Seri bagaimana rasanya: Duduk di kelas bisnis pesawat Emirates

Dari dulu ketika masuk dan keluar pesawat, sewaktu menuju dan sebelum duduk di kelas ekonomi, aku selalu melewati kelas bisnis dan selalu ingin serta membayangkan bagaimana rasanya ya duduk di kelas bisnis, tapi jatah kelasku ya ekonomi, emang siapa yang mau mbayari tiket pesawatku di bisnis. Hahahaha. Siapa elo Har?

Alhamdulillah, ternyata yang mau memberi kesempatan itu adalah Allah. Allah  mengabulkan keinginanku, baru pertama kali dalam hidupku, aku akhirnya dapat merasakan bagaimana rasanya duduk di kelas bisnis dengan gratis pula dan Emirates lagi.

Pengalamanku ini terjadi pada bulan November 2010, sewaktu aku bertolak ke New York melalui Dubai. Penerbangan dari Jakarta menuju Dubai. Saat itu bulan November 2010 adalah musim haji, dan aku berangkat seminggu sebelum Hari Raya Idul Adha, artinya saat itu saat-saat terakhir keberangkatan jamaah haji yang menggunakan ONH Plus.  Seperti biasanya prosedur yang harus dilakukan penumpang pesawat, aku check-in di counter Emirates di Soetta International Airport, untuk menyetor koper dan mendapatkan boarding pass. Si Mbak-nya bilang padaku “Maaf pak, kelas Ekonominya sedang penuh oleh jamaah haji”, wah aku panik nih “lah terus gimana dong mbak saya ga berangkat dong”. Mbak-nya bilang lagi, “Tenang pak, bapak saya taruh di kelas bisnis ya”, dengan begonya aku nanya lagi “Saya harus nambah biaya berapa mbak di kelas itu” sambil berpikir berapa dollar ya aku harus bayar, sambil khawatir akan berkurang uang sakuku.  Dan mbak-nya menjawab “Jangan khawatir pak, gratis kok”. Sontak aku bersyukur Alhamdulillah, sudah naik kelas bisnis, gratis pula. Terima kasih ya Allah.

Dengan riang gembira aku menuju ke terminal keberangkatan, dan ternyata disana sudah banyak jamaah haji yang menunggu, terpaksa aku duduk lesehan, gak apa-apa kan, karena setelah ini aku bisa merasakan kenyamanan di bangku kelas bisnis hehehehe.

Tak lama, diumumkan bahwa pintu akan segera dibuka, para jamaah haji yang diminta masuk satu persatu dengan tertib pun tidak tertib, saling berdesakan masuk ke pintu. Aku berguman dalam hati, ini niatnya mau ibadah tapi kok saling sikut hanya cuma mau masuk ke dalam pesawat. Lagi pula pesawatnya juga gak kemana-mana, dikira terminal bis kali ya, takut ga dapat tempat duduk. Padahal sudah diingatkan oleh koordinator lapangan para jamaah haji daripada saling berebutan masuk pintu lebih baik tertib sambil berdzikir karena perjalanan jauh. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala dan bersabar antri. Mungkin bisa dikatakan aku satu-satunya penumpang yang bukan jamaah haji tapi banyak yang menyangka aku akan berangkat menunaikan ibadah haji termasuk si korlap tadi. Amin kataku.

Jamaah Haji yang Berdesak-Desakan Masuk

Pesawat Emirates yang akan kunaiki

Di belalai pesawat (bridging link), lorongnya terbagi menjadi dua, kelas bisnis ke kiri, kelas ekonomi ke kanan. Biasanya aku selalu ke kanan, alhamdulillah, kali ini aku yang ke kiri menuju ke kelas bisnis, lorongnya tampak sepi berbeda dengan yang ke kanan yang masih antri. Di ujung lorong, di muka pintu pesawat aku disambut ramah dan senyuman manis oleh dua pramugari Emirates dan dipersilahkan masuk menuju kursi pertama. Setelah memasukkan tas ke dalam loker aku pun duduk sambil merasakan nyamannya, lebarnya dan empukknya kursi kelas bisnis. Begitu duduk ada welcome drink kayak di hotel-hotel. Di kelas ekonomi mana ada welcome drink. Mantaabbbbs.

Oooo kayak gini to rasanya duduk di kelas bisnis. Kalau di kelas ekonomi, kursinya sempit dan tidak bisa di miringkan banyak, dan tidak ada penyangga kakinya. Kursi di kelas bisnis masih bisa di setel-setel sesuai dengan keinginan kita tapi kalo di kelas ekonomi bangkunya ya standar ajah. Dan yang jelas lebih lebar dan lebih lega. Perjalanan 8 jam bakal mulus tidak ada  Economy Class Syndrome.

Begini nih keadaan kelas bisnis:

Kelas Bisnis (lega bukan)

Pramugara memberikan welcome drink kepada penumpang kelas bisnis

Bangku yang bisa di setel

Banyak pilihan majalah dan koran, bebas di ambil

Dua puluh menit kemudian pesawat mengudara, dan aku bisa menikmati hiburan yang disediakan di pesawat, kalau mengenai ini semuanya sama dengan kelas ekonomi. Yang membedakan adalah di kelas bisnis, layar televisinya bisa di lipat dan di setel jaraknya sesuka kita.

Layar TV yang bisa di customize

Pilihan hiburan di pesawat

MP3 Al Quran juga ada loh

Sambil utak-atik dan pilih-pilih hiburan, pramugari memberikan menu makan malam, di kelas bisnis makannya seperti itu to, beda dengan kelas ekonomi yang porsi makannya lebih sedikit (meskipun menurutku sudah mengenyangkan perut) kalo di kelas bisnis sangat-sangat mengenyangkan, belum sampai dessert-pun itu sudah kekenyangan.

Pilihan menu

Pertama aku di beri snack kacang-kacangan. Enak dan gurih kacangnya.

Snack Kacang

Sambil penumpang menikmati snack kacang tadi, sementara itu pramugarinya menyiapkan makanan di dapur pesawat di balik kain korden.

Mengintip Kegiatan di dapur

Lalu menu disajikan sesuai dengan selera penumpang. Disajikannya di piring loh, biasanya kalau di kelas ekonomi cuma karton alumunium. Yang keluar pertama adalah makanan pembuka. Ini nih.

Apa ya namanya…. lupa

Lalu yang keluar berikutnya adalah makanan utama. Ini nih.

Mak nyuss bukan

Kelihatannya enak kan, tapi sssttt sebenarnya rasanya aneh, ga familiar di lidah, karena secara ini bukan masakan Indonesia, meskipun halal loh. Tapi karena aku harus mendapatkan pengalaman merasakan makanan di kelas bisnis maka aku harus coba. Memang aneh sih karena ada minyak olive yang rasanya gimana gituh.. 🙂

Minyak Olive Perawan ekstra pakai Balsam Cuka… halah apa terjemahannya tuh… pokoknya oles ajah ke makanannya

Setelah itu keluar lagi makanan penutup. Aku harus mencoba makanan yang bakal keluar. Jarang-jarang dapat kesempatan langka seperti ini. Rupanya roti keju dan teh. Kejunya pun bisa memilih, aku mencoba semua kejunya. Kelihatannya enak bukan? Tapi setelah dicicipi satu persatu kejunya, mungkin hanya satu atau dua yang cocok di lidah, yang lainnya ada yang uasseeem rasanya, ada yang aneh rasanya seperti asin-asin getir begitu. Keju orang bule nih kayaknya, pokoknya beda dengan keju yang kita makan yang Kraft itu loh.

Makanan penutup berupa roti kecil dan berbagai macam keju serta teh

Orang Afrika yang ada di sebelahku sudah nyerah saat makanan utama selesai, dia gak mau roti keju ini, dia maunya minum Wine, aku juga ditawari oleh pramugarinya, tapi aku menolaknya. No way.

Agenda berikutnya adalah menonton film, dan 8 jam perjalanan aku habiskan untuk dua film yaitu Inception dan The Sorcerer’s Apprentice. Sisanya aku buat tidur malam. Memang saaaannggaaat nyaman duduk di kelas bisnis. Tapi tenang Tuhan aku gak kecanduan kok di kelas bisnis. Jadi aku sudah bersyukur sudah diberi kelas bisnis, tapi aku gak nolak kalau diberi lagi lho Tuhan.

Terima kasih atas kesempatan yang Kau berikan kepadaku. Sehingga aku bisa bercerita disini.

Categories: Hari ini aku belajar..., Jalan-Jalan, Keliling Dunia, Seri bagaimana rasanya | Tags: , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Seri bagaimana rasanya: Duduk di kelas bisnis pesawat Emirates

  1. mark

    Salam kenal pak, saya pencinta cerita-cerita pengalaman travelling.

    Ceritanya unik menurut saya, jarang-jarang dapat kursi bisnis karena pengalihan seperti itu pak

    Hanya gambarnya kok gak muncul ya pak? link-nya kosong pak..
    Ada baiknya diperbaiki ulang pak (sekadar saran ya pak, bukan apa-apa)

    Salam
    Mark

    • Terima kasih bapak Mark atas kritik dan sarannya, link dan gambar kosong karena saya me link ke album foto di FB, sehingga pas FB ganti server otomatis link lama gak update. Tapi sudah saya perbaiki pak. Terima kasih buanyak ya pak. Salam kenal.

      Hari

      • Mark

        Sama-sama
        penasaran saja bagaimana pengalaman di kelas bisnis dari first person perspective

        selama ini saya hanya tahu dari video promosi airline, hahaha…..
        berpergian ke luar selalu naik kelas ekonomi, mana sanggup naik bisnis pak

        Makasih perbaikannya….

  2. Adit W

    Keren sekali ceritanya pak! Ah… semoga suatu hari kita bisa terbang bareng buat travelling atau… *insya Allah* kalau saya ngadain konferensi bioteknologi, kita pergi bareng ya pak! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: