Pulang ke Rumah

Sebentar lagi lebaran, tradisi silaturahim dengan pulang ke rumah untuk berkumpul dengan keluarga. Aku jadi teringat film Patch Adams.

Foto: nocturno.multiply.com

All of life is a coming home. Salesmen, secretaries, coal miners, beekeepers, sword swallowers, all of us. All the restless hearts of the world, all trying to find a way home. It’s hard to describe what I felt like then. Picture yourself walking for days in the driving snow; you don’t even know you’re walking in circles. The heaviness of your legs in the drifts, your shouts disappearing into the wind. How small you can feel, and how far away home can be. Home. The dictionary defines it as both a place of origin and a goal or destination. And the storm? The storm was all in my mind. Or as the poet Dante put it: In the middle of the journey of my life, I found myself in a dark wood, for I had lost the right path. Eventually I would find the right path, but in the most unlikely place. -Patch Adams

Semua yang hidup itu menuju kepulangannya. Salesman, sekretaris, penambang batu bara, penjaga perpustakaan, penelan pedang, semuanya. Semua hati yang ada di dunia ini semuanya mencoba untuk mencari jalan pulang. Sulit untuk menggambarkan bagaimana perasaan itu. Menggambarkan perjalanan sekira melewati jalan bersalju.
Kau bahkan tak tahu kalau kau telah tersesat. Derap langkahmu yang berat
Teriakkanmu yang hilang ditelan angin Bagaimana kau bisa merasakannya, itulah jarak ke rumahmu. Rumah, kamus menterjemahkannya sebagai sebuah tempat dan sebuah tujuan.  Dan badai? Badai pernah ada di benakku. Atau sebagaimana yang ditulis oleh penyair, Dante. Di tengah perjalananku, aku menemukan diriku di tengah-tengah hutan yang gelap. Karena aku mencari jalan yang benar. Dengan begitu aku mencari jalan yang benar, tapi tidak ditempat seperti biasanya

Kutipan di atas adalah salah satu narasi yang diucapkan oleh Robin William dalam film Patch Adams.  Semua orang mencari rumah dalam perjalanan hidupnya. Tempat yang terbaik di dunia adalah rumah. Tak peduli sejauh mana engkau melangkah, rumah adalah tempat sebaik-baiknya untuk kembali. Dan apabila engkau tidak memiliki rumah maka pastilah engkau akan mencari suatu tempat yang dapat disebut rumah.

Semua profesi berangkat bekerja ke tempat kerja dan dipenghujung waktu kerja pun akhirnya mereka pulang.

Manusia, apapun profesinya, dimanapun dia berada, melalang buana kemanapun akhirnya berpulang ke rahmatullah, rumah Allah. Maka, sebelum pulang, bekerja dan berkaryalah dengan baik.

Categories: Kisah | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: