Menyangkal Tuhan

Tiba-tiba malam ini aku teringat kalau dulu aku pernah punya murid di sekolah yang selalu menyangkal Tuhannya sendiri, tidak pernah dengan sadar melakukan sholat (padahal cuma sekali saja di sekolah) melainkan harus diminta. Itupun sholat tanpa wudhu pula, bagaimana mau sah sholatnya jika wudhu saja tidak.

Sebetulnya aku tidak heran sih, dari jaman dahulu beratus-ratus tahun mungkin dari sejak Nabi Adam, bisa dihitung mungkin ya, berapa milyar manusia yang menyangkal Tuhan. Bahkan Nabi Nuh sendiri meskipun berumur panjang sampai 1000 tahun pun masih belum bisa meyakinkan istri dan anaknya terhadap Tuhan sampai azab banjir di turunkan.

Agama memang tidak dipaksakan, dia menghindari sholat dengan alasan punya keyakinan sendiri. Aku mengatakan adanya agama mengatur tata cara kehidupan kita, mulai dari lahir, menikah sampai meninggal, termasuk sholat. Jika memeluk suatu agama maka harus dilakukan segala tata tertibnya. Sama saja masuk ke sekolah tertentu pasti ada tata tertib yang harus dilakukan. Sangat tidak bertanggung jawab apabila masuk ke sekolah tertentu tapi tidak mau patuh terhadap tata tertibnya.

Punya agama seperti pepatah sedia payung sebelum hujan, anggap saja payung itu seperti agama dan hujan itu adalah kehidupan setelah akhirat. Seumpama kehidupan setelah akhirat itu tidak ada, ya tak apalah sedia payung toh kalau tidak hujan juga tidak ada ruginya, dan seumpama jika jadi hujan kita juga sudah bersiap dan selamat dari basah air hujan.

Jika tidak beragama, bagaimana tata cara menikahnya nanti? Ketika meninggal nanti dengan tata cara pemakamannya? Dengan enteng dia menjawab ketika suatu saat dia meninggal dia mau di bakar saja. Dan dengan lantang dia bilang ke aku sebagai gurunya bahwa dia tidak beragama Islam dan jangan menganggu keyakinannya. Wowww…. speechless. Aku menyerah? Tidaklah, aku berdoa kepada Tuhannya semoga diberi hidayah. Amin.

Toh Tuhan juga tidak akan berkurang ke Maha-annya gara-gara disangkal oleh dia. Aku hanya berusaha mengingatkannya, Tuhanlah yang memberikan hidayah kepada orang yang dikehendakiNya.

Si anak sudah diajak berbicara dengan hati ke hati dan memang keputusannya sudah bulat untuk menyangkal Tuhan. Free will kah? Mungkin saja, manusia diberi kebebasan untuk memilih, termasuk memilih untuk menyangkal Tuhan. Apakah itu bentuk dari kecerdasannya atau juga dari ketinggian hatinya? Aku tidak tahu?

Tidak beragama gak apa-apa yang penting akhlaknya bagus. Salah banget, wong agama apapun mengajarkan budi pekerti. Aku aja dibentaknya (resiko jadi guru di jaman sekarang, kalo nemu yang kayak gini rasanya aku gagal jadi guru hiks hiks hiks).

Aku kasihan kepada anak itu dan orang tuanya. Jika nikmat berupa kekayaan dan harta yang berlimpah tiba-tiba di cabut dan dihimpit berbagai kesulitan, kepada siapa nanti dia akan berpegang.

Aku bingung kok bisa yaahhh, apakah faktor keluarga? lingkungan? Entahlah, meskipun bisa jadi. Yang jelas, dari 24 jam sehari, di sekolah “hanya”  7-8 jam dari jam 7 pagi sampai 2 siang.

Entah bagaimana kabarnya yah. Semoga waktu itu dia tidak benar-benar sedang menyangkal Tuhannya, semoga saja waktu itu dia sedang mencari Tuhannya seperti yang Nabi Ibrahim lakukan dan begitu dia menemukan Tuhannya semoga dia sangat soleh. Aminnn.

Categories: Curhat, Hari ini aku belajar... | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: