Melawan Kemalasan

“Har, mana tugasnya kok belum dikumpulkan, sudah lewat dari deadline nih? Kamu sudah tahu konsekuensinya kan?”

“Sudah tahu pak, besok aja ya pak!”

Demikian dialog singkat guru kepada muridnya di suatu kelas. Si guru sedang menagih tugas yang belum dikumpulkan kepada seorang murid. Dan hal itu berulang-ulang tiap harinya. Apa sebabnya?

Tantangan terbesar anak-anak jaman sekarang adalah kemalasan. Kemalasan ini biasanya dimiliki oleh anak yang memiliki zona kenyamanan yang besar, sehingga cenderung untuk menggampangkan segala urusan dan bahwa semua dapat dikerjakan nanti-nanti. Kemalasan biasanya juga diikuti dengan kebiasan lisan yaitu kebiasaan ngobrol yang ngalor ngidul tak jelas apa yang diobrolkan. Jarang sekali penulis menemukan kemalasan diikuti dengan kebiasaan tulisan dengan membaca buku. Jika adapun itu juga kebanyakan membaca komik. Sesungguhnya kemalasan itu tidak ada manfaatnya.

Penulis pernah mengedarkan angket kepada murid di satu kelas dan hampir seluruh murid menyatakan bahwa kemalasan adalah rintangan diri terbesar untuk belajar dan berkembang. Sebenarnya mereka sudah mengetahui bahwa kemalasan itu tidak baik dan merugikan, namun mereka seperti tidak berdaya melawannya, walaupun sebenarnya mereka itu memiliki daya.Berbicara tentang kemalasan, sebenarnya bukan berbicara tentang kurangnya pengetahuan. Orang malas mengetahui tentang apa yang harus dia lakukan, tetapi dia tetap tidak melakukan hal yang semestinya dilakukan, entah itu karena enggan atau malas itu tadi. Sesungguhnya kerugian yang timbul akibat kemalasan pun bukan main-main. Jadi melawan kemalasan itu bagai melawan diri sendiri

Bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki zona kenyamanan, mereka sudah dihimpit dengan segala kesulitan hidup, mulai dari biaya hidup, sambil bekerja, sampai ke biaya sekolah, apakah mereka memiliki kemalasan?. Sebagian besear mereka akan berjuang habis-habisan untuk menggapai impian mereka. Tidak ada alasan malas dalam usaha penggapaian impian mereka. Jika ditelusuri di media massa, banyak sekali artikel atau liputan yang membahas anak-anak di daerah yang menggunakan sepeda, sampan dan bahkan berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk datang ke sekolah yang apa adanya, tiada fasilitas stadion, teater kecil, gedung serbaguna dan bahkan perpustakaan sekalipun.

berusaha ke sekolah dengan sampan (courtesy of kompas.com)

berusaha ke sekolah dengan sampan (courtesy of kompas.com)

Satu lagi alasan anak-anak yang bermalas-malasan adalah belajar ini itu susah jadi bikin malas. Yah sudah sewajarnya, jika level pendidikan meningkat, maka level kesulitannya juga ikut meningkat. Bukankah itu makna hidup, hidup bagaikan roda. Diawali dari bawah kemudian merangkak naik, kemudian jika sudah di atas maka harus kembali ke bawah untuk merangkak lagi menuju naik. Seperti roda yang menaiki bukit. Artinya meskipun kembali ke bawah tapi levelnya lebih atas dibandingkan level sebelumnya. Jangan seperti roda yang menuruni bukit, levelnya juga menurun.

Seperti hukum biologi sel yaitu transport aktif pada membran sel, untuk dapat melawan perbedaan konsentrasi yaitu bergerak dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi maka membutuhkan energi. Energi yang penulis maksudkan adalah usaha kita untuk memperbaiki tingkat kita, dengan belajar giat, bekerja cerdas dan keras, dengan cara yang halal sehingga dapat mencapai yang kita inginkan.

Meminjam analogi dari Bapak Tato Hendarto, guru Fisika yang kini mendapat giliran menjadi Kepala SMA Al Izhar, seperti juga hukum fisika mengenai momentum, pada awalnya butuh energi yang tinggi untuk menggerakan roda, tapi begitu roda itu bergerak dan kita menjaga roda itu tetap bergerak agar tidak ada satupun yang mengalangi maka roda itu akan tetap bergerak dan bisa jadi roda itu akan makin cepat melesat ke atas.

Bagaimana membangkitkan energi itu? Kita perlu memotivasi diri kita, dapat dengan melihat lebih dekat kehidupan dan belajar dari orang-orang yang tetap mau berusaha maju atau naik meski dihimpit berbagai persoalan hidup, sehingga kita bisa bersyukur atas karunia yang diberikan kepada kita dan kita semakin termotivasi. Banyak sekali orang sukses yang diawali dari hidup yang serba sulit, Jika mereka yang sukses itu bisa, kenapa tidak kita bisa yang sudah diangurahi berbagai kelebihan, harusnya kita lebih sukses lagi. Namun banyak pula orang yang gagal karena malas dan terbuai dengan segala kemudahan dan kenyamanan hidup yang mereka miliki. Ah ortu gue kaya ini, ah bokap gue banyak asset ini, ngapain gue susah-susah belajar atau berusaha. Sangat disayangkan sekali sampai ada pemikiran seperti itu.

Kita juga perlu bersabar dalam menjaga impian dan langkah kita, karena jalan menuju puncak itu tidaklah mulus, banyak sekali batu terjal yang menghalangi jalan kita, banyak cobaan yang berusaha menghabisi impian kita, namun batu terjal dan cobaan itu harusnya dapat membuat kita menjadi lebih baik lagi dalam berusaha. Kegagalan bukan berarti sebuah kehinaan dan kehancuran, namun kegagalan itu sebuah keberhasilan yang masih tertunda. Andaikata Thomas Edison malas atau berhenti melakukan percobaan yang ke 100 nya.

Mumpung kita masih muda dan masih banyak memiliki waktu maka marilah kita gunakan energi dan waktu kita untuk lebih cepat sampai ke puncak karena masih ada puncak-puncak lain yang dapat didaki. Bagaimana kita jika sudah berada di atas puncak? Bagaimana sikap kita? Seperti pepatah yang mengatakan di atas langit masih ada langit. Jadi tidak sepantasnya kita menjadi sombong dan bukan berarti kita menjadi malas. Tugas kita adalah rajin membimbing roda-roda lain yang masih dibawah kita untuk berhasil menggapai puncak dan puncak lain yang lebih tinggi. Dan jika sudah selesai waktunya sudah menjadi kewajiban kita untuk meninggalkan puncak itu agar puncak kita tadi dapat diisi oleh roda-roda yang lain dan kita juga dapat mencari puncak yang lebih tinggi lagi.

Advertisements
Categories: Curhat | Tags: | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Melawan Kemalasan

  1. fatur

    artikelnya bagus mas……..kalo bisa ditambah masalah yang lain y……….

  2. sugito martodiwiryo

    wah bagus banget mas, hebat analoginya

  3. Pingback: Kemalasan, si “Pembunuh” Karakter « BPAS Forester

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: