Pohon Pendidikan

Mungkin banyak sekali artikel dan opini di surat kabar atau media lain yang membahas mengenai kegagalan negara ini. Bahkan ada yang memplesetkan NKRI sebagai Negara Kleptokrasi Republik Indonesia. Harian Kompas termasuk harian yang rajin memborbardir pikiranku mengenai ini, hampir setiap hari artikel di halaman depan membahas masalah-masalah di negara ini mulai dari korupsi, pendidikan, HAM, dan sebagainya. Menurutku kuncinya ada di pendidikan. Esensi dari pendidikan adalah merubah perilaku buruk/jelek karena ketidaktahuan/ketidakmengertian menjadi perilaku yang baik karena tahu dan mengerti. Jika dianalogikan sebagai pohon kehidupan maka hal ini diawali dengan mewariskan akar yang kuat (sebagai prinsip/pedoman moral, etika dan kematangan personal) dan mengembangkan kanopi daun dan buah sebagai kompetensi yang dimiliki akibat dari kegiatan dididik.

Perhatikan gambar di atas, gambar tersebut adalah gambar yang paling sering dipresentasikan oleh pak Komar di berbagai ajang, beliau mengibaratkan manusia adalah pohon, maka akar harus dikuatkan terlebih dahulu dan ini harus dimulai dari keluarga dan sedini mungkin, sehingga akan kokoh dan kuat dalam pertumbuhannya. Akar mewakili dari prinsip hidup atau pedoman atau norma. Dan karena akar terpelihara dengan baik maka munculah daun dan buah sebagai dari hasil pendidikan yaitu kompetensi-kompetensi dan perubahan perilaku, dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dilakukan. Kemudian dalam perjalanan kehidupan, apabila ada badai angin hujan yang menerpa (godaan mencontek, menyuap, korupsi, dll), maka pohon ini akan tetap tegar berdiri kokoh.

Coba dibayangkan apabila pohon ini tidak memiliki akar yang kuat, maka pohon akan mudah roboh. Demikianlah pendidikan di Indonesia, yang masih seolah-olah berfokus kepada kompetensi meskipun ada tujuan yang memperkuat akar. Contohnya di sekolah diajarkan untuk jujur, tidak mencontek, dll namun karena ada target yang harus dicapai 100% lulus UN maka ada yang melakukan kecurangan. Masih remang-remang ini, mau memperkuat akar tapi sekaligus melemahkan akar. Sudah menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa untuk mewariskan akar yang kuat dan menghasilkan buah yang baik kepada anak bangsa. Salah satu tanggung jawab itu ada di guru ya kan?.

Sebuah kebanggaan bagiku apabila ada anak didikku yang masih memiliki hati nurani. Meskipun dalam bentuk keluhan dan dilontarkan di situs FB namun setidaknya aku mengetahuinya. Minimal dapat merasakan kegundahan hati nurani. Semoga hatinya tergerak lagi untuk berbuat sesuatu karena itu lebih penting bukan?

Sepuluh tahun lagi, semoga lebih cepat lagi, jikaberhasil maka anak-anak didik kami akan menjadi pemimpin bangsa ini, menjadi pemimpin yang memiliki akar yang kuat dan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Jadi para guru, jangan menyerah, tetaplah berjuang.

Categories: Curhat | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: