Arogansi

Arogansi artinya kesombongan, keangkuhan atau kecongkakan.

Segala bentuk keberhasilan kita di bidang apapun akan memberikan dampak. Dampak positifnya yaitu “kebanggaan diri” yang menjadikan dia makin percaya diri. Dampak negatifnya yaitu arogansi, dialah yang “paling hebat”, orang lain “salah semua/gak ada apa-apanya”.

Nah apabila seseorang menjadikan profesinya sebagai tolok ukur keberhasilan maka dampak positifnya seseorang itu akan semakin percaya diri dalam menjalankan tugas-tugasnya dengan baik alias selalu memberikan yang terbaik. Tapi apabila seseorang tidak dapat mengendalikan dampak negatifnya maka seseorang itu cenderung merendahkan orang lain dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Ada lima faktor penyebab kesombongan.

  1. Harta (segala sesuatu yang berhubungan dengan kepemilikan)
  2. Jabatan (posisi)
  3. Usia (orang yang sudah tua merasa sudah banyak makan asam garam kehidupan)
  4. Fisik (orang cantik, ganteng)
  5. Pengetahuan (pintar, cerdas)

Semakin tinggi kita di setiap level di atas, misal semakin kaya, semakin tinggi jabatan, semakin tua, semakincantik/ gagah, dan semakin pintar maka perangkap kesombongan akan semakin kuat dan halus.

Kemarin aku mendapatkan pelajaran tentang ini. Seperti biasa aku berangkat pagi menggunakan motor, karena bensin di tangki sudah mau habis yah aku mampir dulu ke SPBU Pertamina. Kulihat ada 2 baris antrian motor yang agak panjang tapi itu hal yang wajar kan. Kita harus belajar antri, karena kelak di akhirat kita akan antri sangat panjang di persidangan.

Kemudian datanglah satu motor dua orang, nampaknya tidak mau antri dan mau segera mengisi bensin, padahal keadaan darurat juga tidak. Ternyata dua orang itu adalah “oknum” aparat penegak hukum yang bercelana coklat. Si pengemudi keluar dari barisan antrian dan menuju ke mesin pompa yang dikhususkan untuk mobil.

Yang dilingkari itu yang gak mau antri

Yang dilingkari itu yang gak mau antri

Entah apa yang ada di benak pikiran mereka, apakah mereka tidak sadar bahwa mereka harus memberikan contoh kepada masyarakat karena mereka aparat negara? Apakah cuma segitu saja tingkat kedisiplinan mereka? Siapakah yang memberi hak khusus kepada mereka? Aku cuma ingin lihat saja kelak di hari pengadilan terakhir apakah mereka bisa berbuat seperti itu. Harapanku sih sederhana saja, semoga mereka sadar dan berbuat yang lebih baik lagi.

Masyarakat mungkin tidak berani menegur karena takut tapi yang masyarakat dapat lakukan adalah mencibir saja dan yang paling parah adalah meniru mereka. Tak heran jika banyak kelakuan masyarakat kita ada saja yang arogan. Bisa jadi karena meniru mereka.

Tidak semua aparat seperti itu, hanya beberapa “oknum” saja, karena aku pernah mengenal petugas yang sopan dan disiplin serta tidak arogan, mereka menghargai sesamanya tanpa menjatuhkan kewibawaan mereka. Bahkan saking hormatnya aku kepada mereka, aku mendoakan mereka agar diberi kemudahan dalam bertugas dan karir yang melesat.

Bukan maksud untuk menghakimi siapapun, aku mendapatkan pelajaran hidup yang berharga, hidup cuma sekali maka jangan sombong, karena dapat merugikan diri dan menyakiti orang. Nauzubillah hi minzalik.

Advertisements
Categories: Kisah | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: