Petualangan di Gunung Halimun: Desa Ciptarasa

Petualangan ini aku lakukan sekitar awal tahun 2008 bersama rekan-rekanku yaitu Asti, Abdul, Mr Yos, dan Pak Komar dengan didampingi staf LATIN (Lembaga Alam Tropika) yaitu pak Denny. Sebenarnya tujuan ke Gunung Halimun ini adalah menuju ke Desa Ciptarasa, yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, untuk survey lokasi kegiatan untuk program Live In untuk murid-murid kami. Jauh sebelum program TransTV “Jika Aku Menjadi”, Al Izhar sudah melakukannya. Program ini dirancang untuk melatih kemandirian, menumbuhkan rasa empati dan jiwa sosial, dan menambah pengalaman hidup serta rasa syukur sekaligus untuk melatih murid-murid kami untuk belajar meneliti dan melakukan pengamatan secara langsung di alam.

Kebetulan ada orang tua murid, Ibu Debra Yatim, yang merekomendasikan lokasi ini karena beliau mengenal LSM LATIN di ruang lingkup pekerjaannya. Kami juga berkenalan dengan staf LATIN, staf Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, dan tokoh masyarakat dari penduduk lokal. Mereka membantu kami dalam pelaksanaan program ini.

Desa Ciptarasa ini dapat diraih melalui Pelabuhan Ratu.Perjalanan dari Jakarta menuju ke Pelabuhan Ratu ini sekitar 6 jam dengan mobil dan berjalan kaki. Lama tapi seru loh. Desa Ciptarasa ini adalah desa adat yang terletak di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, lebih tepatnya berada di punggung Gunung Sangiang dan Gunung Bodas yang berada pada ketinggian 765 meter diatas permukaan air laut. Desa ini dulu merupakan pusat kasepuhan Adat Banten Kidul (KABK), sebelum akhirnya oleh Abah Anom, sang pemimpin adat, dipindahkan ke Desa Ciptagelar yang letaknya di atas Desa Ciptarasa dengan jarak sekitar 9 km. Masyarakat di desa ini mempercayakan seorang “abah” sebagai sesepuh (orang yang dituakan) untuk memimpin. Seluruh masyarakat Ciptarasa ini beragama Islam. Pekerjaan pokok masyarakat umumnya bertani, beternak, dan berkebun. Pekerjaan sambilan sebagai pengrajin, tukang kayu, kuli bangunan, berdagang. (sumber ada di link ini)

Keunikan masyarakat desa ini masih patuh terhadap adat terutama konservasi alamnya berdasarkan local wisdom yang mereka miliki dari nenek moyang mereka. Beras di sana tidak boleh diperjual belikan demi harmonisasi kehidupan bermasyarakat. Beras juga merupakan tabungan pangan yang disimpan di bangunan Leuit. Kearifan lokal ini merupakan salah satu bentuk ketahanan pangan yang patut ditiru.

Nah ceritanya kami sampai di Pelabuhan Ratu dan mampir ke posko LATIN untuk menjemput pak Denny dan rekannya yang akan memandu kami, sekalian numpang sholat Dzuhur dulu.

Posko LATIN di Pelabuhan Ratu

Nah sebelum kami beranjak pergi meninggalkan Pelabuhan Ratu, kami mampir lebih dahulu untuk makan siang di RM Siti Masitoh yang terletak di dekat terminal Pelabuhan Ratu. Rumah makan ini menyediakan masakan khas Sunda dengan harga yang lumayan murah dan yang jelas lezatttt.

Makanan di RM Siti Masitoh

Seusai makan, kami melanjutkan perjalanan dengan mobil Kijang menuju ke Kantor Seksi Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dengan menyusur jalan raya di sepanjang pantai selatan. Saat itu ombak di pantai sangat besar karena hujan baru saja reda.

Deru ombak

Di kantor tersebut, kami mengutarakan rencana kegiatan yang akan kami laksanakan sekaligus bertanya mengenai prosedur perijinan untuk memasuki wilayah taman nasional yang mengharuskan memiliki surat ijin masuk lokasi (SIMAKSI). Dari sanalah kami mengetahui informasi bahwa untuk mengurus SIMAKSI harus dilakukan Kantor Pusat TNGHS yang berada di Kabandungan dengan melampirkan surat dari sekolah, nama siswa, dengan membayar retribusi dan asuransi.

Kantor Seksi Balai TNGHS

Setelah melihat peta TNGHS, ternyata luas sekali taman nasional ini dan ternyata juga memiliki peran penting bagi ketersediaan air dan oksigen untuk kota Jakarta dan sekitarnya. Dari taman nasional ini ada beberapa sungai yang masuk ke Jakarta, apabila taman nasional ini hancur karena illegal logging maka kota Jakarta dan sekitarnya akan terendam, perusahaan air minum Aqua bisa jadi juga akan berhenti beroperasi karena sumber airnya berasal dari gunung Salak.

Peta TNGHS

Lalu kami menuju ke kantor Kecamatan Cikakak untuk membicarakan perijinan ke Camat Cikakak. Di sana kami diterima dengan staf kecamatan dan dijelaskan prosedur perijinannya yaitu cukup mengirimkan surat pemberitahuan dari sekolah dan ijin mengenai kegiatan tersebut.

Kantor Kecamatan Cikakak

Kami melanjutkan perjalanan menuju ke kantor desa Sirnarasa untuk bertemu kepala desa dan melanjutkan prosedur perijinan dan bantuan fasilitas kesehatan karena di sebelah kantor kepala desa terdapat pusat kesehatan masyarakat. Di kantor desa, kami diterima oleh bapak kepala desa dengan ramah dan beliau dengan senang hati membantu.

Di kantor kepala desa

Pusat Kesehatan Masyarakat

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi menuju ke ujung aspal, itu istilah menurutku karena mobil biasa tidak dapat melaju karena medan jalannya berupa batuan dan licin. Padahal jaraknya tidak jauh dari Jakarta tapi jalannya masih jelek dan hancur. Jadi kami meninggalkan mobil di desa yang berada di ujung aspal tersebut.

Mobil kami di parkir di ujung aspal

Hujan pun masih berlanjut, kami tak mungkin menunda perjalanan karena malam ini kami harus kembali ke Jakarta. Jadi kami pun menempuh perjalanan di tengah hujan deras dengan berjalan kaki. Ojek sih ada dengan bayaran Rp 50.000 sekali jalan dengan resiko terpeleset karena jalanan licin. Ooo nanti saja, naik ojek pas pulangnya saja, sayang uangnya, lebih baik jalan kaki.

Jalan licin dan berbatu, mobil biasa tak akan bisa lewat

Selama perjalanan, kami sambil menikmati pemandangan yang hijau tumbuhan, biru langit, putih awan. Kami berjalan selama satu jam lebih dengan kondisi jalan naik turun terjal. Benar-benar melelahkan karena stamina terkuras karena jalan dan hujan menambah beban berat.Kami pun melalui sebuah sungai yang deras arusnya melalui jembatan yang sedang dibangun, rupanya jembatan yang lama sudah hancur terbawa arus deras sungai itu sekitar seminggu yang lalu dan menghancurkan pembangkit listrik hidro sehingga penduduk desa di sana kehilangan pasokan listrik. Kami pun harus berhati-hati melangkahkan kaki kami.

Karena masih hujan, pembangunan jembatan pun berhenti sejenak. Beberapa penduduk lokal yang bekerja pun menepi, berteduh sekaligus beristirahat sejenak menunggu hujan reda.

Wah perjalanan masih jauh, sungai ini merupakan perjalanan 30 menit pertama. Masih ada 40 menit ke depan lagi dan rupanya jalanannya lebih mendaki lagi. Beberapa kali aku sempat berhenti untuk muntah. Asti pun juga mengalami keram pada kakinya. Sesampai di desa Cisarua, kami beristirahat sebentar di poskamling. Lumayan lah untuk membuang lelah.

Setelah beberapa menit kami beristirahat, kami pun menuju ke rumah beberapa penduduk lokal untuk meminta bantuan mereka untuk mau menerima kehadiran murid-murid kami selama beberapa hari tinggal di rumah mereka. Mereka akan tinggal di rumah penduduk lokal, menjadi bagian dari mereka, apa adanya. Melupakan kemewahan, kenyamanan dan kemoderenan kota. Hidup sederhana.

this picture taken by Mr. Yos

Setelah kami mendatangi beberapa rumah yang akan dijadikan tempat tinggal murid-murid kami, maka kami melanjutkan perjalanan menuju ke desa Ciptarasa sekitar 20 menit perjalanan mendaki karena letaknya ada di atas desa Cisarua ini. Aku sempat berhenti karena kelelahan, sampai Abdul membantu mendorong bahkan menarikku. Thank you Dul… hahaha gara-gara aku malah kau pulangnya jadi masuk angin dan demam sejenak.

Pemandangan disana memang sangat indah. Bagi yang hobi berpetualang di gunung maka tempat ini cocok untuk mereka. Ada yang membuat aku speechless ketika melihat anak kecil dengan ringannya mendaki jalan tersebut sambil membawa kayu bakar. Sedangkan aku sudah ngos-ngosan setengah hidup. Benar-benar terlatih.

Aku ditarik Abdul...thank u Dul!

Akhirnya aku sangat bahagia sekali ketika aku melihat gerbang desa Ciptarasa di depanku….Alhamdulillah, ayo sedikit lagi, ayo kuatlah Har.

Aku duduk lemas mencoba mengumpulkan energi untuk pulih, sambil beberapa rekanku mengunjungi beberapa rumah. Tujuan akhir kami rupanya rumah kepala adat desa ini yang letaknya masih di atas lagi tapi tak jauh. Mau tak mau harus berjalan lagi mendaki.

Kami di ajak makan sore oleh penduduk lokal dengan yaitu Pak Absor, dengan menu Sarden dan lalapan… mmmmm rasanya mantap sekali. Ditemani sebutir kelapa yang berisi air kelapa yang segar dan asli dari pohonnya langsung, menambah nafsu makan kami.  yang menggebu-gebu, terutama Asti :D. Dingin-dingin lapar pula. Makin jadi deh.

Seusai makan, kami menuju ke rumah Abah Anom. Menanjak lagi dan akhirnya….. pintu gerbang kedua… inilah tujuan akhir kami untuk bertemu dengan keluarga Abah Anom, pemimpin Kasepuhan Ciptagelar, untuk meminta ijin berlangsungnya program Live In di desa Ciptarasa ini.

Dan inilah rumah Abah Anom….

Di rumah yang nyaman ini kami bertemu dengan Bapak Karman, saudara dari Abah Anom, untuk meminta ijin menitipkan murid-murid kami di beberapa rumah penduduk desa Ciptarasa. Alhamdulillah beliau mengijinkan.

Setelah beberapa lama beristirahat diiringi dengan obrolan ringan kami meminta undur diri kepada bapak Karman karena hari sudah menjelang Maghrib. Dengan menggunakan ojek, kami menuju ke ujung aspal tempat mobil kami diparkir. Perjalanan dengan ojek hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit saja. Wow… sangat menantang sekali naik ojek karena jalanan licin dan berbatu.

 Alhamdulillah perjalanan kami lancar hingga akhirnya kami kembali selamat sampai di rumah. Petualangan di Gunung Halimun yang tak terlupakan.

Ketua Tim Survey: Asti
Anggota: Abdul, Hari, Pak Komar
Fotografer: Mr Yos
Pemandu: Pak Denny LATIN
Driver: Pak Ubang & Pak Jum

Categories: Jalan-Jalan | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: