Terlalu mahal untuk punya anak

Di awal Ramadhan, beberapa minggu yang lalu aku bertemu dengan rekanku, biasa dipanggil pak Tono oleh murid-muridnya, seorang guru di sekolah swasta, lama tak berjumpa dan kami mengobrol ringan, rupanya dia baru saja pulang dari Perancis karena mendampingi siswa-siswanya dalam suatu perjalanan seni. Dia bercerita seluruh pengalamannya dari A sampai Z dengan antusias, termasuk ketika dia di Perancis dia menyempatkan diri untuk mengobrol dengan pemandu wisatanya, aku lupa dia menyebut namanya Madame Katherine atau apalah namanya. Si madam ini merupakan pemandu wisata yang sudah berpengalaman dan memulai karirnya sejak puluhan tahun yang lalu, si madam menikah sudah lama namun sampai sekarang tidak memiliki anak, ketika ditanya mengapa, si madam menjelaskan bahwa dia dan suaminya sepakat untuk tidak memiliki anak, begitu pula dengan beberapa pasangan yang ada di komunitasnya juga begitu, karena biaya hidup di Perancis terutama di Paris sangatlah mahal. Kawanku mengatakan satu botol minuman ringan saja kurang lebih seharga Rp 50.000.

Benarkah itu, terlalu mahal memiliki anak? Iseng-iseng browsing dengan mbah gugle. Perancis dan negara-negara eropa umumnya termasuk negara maju. Negara maju adalah sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Adapun salah satu ciri negara maju berdasarkan situs wikipedia adalah angka kelahiran yang rendah, mungkin bisa saja dikaitkan dengan tingginya biaya hidup di negara tersebut.

Untuk mengatasi masalah tingkat kelahiran yang rendah, maka pemerintah Perancis memberikan insentif seperti:

  1. Tiga tahun cuti orangtua (parental leave) dengan jaminan perlindungan pekerjaan setelah kembali bekerja.
  2. Anak mulai full time pre school pada usia tiga tahun;
  3. Diberikan subsidi untuk menitipkan anak di TPA sebelum usia tiga tahun;
  4. Honor untuk pengasuh anak di rumah , dan
  5. Tunjangan pengasuhan anak bulanan yang akan meningkat sesuai dengan jumlah anak per keluarga.

Di Jerman sama juga memiliki tingkat kelahiran yang terlalu rendah. Mengutip dari situs ini, Lembaga Allensbach, sebuah lembaga penelitian di Jerman, baru-baru bertanya kepada penduduk berusia subur mengapa mereka tidak memiliki anak, dan berikut ini adalah beberapa alasan mereka:

  1. Seorang anak akan terlalu banyak beban keuangan (47%)
  2. Saya masih terlalu muda untuk memiliki anak (47%)
  3. Rencana karir saya akan sulit jika punya anak (37%)
  4. Saya belum menemukan pasangan yang tepat (28%)
  5. Saya masih ingin bebas, tidak harus membatasi diri (27%)
  6. Saya memiliki banyak kepentingan selain memiliki anak (27%)
  7. Anak-anak sulit untuk dibesarkan, saya tidak yakin saya memiliki kekuatan dan keberanian untuk membesarkan anak (27%)
  8. Saya ingin menjadi sebagai seorang yang sebebas mungkin (26%)
  9. Saya akan memiliki sedikit waktu untuk teman-teman (19%)
  10. Saya tidak tahu apakah hubungan saya dengan pasangan akan tetap awet (17%)
  11. Saya atau pasangan saya akan mengalami kerugian karir jika kami punya anak (16%)

Masih mengutip dari situs di atas, orang lebih cenderung memiliki anak-anak ketika mereka terikat ke dalam struktur keluarga yang ketat, religius, dan memiliki sikap optimis terhadap kehidupan mereka di masa depan dan masyarakat mereka.

Berdasar situs ini, di Norwegia, untuk meningkatkan tingkat kelahiran, pemerintah memberikan banyak fasilitas dan keistimewaan bagi orang tua yang memiliki anak.

  1. Orang tua di Norwegia dapat memilih untuk mengambil cuti selama 46 minggu dan mendapat 100 persen gaji atau mengambil cuit selama 56 minggu dan mendapat 80 persen gaji.
  2. Tiga minggu sebelum dan enam minggu sesudah melahirkan merupakan cuti untuk ibu, sementara 10 minggu dari total periode parental leave diberikan untuk ayah (paternal quota).
  3. Wanita Norwegia yang tidak bekerja di luar rumah berhak mendapatkan bantuan keuangan ketika anak dilahirkan, yang mencapai NOK 35.263 di tahun 2009, setara dengan Rp 55.339.661 (nominal yang besar bukan)

Dari kompasiana, di Swedia, setiap anak yang dilahirkan dari semua warga negara Swedia ataupun dari imigran yang sudah menjadi warga negara, otomatis akan mendapat tunjangan anak sebesar 1125 kronor (mata uang Swedia) atau sekitar Rp. 1.462.500,- per anak setiap bulannya.  Belum lagi tunjangan lain yang bisa diperoleh, antara lain: tunjangan tempat tinggal (apartemen), tunjangan kesehatan, tunjangan anak cacat, tunjangan ibu yang cuti melahirkan, tunjangan suami yang cuti untuk mengasuh anak, tunjangan orang tua dsbnya.

Negara maju di Asia seperti Korea Selatan, Jepang dan Singapura juga mengalami hal yang sama yaitu tingkat kelahiran yang rendah. Anggapan memiliki anak justru merepotkan terlebih dilihat dari segi finansial nampaknya telah membayangi sebagian besar masyarakat di Asia, sehingga muncul sebuah trend sejumlah negara seperti Korea, Jepang dan Singapura untuk menikah tetapi tidak mempunyai anak.

Berdasar situs ini, Jepang, yang populasinya mulai menyusut perlahan-lahan tiga tahun lalu, dimana hampir seperempat penduduknya berusia lebih dari 65 sedangkan tingkat kelahiran anak hanya 13 persen. Dengan tren saat ini, populasi Jepang yang mencapai 127 juta orang akan menyusut pada tahun 2055 menjadi hanya 90 juta orang.

Mengutip dari situs inilah.com, populasi Jepang sudah berangsur menurun dengan semakin banyak orang muda yang menunda memulai keluarga karena menganggap sebagai beban keuangan, gaya hidup, dan karir.

Sama halnya dengan yang terjadi di Korea Selatan, sebagian warga sudah menjadikan ‘tidak memiliki anak’ menjadi tren sehingga menyebabkan tingkat kelahiran terendah di dunia, bahkan lebih rendah daripada Jepang.

Berdasarkan dari pengalaman pribadi ketika aku berada di Korea Selatan, aku berkenalan dengan beberapa internship wanita yang bekerja di UNESCO Korea, jika ditilik dari segi umur, umumnya mereka sudah menikah di Indonesia, dan ketika aku bertanya kapan mereka akan menikah, mereka malah bingung menjawabnya, ada yang bilang too young to be married, ada juga yang belum tahu kapan dan belum punya rencana.

Apa alasannya mengapa wanita karir memilih tidak menikah dan tidak memiliki anak. Berdasar situs ini, hal itu menjadi masalah utama di Korea Selatan. Lagi-lagi karena biayanya mahal.  Untuk biaya sekolah dibutuhkan sekitar 700.00 won atau Rp 5.522.319 (kurs saat ini). Padahal untuk sekali makan saja minimal membutuhkan 5000 – 7000 won atau Rp 39.364 – Rp 55.110. Jika menambah satu bayi lagi maka akan menambah beban biaya kurang lebih 500.000 won sebulan atau sekitar Rp 3.944.513. Bahkan dari situs ini menyatakan bahwa membutuhkan biaya sebesar 260.000.000 won atau sekitar Rp 2.046.949.741 untuk membesarkan anak dari lahir sampai lulus kuliah. Biaya tinggi itulah telah mendorong banyak orang Korea yang memiliki anak tunggal, atau tidak memiliki sama sekali.

Aku pernah membaca artikel di situs namun aku benar lupa linknya, penyebab wanita karir di Korea Selatan tidak ingin hamil adalah tidak ada jaminan bahwa pekerjaan mereka akan tetap menjadi milik mereka jika mereka cuti hamil.

“Tingkat kesuburan masyarakat yang menurun menjadi
kecenderungan umum dalam sebuah masyarakat ketika
mereka tumbuh menjadi lebih kaya.”
Situs Global Future Institute

Di Indonesia sebagai negara berkembang, masih belum ada “tren enggan punya anak”, karena memiliki anak setelah menikah adalah impian setiap orang,
sekaligus dianggap pencapaian prestasi. Coba saja jika bertemu dengan kawan lama, pasti yang ditanya adalah “anakmu berapa”.

Rupanya pemerintah kita sedang melakukan program pengendalian populasi, biaya sekolah makin mahal, harga sembako mahal, biaya kesehatan juga mahal. Entah pemerintah sengaja atau tidak. Namun yang bisa dibanggakan dari rakyat Indonesia adalah rakyatnya yang sangat sabar, selalu optimis dengan berpegang teguh bahwa setiap anak pasti ada rejekinya.

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. QS At-Thalaq : 2-3

———————————————————————————————

Baca artikel Go-Vlog yang lain

  1. Yoboseyo vs Annyeong Haseyo
  2. Kecanggihan Toilet di Korea Selatan
  3. Aku Disangka Personel SM*SH
  4. Belajar itu Menyenangkan

———————————————————————————————


Categories: Hari ini aku belajar... | Tags: , , | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Terlalu mahal untuk punya anak

  1. arifin_lp

    Setuju bos.. QS At-Thalaq : 2-3

  2. tan

    gara2 itulah,indonesia makin bobrok. banyak lahir kualitas tidak ada,

    • Jika saya boleh memberikan pendapat, sebenarnya yang bikin bobrok bukan banyaknya yang lahir karena itu bayi yang lahir itu karunia dari Tuhan, tapi integritas yang buruklah yang membuat Indonesia makin bobrok. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: