sekolah (via collaboration project antara murid) yang dapat dikembangkan oleh Al Izhar semakin bertambah Selain itu iEARN dapat meningkatkan wawasan para murid dan guru, sehingga meskipun tubuh berada di Al Izhar namun pikiran bisa go-internasional.

Advertisements
Categories: Kisah | Tags: , , | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “The 3rd iEARN (International Education and Resource Network) REGIONAL BRIDGE (Building Respect and Dialogue through Global Education)

  1. Thanks ri’ buat tulisan ini.

    tulisanmu bener bener ngingetin aku waktu di Beirut ri’ …

    that’s the first time I held my international presentation

  2. Andi

    pak, pengalaman bapak sgt mengesankan setelah saya baca artikel bapak. semoga lebanon menjadi
    negara yg tdk pernah terlupakan yg bapak kunjungi.

  3. edi sutarto

    Pak Hari…. ingat kalimatku dulu? “Jadilah guru yang bukan biasa-biasa saja, maka peluang akan berkelebat untuk kita tangkap.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: