Cerita selama di Bali

Ini dia, ceritaku selama perjalanan dan kegiatan di Bali. Aku berangkat dari sekolah jam 9 pagi dan diantar Bang Johan sang ojek motor ke Pangkalan Bis Damri jurusan ke Bandara yang ada di depan SMA Negeri 6 Blok M. Ongkos ojek Rp 25.000 tapi karena koperku agak berat aku kasih tambahan Rp 5.000. Jam 9.30 aku sampai di pangkalan dan langsung naik bis. Masih belum banyak penumpang, namun tak lama kemudian bisa mulai terisi. Jam 9.50 bis berangkat dan sekitar 40 menit kemudian bis sampai di bandara, oh iya ongkos bisnya Rp 20.000. Aku turun dari bis jam 10.30 di Terminal 2 Pintu F karena pesawatku Garuda Indonesia yang sekumpulan dengan terminal untuk penerbangan Internasional. Yah perutku keroncongan nih, belum makan siang, aku makan ayam goreng saja yang ada di Bandara sambil menunggu datangnya rekan-rekan lain. Aku sudah janjian ketemuan dengan Bu Ira, guru SMA Labschool Rawamangun dan Pak Romlan, guru SMP Labschool Kebayoran jam 12 siang.

Aku dan Pak Romlan sedang menunggu

Aku dan Pak Romlan sedang menunggu

Dan benar saja sekitar jam 12 lewat, mereka akhirnya tiba dan sambil menunggu Bu Hasnah, koordinator UNESCO – ASPNet di Indonesia, tapi setelah berlama-lama menunggu kok beliaunya gak dateng-dateng, akhirnya Bu Ira menelpon beliau dan memberitahukan bahwa kami sudah menunggu di Pintu F4

Bu Hasnah kok gak datang-datang ya, akhirnya Bu Ira menelpon lagi, ternyata ada salah komunikasi, ternyata Bu Hasnah sudah ada di Gate F4 di dalam bandara, sedangkan kita masih di luar di gerbang luar F4 (sama-sama F4). Ya sudahlah yang penting sudah datang, akhirnya kami check in pada pukul 12.30 dan akhirnya bertemu di Gate F4.

Setelah menunggu di ruang tunggu Gate F4, rupanya ada pengumuman bahwa pesawat terlambat datang dari Manado sehingga di tunda keberangkatan kami selama 1 jam, alah terpaksa nunggu lagi :(.

Boarding Pass

Boarding Pass

Akhirnya setelah lama menunggu kami berangkat deh. Pesawat take off dengan sempurna dan kami terbang menuju Denpasar. Mumpung bawa kamera aku motret pemandangan di luar jendela ah karena Subhanallah, indah sekali.

Aerial View

Aerial View

Sekitar setengah jam setelah pesawat stabil mengudara, pramugari membagikan makanan siang, wah pas banget karena roti boy yang kubeli di bandara tadi belum cukup mengganjal perutku yang sudah keroncongan. Menunya sederhana sekali tapi cukup mengganjal perutku. Nasi dengan sayur dan daging ayam disertai krupuk Palembang dan ditutup dengan kue coklat. Mantap.

Makan siangku

Makan siangku

Yah selanjutnya sambil tertidur dan terbangun menunggu pesawat landing di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Aku juga sempat mengabadikan saat-saat pesawat touch down.

Sesaat akan mendarat

Sesaat akan mendarat

Touch down and brake

Touch down and brake

Tak lama kemudian, para penumpang dipersilahkan untuk keluar dari pesawat. Jadi ingat seperti iklan televisi, Bali..Bali..Bali. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WITA, sedangkan waktu di kamera menunjukkan 16.30 WIB.

Turun dari pesawat

Turun dari pesawat

Sesampainya di pintu keluar Bandara Ngurah Rai Denpasar, kami dijemput supir dari hotel yang akan kami inapi, nama hotelnya ternyata Honey Moon Guest House di Ubud. Wah kok jadi bulan madu nih dan ternyata Ubud itu memang merupakan tempat yang cocok dan banyak dikunjungi turis asing untuk bulan madu rupanya. Sekitar 1 jam menuju ke lokasi hotel dan hotelnya terletak di jalan Bisma, Ubud.

Sudah malam kami tiba di hotel, tinggal menyisakan lapar dan kantuk, kami disambut welcome drink berupa teh kembang sepatu (hibiscus tea), enak juga ternyata. Akhirnya aku dan Pak Romlan sekamar dan tak lama setelahnya datanglah 2 bungkus nasi padang yang dipesan dan diantar oleh petugas hotel. Yummy enak karena kelaparan.

Sambil makan ditemani dengan suasana malam yang sepi diiringi bunyi atau suara jangkerik, kodok, dan tokek yang saling bersahutan, alangkah alaminya suasana malam ini. Cocok untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Konsep hotelnya sederhana sekali, nyaman, hijau dipenuhi dengan banyak tanaman hias, serta patung-patung kerajinan khas Bali. Meskipun tidak ber AC namun hawanya cukup sejuk. Sayang sekali kamar mandinya ada jendela yang tak tertutup, yah untungnya kami tinggal di lantai 2 sehingga tidak ada yang bisa mengintip cuma kan gak biasa aja, mandi sambil nengok jendela yang kebuka di malam hari, rasanya gimana gitu.

Meskipun ngantuk tapi aku dan Pak Romlan mengobrol banyak hal malam itu. Sampai akhirnya pada jam 1 malam akhirnya kami benar-benar ngantuk dan harus berbagi kasur untuk kami berdua.

Esoknya aku dan Pak Romlan harus menemani rekan kami yaitu ibu-ibu untuk mencari sepatu, rupanya mereka lupa membawa sepatu yang nyaman untuk perjalanan selama di Green School nanti. Karena tak tahu dimana toko sepatu yang bagus maka kami menyewa mobil kijang yang cukup buat bereenam. Cukup membayar Rp 70.000 untuk 2 jam. Entah itu mahal atau murah yang penting ibu-ibu berhasil mendapatkan sepatu. Kami diantar ke pasar swalayan yang lumayan jauh jika kami harus berjalan kaki. Kemudian kami mampir di pasar tradisional Ubud, disana banyak dijual barang seni seperti patung, peralatan makan, dan berbagai macam.

Keluar dari hotel

Keluar dari hotel

Papan reklame di gerbang jalan Bisma

Papan reklame di gerbang jalan Bisma

Suasana di jalan utama Ubud

Suasana di jalan utama Ubud

Pasar Tradisional Ubud

Pasar Tradisional Ubud

Pasar Tradisional Ubud

Pasar Tradisional Ubud

Akhirnya kami balik ke hotel, sambil menunggu jemputan dari Green School pada jam 2, aku dan Pak Romlan memutuskan untuk membunuh waktu dengan berenang.

Berenang, backgroundnya kamar hotelku

Berenang, backgroundnya kamar hotelku

Setelah cukup lelah berenang, maka santai sebentar dan tak lupa kami sholat Dzuhur jama’ qashar dengan Ashar karena kami menduga akan tersita waktu karena kegiatan nanti.

Sedang santai di depan kamar

Sedang santai di depan kamar

Pemandangan kolam dari balkon kamar

Pemandangan kolam dari balkon kamar

Jam 1 kami makan siang bersama di Restoran Indus, agak jauh dari hotel namun pemilik restoran tersebut juga pemilik hotel yaitu Janet dan Kadek telah menyiapkan kendaraan untuk tamu hotel yang ingin bersantap di restoran mereka.

Sesampainya di restoran Indus, aku mengamati keindahan alam yang ada di tebing belakang. Sangat sayang jika tidak diabadikan.

Kami memesan makanan yang sama yaitu nasi campur namun dengan minuman yang berbeda-beda ada yang es teh manis, ada yang jus apukat, ada yang kelapa muda. Namun ada hidangan yang agak melempem yaitu krupuk beras. Sayang sekali, dan satu hal yang kuyakini yaitu pasti mahal harganya. Tapi aku bersyukur bukan tanggunganku untuk membayar makanan dan minuman yang aku pesan, sengaja aku pesan es teh manis untuk membantu agar tetap hemat tapi sia-sia rupanya, konon tiap orang ternyata menghabiskan Rp 100.000. Weleh mahal amat yah. Cocok buat turis mancanegara.

Keindahan alam di belakang restoran Indus

Keindahan alam di belakang restoran Indus

Tak lama makanan pun datang. Soal rasa sih tidak selezat makanan di kantin sekolah Al Izhar namun bisa untuk melepas lapar (lapar melulu dari tadi, iya karena tidak ada camilan), mantap juga sih karena lauk pauknya bervariasi, ada sate lili, ada daging ayam, ada tempe, ada tahu, ada kacang panjang dan kangkung serta sayur ayam. Nyam..nyam.

Nasi Campur Bali ala Indus

Nasi Campur Bali ala Indus

Makan siang bersama

Makan siang bersama

Hanya butuh 45 menit untuk bersantap di sana, kami buru-buru balik ke hotel karena khawatir jemputan dari Green School, tempat acara Global Citizen Summit berlangsung. Sesampainya ternyata kami sudah ditunggu oleh supir jemputan kami yang bernama Wayan Budi. Beliau mengantarkan kami ke lokasi acara yaitu di Green School. Perjalanan ditempuh selama 1 jam.

Di Green School, kami disambut oleh kepala sekolah Green School di kediamannya. Sangat menarik sekali, seluruh bangunan di lokasi itu terbuat dari bambu, mulai dari ubin, kamar tidur, kamar mandi, tangga, pokoknya semua dari bambu. Benar-benar sangat unik. Bahkan gelas welcome drink nya terbuat dari bambu dan sedotannya dari ruas sereh. Selain welcome drink kami juga diberi ID card, cuma sayang ada yang salah di ID card kami, kami bukan dari UNESCO, tapi dari sekolah masing-masing yang dikoordinasi oleh Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.

Gelas dari bambu, sedotan dari sereh

Gelas dari bambu, sedotan dari sereh

Kamar bambu

Kamar bambu

D

Lemari bambu Obama 😀

Rumah bambu

Rumah bambu

Kepala GS sedang menjamu tamu

Kepala GS sedang menjamu tamu

Tak lama kemudian tamu-tamu Global Citizen Summit pun berdatangan, walah, semuanya non pribumi, awalnya sih agak canggung memperkenalkan diri tapi kapan lagi nih praktik berbahasa inggris dan bisa dapat teman guru dari sekolah Internasional dari mancanegara. Akhirnya kupaksakan diri untuk mengenalkan diri dan berbicara bahasa Inggris seadanya. Setidaknya akhirnya aku mendapat banyak teman dan berhasil bertukar kartu nama dengan mereka. Aku berkenalan dengan Iona dari Washington DC, Muria dari International School of Bogor, Andrew dari China Int’l School, Guy dari Singapore Int’l School, dan banyak lagi sampai aku lupa nama mereka. Ada juga dari Jakarta Internasional School dan Bali International School. Mereka yang mengajar di Indonesia bisa berbahasa Indonesia.

Berusaha untuk berbaur

Berusaha untuk berbaur

Masih berusaha berbaur

Masih berusaha berbaur

Akhirnya ada juga orang pribumi, ternyata dari sekolah Cikal Jakarta. Aku lihat nama mereka di ID card mereka, disitu tercantum Najeela Shihab, wah administrator sekolah Cikal nih yang datang. Bodohnya aku pake nanya siapanya Najwa Shihab nya Metro TV yah jelas beliau ini kakaknya. Kami memanggil beliau dengan nama Mbak Ela atau Ibu Ela, yang sekarang jadi friend di Facebook. 🙂

Seelah ada sambutan dari Kepala GS akhirnya kami diajak berjalan berkeliling green school. Kami dibagi menjadi 2 tim jalan. Masing-masing tim akan berjalan dan menuruni dan menaiki bukit serta melewati licinnya jalan setapak dari batu vulkanik.

Jalan setapak yang basah

Jalan setapak yang basah

Berhasil turun dengan selamat

Berhasil turun dengan selamat

Kul Kul Campus = Kampus Bambu

Kul Kul Campus = Kampus Bambu

Aku menanyakan kepada guidenya, darimana mereka mendapat sumber tenaga. Beliau menjawab bahwa sementara ini masih menggunakan generator diesel untuk sumber tenaga listriknya namun mereka dalam waktu dekat ini akan mengaktifkan generator vortex mereka memanfaatkan aliran sungai yang melintasi kampus mereka. Wuih canggih banget canggih tapi alami gitu loh.

Vortex Generator

Vortex Generator

Nah karena tadi kita turun maka kita sekarang naik lagi aduh capek deh, kalo aku disini terus pasti langsing dan sehat deh, naik turun bukit sih.

Naik bukit, cape deh

Naik bukit, cape deh

Ternyata di belahan bukit lain ada bangunan sekolah tempat dimana kegiatan belajar mengajar berlangsung. Semua ruang kelas adalah ruang terbuka tidak ada tembok yang ada hanyalah atap dari bambu. Sangat menarik sekali yah, belajar tanpa ada pendingin ruangan, yang ada hanya semilir angin sejuk sepoi-sepoi, diiringi kicauan burung dan serangga. Cuma siswa disini mungkin harus pake lotion anti nyamuk dan siap payung atau jas hujan.

Ruangan kelas

Ruangan kelas

Bangunan kelas dari jauh

Bangunan kelas dari jauh

Pusat sekolah yang sedang dibangun

Pusat sekolah yang sedang dibangun

Maket bangunan bambu

Maket bangunan bambu

Pancang utama dari bambu Malang

Pancang utama dari bambu Malang

Akhirnya kami menuju ke gedung (lebih tepat dibilang bangunan) yang bernama Mepantigan (nama tersebut diambil dari nama bela diri tradisional Bali yang artinya bantingan). Rupanya bangunan dan areal disekitarnya memang dikhususkan untuk kegiatan besar seperti pertunjukan atau pertemuan karena dapat menampung banyak orang. Disana kami disambut dengan kalungan bunga (udah kaya turis atau pejabat nih) dan tak lama kami dihibur oleh penampilan siswa Green School yang membawakan tari Bali.

Dikalungi bunga

Dikalungi bunga

Dikalungi bunga

Dikalungi bunga

Tarian Bali oleh siswa Green School

Tarian Bali oleh siswa Green School

Tarian Bali oleh siswa Green School

Tarian Bali oleh siswa Green School

Seusai pertunjukan tali Bali, kami diminta keluar menuju ke pertunjukan mepantigan (seni bela diri tradisional Bali). Meriah sekali karena diiringi dengan bunyi-bunyian simbal, kenong, dan lain-lain. Intinya mempertunjukkan kekuatan dan keahlian sang jawara dalam menghadapi lawan-lawannya. Uniknya tempat pertunjukannya ada di tanag becek penuh lumpur dan genangan air, jadi ketika sang jawara membanting sang lawan secara otomatis cipratan air mengenai penonton yang berada di dekat situ.

Pertunjukan Mepantigan

Pertunjukan Mepantigan

Pertunjukan Mepantigan 2

Pertunjukan Mepantigan 2

Sang Jawara

Sang Jawara

Pertunjukan semburan api

Pertunjukan semburan api

Atraksi Mepantigan

Atraksi Mepantigan

Setelah disuguhi dengan pertunjukan yang menarik, akhirnya kami diajak ke “dapur” istilah mereka merujuk kantin tempat makan malam kami. Hari sudah gelap, namun remang-remang masih terlihat, untung ada petugas keamanan Green School yang selalu ada. Unik sekali dapur tersebut, pintu masuknya saja dibuat seperti terowongan, sayang aku tidak memotretnya karena cukup kelelahan. Kami makan malam disana dengan menu makanan Indonesia, tapi ada peserta dari luar negeri yang sangat khawatir dengan apa yang akan dimakannya, selama acara berlangsung, dia selalu bertanya kepada ku, makanan ini terbuat dari apa, apakah dari tanaman atau daging, karena dia seorang vegetarian. Acara dibuka dan dilanjutkan dengan presentasi dari Ben Wheeler, guru dari Seatle, US, dia menerangkan facing the future yaitu mengenai permasalahan global, seperti kemiskinan, polusi, pengangguran, kesehatan, kelaparan, dsb.

Makan malam di dapur Green School

Makan malam di dapur Green School

Presentasi Ben Wheeler

Presentasi Ben Wheeler

Peserta aktif di presentasi Ben

Peserta aktif di presentasi Ben

Sesi yang kedua juga tak kalah menariknya, dipandu oleh David Begbie, dari Crossroads Int’l. Dia memandu kami mensimulasikan permainan tentang kemiskinan. Dan betul, kami semua peserta dapat merasakan bagaimana hidup di tempat kumuh sekaligus merasakan ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum urban. Permianan simulasi ini diinspirasi dari perjuangan hidup sebuah keluarga di Bangladesh yang memiliki pekerjaan sebagai pembuat kantung kertas. Mereka dibayar murah, kami bisa saja dibayar lebih tergantung dari kepandaian kami merayu dan membuat kantung tersebut, sedangkan tuntutan hidup seperti kesehatan, pendidikan, makanan, sewa tempat sangat-sangat mahal, kami bekerja keras untuk membuat kertas namun tetap keluarga (kelompok) kami terpaksa harus pindah di bawah jembatan karena kelompok kami tak mampu membayar sewa rumah, namun keluarga kami masih mampu membiayai pendidikan. Untuk masalah kesehatan dan makanan, kami terpaksa meminta bantuan dari organisasi sosial (diperankan oleh seorang guru juga). Aku ditugasi sebagai penjual kertas ke toko-toko yang sudah ditunjuk, aku pontang-panting berlarian kesana kemari untuk menjual kantong kertas yang sudah dibuat oleh kelompok kami. Sayang sekali pembeli toko yang diujung sana sangat jahat, kualitas jelek, boro-boro dibeli dan dikasih uang malahan disobek, sehingga kelompok kami harus membuat lagi dan lagi, aku stress 2 kali dirobek. Akhirnya kami kehabisan kertas koran. Bahkan kelompok kami mencuri kertas koran (sebagai bahan baku kantong) dari kelompok lain. Pada awalnya kami tidak ketahuan tapi akhirnya kami didenda. Tapi di toko yang lain aku bisa menjual meski harganya murah tak apa-apa yang penting dapat duit, bayangkan untuk sepuluh kantong yang aku jual, aku hanya dapat 50-80 rupe, tergantung dari kepandaianku menjual dan merayu si pemilik toko, sedangkan kebutuhan hidup keluarga kami sekitar 500-700 rupe. Yang lebih parah ada kelompok yang menukarkan benda berharga miliknya dan anggota kelompoknya untuk mendapatkan uang dari pemilik toko kantong kertas. Nah semuanya itu mencerminkan bahwa kemiskinan membuat orang tak bisa berbuat banyak, yang dipikirkan hanya bagaimana cara mendapat uang, entah itu mencuri atau menjual anggota keluarganya (traficking), seusai simulasi banyak sekali sampah bececeran dan hal itu membuktikan bahwa kebersihan bukan merupakan prioritas bagi seseorang yang miskin, yang terpenting adalah bagaimana dia bisa hidup hari ini. Sangat menyentuh hati kami meskipun itu hanya sebuah permainan simulasi.

David Begbie menjelaskan prosedur simulasi

David Begbie menjelaskan prosedur simulasi

Kelompok kami

Kelompok kami / keluarga kami

Berjuang membuat kantong kertas

Berjuang membuat kantong kertas

Terus berjuang

Terus berjuang

Menjual kantong kertas

Menjual kantong kertas

Ketahuan mau nyolong koran

Ketahuan mau nyolong koran

Acara selesai sekitar pukul 9 malam, kami harus segera pulang ke hotel untuk mempersiapkan presentasi kami pada esok harinya apalagi kami mendapat urutan nomor satu. Dengan diantar Bli Wayan Budi kami akhirnya kembali ke hotel kami. Sangat menarik apa yang kami dapat hari ini.

Keesokannya kami sengaja berangkat lebih pagi yaitu pukul 7 pagi karena acara akan dimulai pada pukul 8.30 sedangkan perjalanan memakan waktu 45 menit – 1 jam. Ternyata kami datang kepagian, bahkan pada pukul 8.30 tepat pun masih belum banyak peserta yang datang setidaknya kami menunjukkan bahwa kami bukan jam karet. Acara dimulai pada pukul 9. Acara dibuka oleh Sheila Burch, ketua panitia kegiatan ini, dan dilanjutkan oleh Bu Hasnah mempresentasikan UNESCO Education for Sustainable. Dilanjtukan dengan pak Romlan mengenai Peace Education, lalu aku menerangkan mengenai penggunaan website iEARN sebagai media pembelajaran, dilanjutkan bu Ira menerangkan sejauh mana iEARN sudah berjalan di Indonesia dan terakhir bu Wiwi menjelaskan mengenai program UNESCO Mondialogo.

Semalaman aku sudah siapkan contekkan kertas berisi ucapan-ucapan yang akan aku katakan pada saat presentasi tapi percuma saja konsentrasiku malah jadi buyar akhirnya, Bismillahirrahmanirrahim, Allahu Akbar, aku paksakan, dan diluar dugaanku sendiri, aku bisa lancar, padahal ketika di EF saja tidak selancar seperti presentasiku hari ini. Alhamdulillah.

Presentasi Bu Hasnah

Presentasi Bu Hasnah

Presentasi Pak Romlan

Presentasi Pak Romlan

Presentasiku

Presentasiku

Presentasi Bu Ira

Presentasi Bu Ira

Presentasi Bu Wiwi

Presentasi Bu Wiwi

Setelah presentasi kami berakhir, lalu dilanjutkan dengan presentasi dari IBO dan dari beberapa pembicara lain. Bu Hasnah dan staf KNIU Mbak Yani, pamit kepada kami untuk pulang ke Jakarta terlebih dahulu karena ada kepentingan yang mendesak sehingga terpaksa tidak dapat mengikuti Global Citizen Summit ini sampai selesai. Bu Hasnah dan Mbak Yani meninggalkan kami pada jam 11.00 untuk mengejar pesawat jam 14.30.

dsci0235

Foto sebelum Bu Hasnah dan Mbak Yani pulang

Seusai presentasi dari para pembicara, acara berikutnya adalah workshop/sharing. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok/bagian untuk masuk ke kelas kecil untuk menerima materi dari pembicara dari lain. Aku dan bu Ira masuk ke kelasnya Ben Wheeler, dia melakukan simulasi mengenai pengungsi perang namanya Seeking Asylum, jadi kami berkelompok diminta untuk memilih 5 dari 10 barang-barang yang akan dibawa apabila kami harus mengungsi karena perang, kami salah memilih, kami tidak membawa makanan dan uang. Sedangkan kami benar sudah memilih membawa ID card, alat masak, dan tenda. Dan konsekuensinya kami tidak bisa masuk ke kamp pengungsian, kami terdampar di “gurun”, kami berupaya untuk masuk dengan cara menyuap si petugas. Kami mengumpulkan “harta berharga” kami agar kami bisa masuk. Jadilah kita merasakan betapa sengsaranya menjadi kaum pengungsi.

Berikutnya, kami melakukan simulasi Fight or Not Fight, jadi dalam simulasi ini kami berperan menjadi 2 pihak yang berseberangan namun harus mengambil sebuah keputusan, kami dilatih untuk musyawarah mencapai mufakat atau menggunakan cara paksa sehingga timbul konflik.

Ngisi Worksheet Fight or No Fight

Ngisi Worksheet to Fight or Not to Fight

D

Aku bicara in English 😀

Kemudian dilanjutkan dengan acara makan siang di Mepantigan, kami disuguhi dengan nasi tumpeng dan lauk pauk tradisional ala Indonesia, ternyata mereka menyukai masakan kita.

Selanjutnya acara dilanjutkan kembali ke kelas kelas kecil. Aku dan bu Ira menuju ke kelasnya Anthony Skilicorn dan Sue Edwards. Beliau menjelaskan mengenai The United World Colleges Global Concern Program dimana murid-murid mereka melakukan proyek mencari solusi dari permasalahan dunia sekarang mulai dari terorisme, kelaparan, kemiskinan sampai ke pemanasan global. Sayang sekali entah kenapa hari itu aku ngantuk sekali, mungkin karena kurang istirahat, jadi beberapa menit aku kehilangan konsentrasiku.

Anthony Skilicorn's Class

Anthony Skilicorn & Sue Edwards' class

Kemudian sebelum aku ikut pada sesi berikutnya, aku mampir dulu ke toilet untuk mencuci wajahku yang ngantuk ini supaya segar. Aku ikut di kelasnya Ben Wheeler lagi karena kelasnya adalah simulasi bukan ceramah. Disini aku dan bu Ira menjadi teman sekelompok lagi, kami bermain mengenai A Global Shooping in A Global Mall. Ben memberi kami sejumlah uang mainan dengan nominal yang berbeda dan meminta kami untuk membelanjakan uang itu dengan membeli makanan, jasa kesehatan, air, pendidikan, gas dengan kualitas yang beragam. Kebetulan aku mendapatkan US$ 2,500 sehingga aku bisa banyak mendapatkan barang-barang yang berkualitas. Berbeda dengan peserta lain yang ada mendapatkan hanya US$ 1,000 sehingga tidak banyak dapat memilih sehingga terpaksa membeli barang yang tidak berkualitas atau tidak menyehatkan. Kami belajar memprioritaskan dan memilih sesuatu, semakin banyak uang yang kami miliki semakin mudah pula kita membuat daftar prioritas yang akan kita beli dan semakin bagus pula kualitasnya. Dan kami semakin terbuka wawasannya karena apapun pilihan kita akan mempengaruhi lingkungan sekitar kita.

Simulasi berikutnya yaitu mengenai forecasting future farming. Jadi kami berperan sebagai petani di desa. Kami harus memutuskan untuk menanam tanamanapa saja  selama setahun tanpa diketahui musim apa yang akan terjadi. Asalkan kebutuhan karbohidrat dan protein seluruh desa dapat tercukupi dengan tanaman yang akan kami tanam itu. Hanya saja ada faktor eksternal yang akan mempengaruhi hasil panen kami kelak. Ternyata kami gagal memenuhi asupan gizi yang diminta karena musim yang tidak bersahabat, sehingga kami mengutang di tahun depannya lagi dan di tahun depannya lagi kami juga masih kekurangan. Disini kami belajar bahwa untuk menjadi petani harus mengetahui bagaimana memprediksi alam, bagaimana menghadapi faktor eksternal lain seperti pemerintah, harga pupuk, pengepul dll. Artinya satu hal terjadi saja maka mempengaruhi yang lain. Kita semua ini terhubung.

Kemudian kami kembali ke Mepantigan untuk menyimak presentasi dari Iona dari National Association of Independent School, USA mengenai proyek NAIS antar negara serta presentasi dari Alexandra Barnes dari Clinton Foundation, Jakarta mengenai pengurangan emisi gas karbon dan bangunan hemat energi untuk mengurangi pemanasan global. Seusainya kami semua foto bersama di Mepantigan.

Foto bersama

Foto bersama

Seusainya kami kembali ke hotel di antar oleh sopir favorit kami yang selalu mengantar kami dari dan ke hotel, yaitu Bli Wayan Budi. Karena sudah sore sekali bahkan sudah mau Maghrib, kami memutuskan untuk sekalian dalam perjalanan pulang sambil mencari Rumah Makan Padang. Ternyata Bli Wayan Budi ini mengenal jalan di Bali dengan baik. Beliau mengantarkan kami ke Rumah Makan Padang, kami mengajaknya untuk makan disana. Cukup murah dan enak sekali, sepiring nasi, sayur, lauk telur dadar dan tunjang, serta teh manis hangat cuma seharga Rp 12.000.

Sesampainya di hotel aku langsung istirahat dan sholat, nah sambil menghabiskan waktu aku menyempatkan diri untuk pergi ke warnet. Wihh sebuah warnet di tepi jalan utama menawarkan Internet Broadband satu jamnya Rp 23.000. Waaaahhhhh Maaahaaallll. Gak jadi deh, lebih baik cari yang lain, akhirnya aku mendapatkan harga yang lebih murah yaitu di dekat hotelku, satu jamnya cuma Rp 16.000 sama-sama broadbandnya lagi. Di warnet mau ngecek inbox e-mailku dan buka situs berita, maklum di hotel tidak disediakan televisi ataupun koran, karena konsep hotel itu adalah bulan madu.

Hari berikutnya, ini adalah hari terakhir Global Citizen Summit. Kami berangkat dari hotel jam 7.45 dan tiba di Mepantigan jam 8.20. Masih lebih awal dibandingkan peserta lain. Hari ini ada presentasi dari Jerry Snell, seorang guru dan pengajar sirkus dari Kanada yang berhasil mengangkat nasib anak/pemuda jalanan yang ada di Bangkok menjadi entertainer sirkus. Prinsipnya seorang pemuda dapat dilatih dan berkembang serta menghasilkan uang untuk dirinya sendiri daripada menganggur. Unik sekali tampilan video dari para murid-muridnya ada campuran Kungfu Shaolin dengan atraksi akrobat sirkus dipadu dengan iringan musik oleh Jerry Snell.

Presentasi berikutnya dari Laura Katz, dia adalah Indonesia Marine Program Coordinator for Conservation Programs dari Conservation International di Papua tepatnya di Raja Ampat, mereka sudah mengajarkan pentingnya lingkungan pada siswa sekolah di Papua sehingga kawasan Raja Ampat tidak rusak oleh aktivitas perburuan yang merusak seperti penggunaan bom ikan dan pukat harimau. Mereka memiliki kapal bekas penangkap ikan yang bernama Kalabia (nama lokal Hiu yang berjalan) yang disulap menjadi kapal konservasi dan pendidikan. Laura juga mendemonstrasikan bagaimana karang mengambil makanannya sangat unik.

Kalabia oleh Conservation International

Kalabia oleh Conservation International

Simulasi karang sedang mengambil makan

Simulasi karang sedang mengambil makan

Berikutnya Ben Wheller kembali mempresentasikan Facing the Future, temanya kali ini adalah bagaimana mengajarkan anak-anak untuk berfikir keluar dari frame (thinking out of the box). Simulasinya adalah bagaimana semua anggota kelompok memegang bola secepatnya. Ternyata menarik juga.

Kemudian kami diminta berdiskusi dengan kelompok kecil untuk membuat action plan (tapi yang satu ini aku rasa tidak efektif karena waktunya tidak cukup)

Diskusi membuat action plan

Diskusi membuat action plan

Masih diskusi

Masih diskusi

Hasil diskusi

Hasil diskusi

Terakhir adalah presentasi Rick Hannah, dia adalah PYP Exhibition Coordinator at Luanda International School in Angola, sekarang dia bekerja di Sinar Mas Academy, Tangerang.  Rick mempresentasikan kegiatannya bersama murid-muridnya di Luanda, Angola untuk menggalang dana dan mendirikan sekolah bagi anak-anak yatim piatu korban perang.  Wah murid-muridnya sudah diajari seperti itu yah.

Setelah itu acara ditutup dan berakhir pula seluruh kegiatan kami di hari Minggu itu. Diiringi rintik gerimis hujan kami menunggu mobil jemputan kami yang masih mengantar peserta lain ke Bandara tiga jam lalu karena peswatnya take off sebelum kegiatan berakhir. Sejam berlalu akhirnya, mobil kami datang dan tanpa diduga Sheila, ketua panitia kegiatan ini ikut di mobil kami menuju hotelnya yang tak jauh dari hotel kami. Kami meminta Sheila untuk menundang kami lagi pada acara Global Citizen Summit berikutnya, rencananya diadakan di Jakarta International School. Hari ini pula kami berpamitan dengan Bli Wayan Budi yang telah setia mengantarkan kami dari dan ke hotel selama kegiatan ini berlangsung.

Bareng Sheila Burch

Bareng Sheila Burch

Foto bareng Bli Wayan Budi, sang pengantar kami

Foto bareng Bli Wayan Budi, sang pengantar kami

Berikutnya adalah acara bebas, yaitu jalan-jalan, asyik, setelah satu jam setengah beristirahat di hotel, kami menyewa mobil Kijang untuk jalan-jalan sambil membeli oleh-oleh. Tawar menawar lah kami dengan penyedia mobil sewaan, disepakati Rp 150.000 dari jam 16.30 s/d jam 20.00 berkeliling ke sekitar Ubud dan Batu Bulan. Pertama kami diantar ke Pasar Seni Sukowati dimana istri si sopir Bli Ngurah Sentanu berdagang kaos di sana. Kami mendapat harga diskon yang murah. Aku sedikit belanja sekedar koas dan sandal untuk istri, sedangkan yang lain wah belanja untuk sekeluarga. Weleh-weleh. Berikutnya kami meminta diantar ke toko kacang Bali, seperti biasa, aku hanya sekedar untuk istri, sedangkan yang lain untuk sekeluarga. Hehehehe.

Belanja kaos dan baju

Belanja kaos dan baju

Akhirnya kami pulang ke hotel, karena belum makan malam maka di tengah perjalanan kami meminta Bli Sentanu untuk mencarikan warung kaki lima karena kalau sudah di Ubud maka tidak akan ditemukan warung kaki lima lagi yang ada kafe dan restoran yang harganya hanya cocok untuk turis bukan untuk guru hehehe. Akhirnya ketemu warung misbar (gerimis bubar). Aku beli nasi sate gule kambing dan teh hangat seharga Rp 12.000 (murah banget), sedangkan Bu Ira dan Pak Romlan, makan pecel lele dan ikan goreng yang seporsi Rp 7.000 (murah banget). Bli Sentanu tidak ikutan karena gak mau, maunya makan di rumah bareng istrinya.

Makan Malam di Warung Misbar

Makan Malam di Warung Misbar

Jam 20.00 kami balik ke hotel dan langsung membuat laporan kegiatan yang telah kami ikuti untuk Bu Hasnah. Rupanya kami sangat kelelahan dan begitu laporan itu selesai kami langsung tidur.

Esoknya, Senin, jam 3.30 pagi, aku sudah bangun dan beres-beres alias packing. Jam 4.30 kami sudah berangkat menuju ke Bandara. Sampai di Bandara Ngurah Rai pada jam 5.30, Setelah check in, kami sholat Shubuh di musholla Bandara. Pesawat kami berangkat jam 7.00. Tepat 15 menit setelah pesawat mengudara, akhirnya datang juga sarapan pagi kami yaitu jamur, telur dadar dan sosis. Yummy lumayan karena kami belum sarapan pagi.

Bu Ira dan aku menuju ke pesawat

Bu Ira dan aku menuju ke pesawat

Sarapan di pesawat

Sarapan di pesawat

Tepat jam 7.30 WIB pesawat kami tiba di Bandara Soekarno Hatta, aku numpang mobil Labschool menuju ke Rawamangun, dari sana aku ambil taksi untuk pulang ke rumah. Di rumah aku langsung tertidur karena sangat lelah. Alhamdulillah aku mendapatkan kesempatan yang sangat berharga dimana aku belajar mengenai banyak hal dan belum tentu itu didapatkan oleh orang lain, selain aku juga ada kesempatan untuk bertemu dengan guru-guru Internasional. Tinggal bikin laporan aja ke sekolah. Hehehe. Lain kali kalau ada kesempatan ke luar negeri lagi ah ikut acara seperti ini lagi. Kapan ya? May be next year di Maroko? But someday I will.

Advertisements
Categories: Kisah | Tags: , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Cerita selama di Bali

  1. Any Sonata

    Tulisan Bapak detail dan menjadi inspirasi buat saya pak. Banyak pelajaran yang saya dapat dari kunjungan bapak ke Green School ini. Saya bookmark nih…..Bapak berbakat menulis dan menjadi berkat buat saya….teruskan ya pak….
    semangat bapak berbagi sungguh luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: