Terapi Listrik Rel Kereta Api = Efek Plasebo?

Tulisan ini adalah hanya cara penulis belajar dan mencari tahu serta mencari alasan kok bisa rel kereta menyembuhkan penyakit, penulis hanya guru biasa, bukan ahli jiwa, bukan psikolog, bukan dokter atau tenaga medis. Penulis hanya mencari informasi dan menyimpulkan. Mohon maaf atas kesalahan dalam menafsirkan informasi.

Akhir-akhir ini diberitakan mengenai terapi rel kereta api di Rawabuaya, Cengkareng, Jakarta Barat yang mengehobohkan. Masyarakat memanfaatkan rel kereta untuk melakukan relaksasi setiap sore, sejak pukul 17.00 WIB.  Setiap hari ada sekitar 20 orang yang tidur di atas rel dengan harapan bisa sembuh dari penyakit yang mereka alami.  Terapi tersebut dipercaya dapat meningkatkan vitalitas tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit, seperti darah tinggi, diabetes, rematik, asam urat, kegemukan dan kolesterol tinggi

Sumber: vivanews.com / Nurcholis Anhari Lubis

Tentu saja, aktivitas warga di atas perlintasan kereta selain akan membahayakan nyawa juga akan menggagu perjalanan kereta. Oleh humas PT KAI, aktivitas tersebut juga dinilai telah melanggar hukum sesuai UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. (http://metro.vivanews.com/news/read/234841-terapi-rel-kereta-rawabuaya-akan-ditertibkan)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yg sedang sakit; pengobatan penyakit; perawatan penyakit. Listrik adalah daya atau kekuatan yang ditimbulkan oleh adanya pergesekan atau melalui proses kimia, dapat digunakan untuk menghasilkan panas atau cahaya, atau untuk menjalankan mesin. Sedangkan rel kereta api adalah besi batang untuk landasan jalan kereta api. Dari artinya saja muncul pertanyaan, siapa yang memulihkan, mengobati atau merawat orang yang sedang sakit? Listrik kah? Besi kah? Panas kah?

Banyak yang menduga rel kereta api tersebut menghasilkan tegangan listrik akibat kereta melintas.  Aliran listrik dari rel kereta itu mulai menjalar ke seluruh tubuh, tangan dan kaki yang menyentuh rel akan bergetar hebat, dan getaran ini yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit. Besi rel berperan serta karena merupakan penghantar listrik yang baik.

Dari situs harian Pelita, Kepala Dinkes DKI sendiri menyatakan bahwa belum ada penelitian yang menyatakan terapi rel listrik bisa menyembuhkan penyakit. Terapi dengan unsur listrik biasanya hanya digunakan untuk menyembuhkan penyakit kejiwaan. Yang di katakan Kepala Dinkes DKI tersebut sesuai dengan berita di detikhealth.com, yakni penderita depresi berat ditangani dengan kejut listrik.

Namun, sebenarnya sudah ada beberapa penelitian mengenai pengaruh listrik terhadap manusia. Dikutip dari situs berita voanews.com, sebuah tim penelitian di Oxford University di Inggris menemukan bahwa rangsangan kepada bagian otak dengan menggunakan arus listrik dapat meningkatkan kemampuan matematika seseorang. Dari situs detikhealth.com, suara berdengung pada penderita tinnitus dapat disembuhkan dengan mengalirkan listrik ke membran telinga. Masih dari situs yang sama, frekuensi listrik tinggi dapat menghancurkan sel tumor. Teknik ini menggunakan panduan ultrasound lalu dengan menggunakan getaran listrik tumor bisa menjadi rusak dan hancur. Kemudian masih dari detikhealth.com, penyakit tekanan darah tinggi bisa diatasi dengan mengalirkan listrik ke ginjal. Penelitian telah membuktikan cara ini aman digunakan sebagai pilihan terakhir. Hanya saja membutuhkan biaya yang mahal yaitu USD 10.000.

Dari semua berita tersebut, terapi listrik tersebut sudah dapat diterapkan di manusia, pertanyaan penulis adalah apakah listrik yang dihasilkan oleh rel tersebut sama kualitasnya dengan yang dibuat penelitian?. Tentunya berbeda menurut kondisinya. Daya listrik yang tidak diketahui besarnya itu justru bisa membahayakan bagi tubuh manusia.

Ataukah bukan listrik, mungkinkah itu panas rel dari panas sinar matahari. Hantaran panas rel yang berpindah ke bagian tubuh diyakini bisa membuat peredaran darah penderita sakit menjadi lancar. Peredaran darah lancar membuat organ-organ tubuh jadi berfungsi maksimal sehingga penyakit pun hilang.

Yang jelas belum ada penelitian yang membuktikan adanya manfaat berbaring di atas rel KA. Namun diyakini oleh masyarakat, terapi ini memberikan manfaat bagi kesehatan karena rel kereta memiliki aliran listrik berkekuatan sedang yang bisa mempengaruhi fungsi berbagai organ tubuh.

Ada kata diyakini yang penulis tebalkan di atas. Dari kamus besar bahasa Indonesia, yakin adalah percaya (tahu, mengerti) sungguh-sungguh; (merasa) pasti (tentu, tidak salah lagi). Atas dasar inilah penulis menduga ada efek plasebo disini.

Dari wikipedia.com, Plasebo adalah sebuah pengobatan yang tidak berdampak atau penanganan palsu yang bertujuan untuk mengontrol efek dari pengharapan.[1] Istilah plasebo diambil dari bahasa latin yang berarti “I shall please” (saya akan senang) yang mengacu pada fakta bahwa keyakinan akan efektivitas dari suatu penanganan akan dapat membangkitkan harapan yang membantu mereka menggerakkan diri mereka sendiri untuk menyelesaikan problem – tanpa melihat apakah substansi yang mereka terima adalah aktif secara kimiawi atau tidak aktif.

Jadi efek plasebo adalah penderita tidak tahu apa yang terjadi dengan berbaring di rel kereta namun karena mereka percaya maka timbul sugesti bisa membuat aktivitas itu benar-benar manjur layaknya pengobatan asli sehingga keadaan mereka jadi lebih baik. Jadi oramg-orang yang berbaring di rel tersebut merasakan sensasi panas dan setruman listrik sedikit-sedikit sehingga menimbulkan sugesti manjur dan yakin bahwa penyakitnya sembuh.

Bagaimana bisa? Untuk penjelasannya silahkan kunjungi situs:

  1. http://www.inilah.com/read/detail/175671/efek-placebo-bukan-sekadar-dampak-psikologis
  2. http://al-teko.blogspot.com/2011/06/arti-dari-efek-placebo.html

Mengutip dari detikhealth.com, ada risiko kesehatan yang harus diperhatikan sebelum mencoba terapi ini:

1. Partikel berbahaya
Seperti halnya mesin kendaraan bermotor, mesin lokomotif kereta api juga menggunakan komponen-komponen yang bisa membahayakan kesehatan. Bahan semacam asbes yang dipakai sebagai pelapis (perpak) pada sambungan mesin bisa melepaskan partikel di sepanjang jalur kereta dan memicu sejenis kanker paru yakni mesothelioma.

2. Polusi udara
Tidak hanya di Indonesia, polusi udara juga terjadi di belahan bumi lain dan memberikan kontribusi paling besar bagi pemanasan global. Dikutip dari LA Times, Rabu (20/7/2011), polusi udara di California menewaskan 21.000 orang/tahun salah satunya berasal dari gas buang mesin lokomotif.Mesin diesel yang dipakai oleh kebanyakan lokomotif kereta api menghasilkan emisi gas buang yang beracun. Gas karbon monoksida yang merupakan sisa pembakaran tidak sempurna dari mesin lokomotif yang bisa mengikat hemoglobin di dalam darah, sehingga memicu sesak napas karena distribusi oksigen tidak lancar.

3. Polusi suara
Tidak bisa disangkal lagi, hilir mudik kereta api yang melintas menimbulkan suara dengan intensitas sangat tinggi. Belum lagi jika akan melewati perlintasan dengan jalan raya, lokomotif akan membunyikan klakson yang bunyinya memekakkan telinga dan jika terjadi terus menerus bisa memicu gangguan pendengaran.

4. Infeksi bakteri <— Ini yang paling menjijikkan
Seperti diketahui, rel kereta api pada dasarnya merupakan sebuah toilet terpanjang karena kereta yang melintasinya tidak punya toilet yang dilengkapi penampung kotoran. Untuk ‘menyamarkan’ wujud kotoran yang tercecer sepanjang rel, toilet hanya boleh dipakai saat kereta berjalan.  Air seni maupun kotoran manusia mengandung bakteri dan kuman lain, termasuk telur cacing. Karena itu, salah satu risiko bermain-main di sepanjang rel kereta api adalah gangguan pencernaan akibat teinfeksi kuman dari kotoran manusia.

Masih mau mencobakah? Terserah keyakinan anda.
Advertisements
Categories: Hari ini aku belajar..., Kisah | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Terapi Listrik Rel Kereta Api = Efek Plasebo?

  1. fenomena negara berkembang kah?
    akibat biaya kesehatan yg MAHAL maka rakyat mencari alternatif lain yang murah meriah walau terkadang membahayakan diri sendiri dan orang lain
    seharusnya hal yg begini membuat pemerintah malu …

    • Terima kasih lho pak sudah main2 ke blog saya. Fenomena negara terbelakang mungkin ya pak? Asal sehat lah pak, mereka jadi produktif mencari nafkah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: