Saus Sambal (2): Cerita di Amerika Serikat

Hehehe masih tentang saus sambal, kali ini aku sudah belajar dari pengalaman yang di Korea, artinya aku sudah membawah satu pak saus sambal sachet-an. Satu pak isinya bisa 30 sachet. Tahun 2010 kemarin tepatnyadi bulan November aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan konferensi dan workshop mengenai robot GigaPan di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Aku sudah mempersiapkan diri dengan 1 pak saus sambal sachet-an.

Saus Sambal Sachet

Makanan di pesawat pun rasanya hambar dan aneh tanpa kehadiran sambal. Tapi namanya juga pengalaman, rasanya seperti apapun yah dicobain ajah, asalkan halal. Singkat cerita, ketika tiba di Bandara John F. Kennedy di New York, aku kelaparan, aku bingung mau makan apa, jadi aku pilih makan burger ajah di Wendy’s. Ternyata disajikannya tanpa saus sambal dan aku pun langsung mengambil saus sambel sachet-an di tasku. Mantabbss pedasnya.

Saus Sambal di Restoran Makanan Cina, Pittsburgh

Terus terang semua makanan di sana hambar kecuali ya kecuali Chinese Food, Nasi Kebuli yang dijual pedagang kaki lima di New York, atau Restoran Makanan Indonesia (Mie Jakarta, Rumah Makan Padang, Nusa Indah) di New York, wooohhoooo, cocok sekali pastinya.Rata-rata kalau kita minta saus sambal pasti dikasihnya saus tabasco, kata Rachel Ray itu pedes, apaan yang ada asem-asem manis doang, gak nendang itu mah. Serius deh kalo mau pedes mending cari Restoran Chinese Food, gak semua restoran makanan Indonesia ada di Amerika tapi kalo Chinese Food pasti ada. Aku pernah pesen satu porsi nasi goreng, sambelnya juga boleh ambil sendiri malah. Cuma masalahnya bukan pedes atau engga, masalahnya adalah porsinya yang super jumbo, aku pun yang jago makan pun dibuat takluk dengan super jomba porsinya. Rata-rata porsi makanan di Amerika Serikat itu buanyak-buanyak.

Porsi Super Jumbo

Oke kembali ke topik mengenai sambal. Ternyata satu pak saus sambel sachet-an tidak cukup untuk 10 hari di Amerika Serikat (ya iyalah saus sambel sachet-an ku dimintain melulu ama rekan lain dari Indonesia). Kesimpulannya kalo ke luar negeri bawa saus sambel (yang buanyakkkk).

Advertisements
Categories: Jalan-Jalan, Keliling Dunia, Kisah | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Saus Sambal (2): Cerita di Amerika Serikat

  1. salam

    kok makan burger sih di amrik… daging di amrik kan gak halal…sebelum sembelih pake distrum ato stun gun, dan banyak hewan sudah mati duluan sebelum disembelih..ada jg yg gak sadarkan diri…tp susahlah membedakan mana yg mati mana yg pingsan…apalagi kalo gak segera disebelih setelah distrum…..jadi masuk kategori “bangkai” deh

    Di Indonesia, jg daging2 import yg dari LN rata2 jg gak halal…seperti steak import..dll.

    • Terima kasih pak sudah mampir di blog saya. Aduh gimana ni pak udah terlanjur makan burger kejunya, lupa juga saya, lain kali saya harus lebih ingat dan hati-hati. Terima kasih pak sudah diingatkan, Untung di NY ada yang jual Lamb on Rice. Mungkin bapak bisa membagi saran bapak, seumpama saya harus ke LN lagi. Terima kasih sebelumnya pak.

  2. peluang bisnis … ekspor saos sambal. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: