Petualangan di Lebanon, Swiss di Timur Tengah

Lebanon adalah sebuah negara di Timur Tengah, sepanjang Laut Tengah, dan berbatasan dengan Suriah di utara dan timur, dan Israel di selatan.  Lebanon dianggap sebagai ibukota perbankan di dunia Arab dan umumnya dianggap sebagai “Swiss di Timur Tengah”. Karena kekuatan finansialnya, Lebanon juga menarik banyak sekali wisatawan, hingga ibukotanya, Beirut, dirujuk oleh banyak orang sebagai “Parisnya Timur Tengah”. Lebanon adalah negara anggota Organisation Internationale de la Francophonie (negara berbahasa Perancis). Karena itulah kebanyakan orang Lebanon berdwibahasa, mampu berbahasa Arab dan Perancis. Namun demikian, bahasa Inggris kini sangat populer khususnya di antara mahasiswa. Di negara ini agama Kristen bergaul akrab dengan Islam, dan Lebanon juga merupakan pintu masuk Arab ke Eropa serta jembatan Eropa ke dunia Arab. (wikipedia.com)

Aku pergi ke Lebanon pada tanggal 8 Juli – 12 Juli 2005 karena aku dan rekan guru yang lain yang tergabung di iEARN diundang untuk mengikuti konferensi di Beirut. Tahun 2005 bertepatan dengan tahun terbunuhnya mantan Perdana Menteri Lebanon yaitu Rafic Hariri tepatnya tanggal 4 Februari 2005. Rafic Hariri dan  9 orang lainnya meninggal karena ledakan bom tepat saat iring-iringan mobilnya melewati Hotel St. George di Beirut.

Petualangan yang menegangkan ini (karena Lebanon baru saja berperang dengan Israel dan kasus pemboman itu) sekaligus pengalaman pertamaku ke luar negeri.

Aku berangkat menggunakan Emirates, transit 10 jam di Dubai kemudian melanjutkan perjalanan ke Beirut. Setibanya di Beirut Rafic Hariri International Airport, aku dijemput oleh kendaraan carteran yang disiapkan oleh panitia konferensi menuju ke hotel yang telah disiapkan oleh panitia yaitu Plaza Hotel yang terletak di Hamra Street, persis di jantung kota. Hotel ini berada sangat dekat dengan berbagai restoran, kafe, landmark dan pusat perbelanjaan.

Plaza Hotel

Plaza Hotel

Hotel ini situasinya tenang, ada kafé yang menyajikan aneka makanan ringan sepanjang hari dan restoran di lantai dua. Semua kamar berperabot sangat lengkap, ada TV kabel, AC, balkon dan pengering rambut. Balkon bisa dibuat untuk melihat ke jalan atau menjemur pakaian hahahaha.

Kafe Hotel

Karena sudah dipesan oleh panitia, harga kamar hotel ini sudah terdiskon, aku lupa harga tepatnya tapi kalau tidak salah semalam sekitar hampir USD 100. Wow mahal yah. Oh iya 1 Pound Lebanon setara dengan Rp 5,7. Nominal koin terkecil saat ini adalah 250 pound (Rp 1.412), nominal uang kertas terkecil saat ini adalah 1000 pound (Rp 5.648) dan yang terbesar adalah 100.000 pound (Rp 564.800). Untung saja semua makanan dan minuman sudah ditanggung oleh panitia. Aku tidak pernah mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman, bahkan untuk tiket masuk objek wisatapun sudah dibayari panitia. Asyikkan.

Kecuali pas jajan aja seperti di Starbucks di Hamra Street aku mengeluarkan sekitar Rp 60.000 (kaget ajah harganya kenapa mahal di sana) dan minum orange jus di rumah makan di Hamra Street sekitar Rp 30.000. Untuk oleh-oleh aku membeli kerajinan gelang perak sekitar Rp 250.000 untuk istriku, kacang arab di airport sekitar Rp 50.000/bag.Yah itu harga di tahun 2005 yah, nggak tahu harga sekarang.

Starbucks di Hamra Street

Okeh lanjut yah. Sayangnya karena aku tidak dapat makan malam dari hotel maka aku dan rekan yang lain mencari makanan di luar, setelah berjalan beberapa lama, kami menemukan restoran makanan Maroko. Di dalam makanan yang familiar adalah nasi kebuli. Pelayan di restoran tersebut hanya bisa berbahasa arab dan perancis. Untung ada ibu Hasnah yang bisa bahasa perancis. Bumbu nasi kebuli yang khas arab memang terasa kuat, yoghurt yang disajikan sangat asam sekali, taburan beberapa sendok gula pun tidak bisa meredam rasa asam tersebut. Wow baru kali ini aku menemukan yoghurt asam sekali.

Tiap sarapan pagi di hotel, makanan pokoknya selalu roti arab seperti lembaran adonan martabak tapi sudah jadi roti. Beberapa hari tanpa nasi rasanya bagaimana begitu seperti tidak makan. Hahahahaha kangen nasi. Untung masih disediakan telur ayam. Di kafe aku juga pernah memakan vegetables sandwich, aku pikir agak aneh rasanya karena ada minyak Zaitunnya.

Hari kedua di Beirut aku berjalan menyusur Hamra Street, jalanannya di paving block bukan di aspal jadi kesannya rapi, untuk membersihkan jalannya ada truk khusus yang menyikat jalan, menyikat ya bukan menyapu. Karena masih pagi, belum banyak aktivitas di sana. Toko-toko masih belum banyak yang buka.

Hamra Street

Yah di sana aku banyak menjumpai wanita yang memakai cadar dan ada juga wanita yang berpakaian biasa-biasa saja tanpa cadar. Negeri di arab yang seolah-olah eropa. Yah tidak banyak aktivitas di hari kedua ini karena masih lelah dan banyak beristirahat di hotel. Barulah di sore harinya aku mengikuti welcome dinner yang diselenggarakan oleh panitia di American Community School di Rue de Paris, Beirut. Letaknya tidak jauh dari pantai laut Mediterania. ACS ini adalah sekolah internasional, fasilitasnya tidak jauh beda dari Al Izhar bahkan lebih bagus dan lebih luas Al Izhar.

ACS Beirut

Kagok juga sih makan malam formal, internasional pula, harus hati-hati apalagi mengambil minuman harus ditanya dulu, cola atau apaan nih.Yah makannya sih enak-enak aja, terus ada pidato dari tuan rumah, pokoknya kayak di film-film begitu deh. Norak kan aku.

Welcome Dinner di ACS

Setelah makan malam, aku dan rombongan tidak segera naik bis karena bis menunggu di pantai, jadi aku harus berjalan kaki menyusur pantai laut Mediterania. Wow keren pemandangan malamnya. Yang aku bikin ketawa adalah eh ternyata di tepi pantai ada pedagang kaki lima loh hahahaha seperti di Indonesia. Norak lagi deh.

Corniche

Bread Street Vendor di Corniche

Nah setelah itu, aku naik bis dan kembali ke hotel untuk beristirahat. Terus terang aku mau mencicipi KFC atau McD di sana seperti apa sih menunya tapi gak sempat juga.

Hari berikutnya aku sibuk mengikuti konferensi seharian, dan malam harinya ada Lebanese Dinner di Restoran Al Bandar di Mt. Lebanon. Wah jadi penasaran nih, menu khas Lebanon apa aja yah.

Setelah beberapa jam perjalanan menggunakan bis, kami tiba di lokasi. Letak restorannya ada di gunung rupanya. Indah sekali pemandangan di malam hari. Restoran Al Bandar ternyata adalah bangunan bersejarah dari pertengahan abad ke-18. Dahulu bangunan ini adalah kediaman sementara dari Sheikh Abbas El Khazen, Wali of Kesrouan. Sekarang diubah menjadi restoran makanan tradisonal Lebanon.

Hummus

Hummus seperti saus itu dimakan dengan roti arab atau roti pita dioles dengan minyak zaitun. Hummusnya sendiri asemmmm. Ada juga kayak kroket eh begitu dimakan rasanya pahitt… wah satu-satunya yang familiar di makan adalah kentang goreng. Lainnya hanya sesi coba-coba saja. Banyak gak doyannya, mending makan rotinya aja deh.

Beberapa peserta konferensi terutama yang dari arab memakai shisha. Shisha populer begitu di Arab Saudi dan Mesir. Di Lebanon dikenal sebagai Narghile. Shisha bentuknya seperti pipa air kuno, terdiri dari sebuah tabung panjang yang melekat pada gelas atau wadah plastik berisi air.

Shisha

Hampir satu setengah jam makan malam, akhirnya seluruh peserta di ajak mengunjungi desa kerajinan dekat restorant, namun karena harganya mahal-mahal maka aku tidak membeli apapun, cuma berfoto-foto saja.

Sejam kemudian akhirnya kami kembali ke hotel. Keesokan harinya adalah acara jalan-jalan ke Baalbeck. Dalam perjalanan menuju ke Baalbeck, kami melewati Baabda Hill di sana terdapat monumen perdamaian. Di sini kami berhenti pertama kalinya.

Monument of Peace, Baabda Hill

Setelah berfoto-foto sebentar di sana, kami melanjutkan perjalanan menuju ke reruntuhan kota Aanjar. Aanjar merupakan peninggalan kerajaan islam di Lebanonpada abad ke-7.

Aanjar City Ruins

Okeh, kami berangkat lagi setelah mampir sejenak di Aanjar. Kali ini tujuan yang terakhir yaitu Baalbeck. Yup, Baalbeck, juga dikenal sebagai Heliopolis, adalah sebuah kota Romawi kuno di timur laut Lebanon.  Baalbeck terletak di lereng timur pegunungan Lebanon di sebuah lembah luas dan subur yang dikenal sebagai Lembah Beqa’a.

Nama “Baalbeck” berasal dari dewa Baal Kanaan, yang namanya berarti “Tuhan.” Baalbeck merupakan pusat keagamaan yang besar. Baalbeck juga dikenal dengan nama Heliopolis.

Dari Beirut ke Baalbeck berjarak 86,7 km dan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan bis. Perjalanan menuju ke Lembah Beqa’a sangat menarik karena di kiri-kanan banyak pemandangan perkebunan, terutama anggur, gandum, dan jagung.Tapi juga ada yang tandus.

Dan akhirnya, kami tiba di Baalbeck. Kuil ini merupakan bangunan yang diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage.

Gambar Kuil Baalbeck

Gerbang Masuk Kuil

Kuil Baalbeck

Reruntuhan pilar yang besar

Setelah puas dan lelah mengitari kuil Baalbeck, aku masuk ke museum yang berpendingin ruangan, lumayan lah sambil melihat foto-foto dan patung-patung sekalian ngadem.

Di dalam museum

Sekitar 2 jam kami di sana, kemudian kami kembali ke bis dan ke arah pulang. Sambil kembali kami mampir ke tempat yang terakhir yaitu Hadjar el Hibla‎ (Stone of the Pregnant Woman). Batu ini sangat besar sekali. Patokannya adalah ukuran manusia normal seukuran dengan 3/4 tiang bendara Lebanon yang ada di ujung batu tersebut.

Hadjar el Hibla‎ (Stone of the Pregnant Woman)

Dan akhirnya kami benar-benar kembali pulang. Namun sebelum pulang kami mampir ke restoran makanan Lebanon yaitu restoran Mhanna yang ada di tepi sungai Berdawni, Zahle untuk makan siang.

Menu makanan

Nah barulah kami benar-benar pulang menuju ke Beirut. Setelah itu kegiatan hanya diisi dengan acara konferensi.

Acara jalan-jalan ya biasa aku isi dengan berjalan menyusur Hamra Street dan pusat kota. Di pusat kota aku mengunjungi makam mantan PM Lebanon yaitu Rafic Hariri. Aku bisa merasakan rasa cinta rakyat Lebanon kepada beliau dari penghormatan yang mereka lakukan kepada beliau. Beliau dimakamkan sementara di sebelah masjid Muhammad Al Amin sekarang diganti dengan nama masjid Rafic Hariri.

Makam Rafic Hariri

Masjid bersebelahan dengan makam Rafic Hariri

Terinsipirasi dari Masjid Biru di Turki

Di dekat masjid terdapat katedral Maronit dan Ortodox.

Katedral Maronit

Katedral Ortodox

Dan di malam hari lah muncul keramaian di pusat kota.

Pusat kota di siang hari

Pusat kota di malam hari

Pusat kota di malam hari

Sempat pula peserta konferensi makan siang di Restoran Socrate di mana menunya untungnya ada nasi, meskipun nasi kebuli kambing. Mantab lah.

Restoran Socrate

Di restoran Socrate

Namun kami sempat berkunjung ke KBRI Lebanon di Baabda, komplek para kantor kedutaan ada disitu. Sangat mewah, ketika kita dijemput dengan mobil kedutaan, ketika akan masuk ke KBRI, pintu gerbangnya bisa dikendalikan dengan remote control dari mobil kedutaan, woohohhoho kereen banget serasa tamu VIP nih.

Aku dan rombongan lainnya dijamu oleh Duta Besar saat itu yaitu Bapak Abdullah Syarwani dengan jamuan nasi kebuli, mirip banget rasanya dengan nasi goreng Indonesia dan satu ekor ayam goreng sedang. Lumayan lah mengisi perut hehehehe.

Setelah itu kami masih di antar pulang ke hotel. Wahhhhh rejeki banget ya. Da ketika menuju bandara pun kami di antar oleh staf KBRI, enak banget, urusan jadi gampang karena staf KBRI nya mengeluarkan ID Diplomat sehingga urusan di bandara jadi gampang. Alhamdulillah.

Ya itu cerita petualanganku di Lebanon. Kalau Allah masih memberikan kesempatan semoga bisa datang lagi kesana. Amin.

Advertisements
Categories: Hari ini aku belajar..., Jalan-Jalan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: