Saus Sambal (1): Cerita di Korea Selatan

Kali ini aku akan menceritakan pengalamanku mengenai saus sambal sewaktu berada di Korea Selatan. Ke manapun kita pergi di daerah manapun asal masih ada di Indonesia, di semua meja rumah makan, warung, depot, dsb pasti kita bisa menemukan sambal ataupun saus sambal. Ini dikarenakan sambal adalah salah satu unsur khas hidangan Indonesia dan Melayu yang dapat ditemukan pula dalam kuliner Asia Selatan dan Asia Timur. Korea Selatan termasuk Asia Timur, mereka mengenal rasa pedas dalam hal ini adalah sambal tapi sepedas-pedasnya makanan Korea masih lebih pedas makanan kita loh. Konon cabai Indonesia pedasnya nomor wahid di dunia.

Ada 2 pengalaman menarik, yang pertama ketika makan nasi campur Korea atau Bimbimbap, ada saus sambal yang dikemas seperti pasta gigi kecil. Tulisannya sih hot pepper pasta, yah aku pikir cabe, ya sudahlah terima saja.

Gochujang

Yang kedua, aku kelupaan membawa saus sambal sewaktu pergi ke Korea, untung saja rekanku Bu Mami dari SMP Al Azhar Pusat membawa saus sambal sachet-an. Alhasil, makanan Korea yang kumakan hampir selalu aku cocol dengan saus sambal. Mantabbbs. Sudah menjadi kebiasaanku makan, aku selalu berkeringat seolah selesai bekerja keras, meskipun udara di Korea waktu itu dingin karena sedang menjelang musim dingin. Hal ini menarik rekan dari Korea yaitu Gin untuk mencicipi saus sambal sachet-an itu. Aku pikir saus sambal ini tidak terlalu pedas banget… cuma pedas ajah begitu. Eh ternyata muka Gin memerah menahan kepedasan. Aku bingung, lalu di depan Gin, aku demokan menyantap dan menghabiskan seluruh isi saus sambal sachet-an itu tanpa merasa kepedasan. Gin bilang bahwa saus sambal sachet-an Indonesia pedas sekali, beda dengan sambal di Korea yang tidak terlalu pedas.

Gin juga bilang, cabai di Korea mahal karena agak sulit di dapat karena mungkin faktor musim sehingga tidak begitu favorit dengan cabai, mereka lebih menyukai Kimchi yang difermentasikan. Masuk akal juga sih karena di Indonesia cuma 2 musim sehingga lebih banyak cabai yang bisa dihasilkan. Dan cabainya cabe yang gede-gede bukan yang rawit. Akibatnya jika kita meminta sambal artinya kita harus merogoh isi dompet dan mengeluarkan 300 won (Rp 3.000) untuk hanya membeli sambal yang sendulit sedikitnya, lha iyalah tiga ribu perak mau banyak, hahahahaha, di Indonesia gratis malahan bisa nambah berkali-kali pula.

Ketika aku akan pulang ke Indonesia, di Incheon International Airport, aku mampir ke Kentucky Fried Chicken untuk makan siang sambil menunggu pesawat, samalah seperti di Indonesia, ada paket-paketnya, untung ada nasinya. Cuma bedanya disana gak ada konter saus sambal gratis yang ada di Indonesia pada umumnya. Jadi aku harus membeli 1 piece saus sambal, seharga 300 won, yang rasanya gak pedas pula. Lumayanlah, biar gak hambar ayam dan nasinya.

Saus sambal di KFC Incheon Airport

Jadi, alhamdulillah, kita orang Indonesia, diberi karunia dari Tuhan berupa iklim yang sesuai sehingga bisa menikmati limpahan cabai sehingga makanan yang kita makan ada rasa pedasnya. Aku gak bisa bayangkan apa jadinya lidahku tanpa rasa pedas, hambar pastinya. Jadi kesimpulannya, kalo mau ke luar negeri harus bawa sambal.

Advertisements
Categories: Jalan-Jalan, Keliling Dunia, Kisah | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: