Berobat di Puskesmas

Dari lusa kemarin aku sakit, makanya kemarin aku berobat. Nah biasanya aku berobat ke dokter di klinik dekat rumah, namun entah kenapa aku ungin berobat ke puskesmas. Ini yang kedua kalinya aku ke puskesmas, yang pertama ketika aku mengurus surat keterangan sehat untuk mengurus adminisitrasi pendaftaran masuk fakultas kedokteran di Universitas Hang Tuah Surabaya (tapi gak jadi aku masuk meski diterima). Nah biasanya kalo praktik dokter dipenuhi oleh pasien berarti dokter ini ilmunya canggih atau pintar karena banyak pasien yang cocok berobat disana, demikian pula dengan Puskesmas Cimanggis yang terletak di Jalan Raya Bogor Km 33 ini, sangat banyak pasien yang berkunjung. Jam buka loket pendaftaran dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Fasilitas Gedung dan Ruang Perawatannya tampak baru dibangun tidak lama. Ada mobil ambulans baru yang siap sedia mengangkut pasien. Secara fisik puskesmas ini oke banget. Tapi belum tentu orang yang di dalamnya bukan? Mari kita lanjutkan (Hari…Hari meskipun sakit masih nyari cerita aja. Yup, karena tiap hariku adalah cerita yang luar biasa)

Puskesmas Cimanggis

Puskesmas Cimanggis

Mobil Ambulans Baru

Mobil Ambulans Baru

Ruang Rawat Inap Anak

Ruang Rawat Inap Anak

Hal pertama yang harus kulakukan adalah mengantri di loket pendaftaran sebagai pasien baru. Wow, jika antrian pasien baru di loket pendaftaran sepanjang kurang lebih 3 meter, maka antrian pasien lama lebih panjang lagi. Satu orang membutuhkan sekitar 1 menit untuk mendaftar, kalau tidak salah ada sekitar 7 orang di depanku berarti lama mengantri sekitar 7-8 menit untuk antrian pasien baru yang belum pernah mendaftar. Sedangkan di antrian pasien lama sekitar 20 orang yang mengantri artinya bisa mencapai 15-20 menit. Di kaca loket terdapat tulisan “Pasien harus antri”. Kini aku tahu kenapa pasien dinamakan pasien. Berasal dari kata “patient” yaitu sabar, ternyata tidak harus sabar menghadapi penyakitnya tapi harus sabar pula mengantri.

Antri di Loket Pendaftaran

Antri di Loket Pendaftaran

Tibalah giliranku untuk mendaftar, hanya menyebutkan nama, umur, alamat, RT/RW, Kelurahan aku mendapatkan kartu berobat, tanda bukti pendaftaran seharga Rp 2.000 (dua ribu saja dan ini nyata lho, biaya pengobatan cuma 2ribu), dan nomor antrian yang ke-80 (wow pasti bakal lama neh). Lalu aku bertanya harus kemana setelah melakukan pendaftaran. Aku diminta menunggu di depan ruang enam yaitu ruang dokter umum.

Tanda Bukti Pembayaran dan No Antrian

Tanda Bukti Pembayaran dan No Antrian 80

Dan ketika aku sampai disana, wow banyak sekali orang yang mengantri. Sedikit aku mewawancarai beberapa pasien (padahal aku juga pasien) mengenai apakah ada pembayaran lagi selain di loket pendaftaran, ternyata tidak ada lagi yang harus dikeluarkan untuk membayar obat, kecuali kalau meminta surat keterangan sakit harus membayar Rp 2.000 lagi di loket pendaftaran.

Antrian di Poli Umum

Antrian di Poli Umum

Wow ternyata program kesehatan murah untuk masyarakat benar-benar dijalankan oleh pemerintah kota Depok. Hebat…hebat…hebat. Salut…salut. Tapi tak ada gading yang tak retak. Murah sih murah, meski gedungnya baru, ruangannya baru tapi kok gak nyaman sekali, mungkin kebanyakan orang yang berdiri, rupanya penyebabnya adalah kursi untuk pasien sangat kurang. Apalagi biasanya orang yang sakit itu kan sangat sensitif, agak rame dikit jadi pusing, makanan enak dibilang ga enak. Udah sakit gak ada kursi untuk duduk, udah sakit malah disuruh antri lama berjam-jam (tapi gimana lagi emang wajib antri masak dirusuh nyerobot).

Dan yang bikin antrian makin banyak adalah hanya ada 1 dokter umum saja yang stand-by. Padahal ada sekitar 150 pasien yang harus dilayani dalam kurun waktu 5 jam.Artinya 1 pasien membutuhkan 2 menit pelayanan si dokter. Dan itu benar terjadi setelah aku pasang stopwatch untuk menghitung berapa lama seorang pasien dilayani. Ada yang 3 menit itu kalo pasien banyak tanya, dan ada yang 1 menit karena cuma control saja. Rata-rata sih 1-2 menit. Pertanyaannya adalah cukupkah 2 menit itu untuk mendiagnosis penyakit si pasien dan sempatkah si pasien berkonsultasi, jawabannya aku rasa tidak. Jika ada konsultasipun maka itu dipercepat dan seadanya.

Aduh gimana ya melihat situasi seperti itu, bukankah pasien layak mendapatkan penjelasan atas penyakit yang di deritanya atau setidaknya ada konsultasi ringan. Apa karena murahnya biaya yang cuma membayar Rp 2.000 saja. Harusnya ruang dokter diperbanyak, tenaga dokternya juga diperbanyak. Minimal ada 4 orang dokter umum lah. Mungkin manajemen puskesmas ini perlu main Theme Hospital kali ya. :D.

Theme Hospital adalah game simulasi yang mengatur rumah sakit, seberapa banyak tenaga medis yang dibutuhkan, seberapa banyak birokrasi, ruang medis, lab, dsb sampai mengatur keuangannya. Terus terang kalo seumpama ini ada di theme hospital maka puskesmas ini ratingnya sangat rendah sekali dan kepuasan konsumen juga ikut rendah.

Ruang Periksa

Ruang Periksa

Mungkin bagi para muridku yang kelak akan menjadi pemimpin daerah atau pemimpin nasional, pengobatan murah, pendidikan murah saja tidaklah cukup. Yang baik menurutku adalah pengobatan yang beradab. Beradab secara ekonomi yaitu murah dan terjangkau, beradab secara kemanusiaan yaitu untuk pasien, antrian dipangkas dengan menambah pelayanan, untuk tenaga kesehatan dan administrasinya, perlu ditingkatkan kesejahteraannya sehingga mereka bekerja dengan professional, jadi pasien diberi penjelasan, diberi kesempatan untuk berkonsultasi,fasilitas diperbagus agar suasana nyaman menjadi muncul dan yang terakhir adalah beradab secara admnistrasi yaitu memberi kemudahan berupa teknologi, jaman sekarang komputer sudah murah dan mudah dipelajari, setidaknya ada di loket untuk membantu pekerjaan mereka. Atau saranku adalah lebih sering inspeksi mendadak ke instansi yang kalian pimpin, biar kalian mengetahui semuanya terjadi apa adanya, biasanya kalo ada pejabat yang datang, semuanya akan menjadi lebih baik, padahal tidak. Aku pikir pegawai disana tidak pernah berlibur atau santai kali ya, karena seperti robot jarang sekali ditemukan adanya senyum. Tegang.

Beginilah Keadaanya

Beginilah Keadaannya

Terus ada pasien yang dimarahi dokter karena tidak rajin kontrol. Gak tau alasannya apa tapi yang jelas aku dengar karena si pasien ini telat kontrol. Yah itu sih salah si pasien. Tapi kalo dilihat dari situasi dan kondisi di atas, buat kontrol ketemu dokter 2 menit aja harus antri 2 jam. Lha kalo dia harus bekerja gimana? Kebanyakan gak masuk kerja bikin gaji dipotong atau mempengaruhi kinerja dan prestasinya.

Nah berikutnya aku yang diperiksa. Baru saja aku ngasih tahu keluhanku, tidak ditanya dulu detilnya atau apa gitu tiba-tiba dokter melakukan prosedur berikutnya yaitu cek darah. Aku rasa dokter sudah benar karena melakukan prosedur tapi masih belum baik karena belum ramah terhadap pasien. Tahu-tahu periksa darah di ruang 9. Baru saja duduk di kursi belum 5 detik, begitu cerita keluhan langsung di suruh cek darah. Wokeh deh…as your wish sir, aku langsung pergi ke laboratorium ruang 9 sambil tanya-tanya ke petugas puskesmas lebih terdahulu untuk tahu dimana tempatnya.

Di ruang 9, sudah ada beberapa orang yang mengantri untuk dicek darahnya. Terlihat stafnya handal dalam mengambil darah dan menganalisis sample darah dan urine. Laboratoriumnya terdapat blood analyzer, mikroskop, shaker, alat pendingin, dan berbagai tabung reaksi. Disini aku membayar biaya pemeriksaan darah sebesar Rp 10.000. Murah sih, cuma tanpa ada bukti pembayaran. Tapi tetap dicatat pembayaran tersebut di sebuah buku catatan transaksi.

Laboratorium Puskesmas

Laboratorium Puskesmas

Petugas sedang analisa sample

Petugas sedang analisa sample

Aku diambil darahku untuk di analisa, dan ternyata hasilnya baru bisa diambil besoknya. Wah, kok malah lama ya? Kalo besok ngambil hasil darah berarti aku gak masuk kerja lagi, sayang banget waktu yang berharga terbuang, padahal kalau praktik dokter umum yang di klinik lebih cepat hasilnya dan hari itu pula diketahui sebab penyakit dan segera diberi obat. Seolah-olah nunggu dulu hasil darah baru besok diobati. Lah kalo penyakitnya parah bagaimana nih. Masak nunggu hasil darah besoknya? Aku makin gak ngerti. Mungkin secara prosedur sudah benar tapi menurutku itu kelamaan, sakitnya sekarang dan butuh diobati sekarang kenapa nunggu besok. Menurut pengalamanku, periksa darah tidak selama itu, apalagi nunggu sampai besok. Entah banyak pasiennya atau kemampuan alatnya?

Ya sudahlah akhirnya aku putuskan untuk berobat ke dokter di klinik seperti biasanya aku memeriksakan diri di kala aku sakit. Aku datang, aku dipersilahkan masuk, dokter menyapa, dokter bertanya, aku menyampaikan yang kurasa, dokter mendengarkan dengan seksama dan empati, dokter memeriksa, dokter mendiagnosis, dokter menasehati, dokter menulis resep, dokter menulis surat keterangan sakit, aku ke tempat obat, aku dapat obat, aku ke kasir dan bayar deh. Memang harganya 40 kali lipat dari harga puskesmas tapi sangat praktis, hemat waktu dan prosedural serta tidak birokratis. Hanya butuh waktu 20 menit saja. Aku pulang, aku istirahat, besoknya sudah bertekad masuk kerja. Bandingkan dengan yang di Puskesmas, kalo seperti itu kapan istirahatnya, bukankah orang sakit butuh kenyamanan, butuh istirahat. Bukan butuh antrian, bukan lama untuk dilakukan diagnosis. Hanya butuh obat dan istirahat.

Mungkin ada yang akan berkomentar, bayarnya aja 2 ribu, apa yang bisa kau harapkan, masih untung pemerintah ngasih pengobatan murah. Ya gimana ya setahuku rakyat sudah bayar pajak banyak, tapi kenapa kok fasilitas umum dan pelayanannya seperti itu. Satu-satunya alasan rakyat pergi ke puskesmas mungkin adalah dapat sembuh dengan harga yang terjangkau. Bisa jadi mereka sudah tidak peduli dengan bagaimana pelayanan dokter, birokrasi, atau kenyamanan. Pokoknya mereka sembuh dari sakit. Aku berharap pelayanan kesehatan untuk rakyat kecil semakin diperbaiki. Aku yakin masih banyak dokter yang mau mengabdi dengan tulus, mau melayani pasien dengan hati dan empati, mau bersabar untuk pasiennya. Bukankah dulu mereka disumpah menjadi dokter untuk menolong manusia?.

Saranku untuk pemimpin di sana adalah sering-sering melakukan sidak atau sekali-kali menyamar jadi pasien sehingga bisa merasakan perasaan rakyat kecil. Secara infrastruktur sudah bagus sekali, bangunan baru, mobil ambulans baru, ruang perawatan oke, fasilitas juga oke, tinggal pelayanannya saja yang perlu diperbaiki, rekrut tenaga medis lebih banyak sehingga antrian berkurang. Rakyat sakit butuh diobati bukan malah disuruh antri, antri sih boleh aja karena ada hak orang yang lebih dulu datang dan sekaligus melatih disiplin serta kesabaran. Cuma ini antrinya kepanjangan. Terlalu banyak. Atau bangun puskesmas baru di tiap kelurahan sehingga pasien tidak numpuk di satu puskesmas kecamatan. Tingkatkan pula kesejahteraan tenaga medis dan administrasi disana, adakan pelatihan tentang motivasi bekerja, bisa ESQ, Mario Teguh, outbond atau yang lain juga bisa, memang mahal tapi investasi kan. Pemimpin mana yang ngga senang kalo bawahannya bekerja dengan hati dan motivasi yang tinggi tidak peduli tuntutannya. Kemudian sering adakan refreshing atau liburan bersama biar bisa senyum. Memang mahal ya, tapi kalo rakyat sehat, roda perekonomian jadi jalan lancar, coba kalo rakyat sakit-sakitan, pendidikan gak jalan, pekerjaan banyak yang terlantar.

Categories: Kisah | Tags: , , | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “Berobat di Puskesmas

  1. dita

    cepet sembuh ya pak !

  2. Cerita panjang asik
    Salam

  3. azmi

    ya begitulah realitanya, tapi asal sudah ada proses menuju perbaikan pelayanan publik cukuplah. kita tunggu!

  4. pipit

    sip…critanya oke…
    ngasih banyak gambaran tentang puskesmas,,,(hehe,,,aku gak pernah berobat ke puskesmas)

    tul banget,,,pelayanan yang (menurutku) kurang tulus,,bukan kompensasi dari harga yang murah kan??

  5. zulqarnain saleh

    klo bisa sich puskesmas sekarang tuh bikan cuma fasilitasnya aja yang berkembang, tapi SDMnya juga harus diperhatikan.

  6. tie

    coba sesekali ngerasain gimana rasanya jadi petugas di Puskesmas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: