Good bye my credit card

Sudah lama aku ingin cerita tentang perjuanganku untuk mundur dari keanggotaan kartu kredit. Aku mendapatkannya dari program salah satu operator telepon karena aku menggunakan pasca bayar dan kataya dianggap loyal dan rajin membayar tagihan telepon per bulanya sehingga tak ada syarat apapun kecuali fotokopi KTP saja untuk mendapatkannya. Waktu itu aku tertarik karena aku tidak memiliki kartu kredit apapun dan sangat sulit apply kartu kredit apabila tidak pernah memiliki sejarah kartu kredit sebelumnya.

Aku mundur bukan karena salah si kartu kredit kok, malah selama ini dia banyak membantu, terutama ketika aku dinas ke Pittsburgh, Amerika Serikat, disana transaksi sekecil apapun menggunakan kartu kredit. Sebagai contoh untuk booking hotel atau hostel secara online harus menggunakan kartu kredit, makan di restoran fast food, bahkan check in pesawat terbang untuk mendapatkan boarding pass juga menggunakan kartu kredit.

Aku hanya ingin lebih ketat mengatur pengeluaran. Gaji gak seberapa tapi inflasi dimana-mana. Mungkin untuk beberapa orang, ini bukan keputusan yang bijak, mengingat bisa jadi ke depannya frekuensi dinas ke luar negeri akan meningkat dan pasti membutuhkan kartu kredit, tapi aku tetap ingat bahwa kartu ini adalah kartu pengganti transaksi saja, bukan menggantikan pengeluaran. Aku mencicil tagihannya per bulan tapi kok gak lunas-lunas, akhirnya aku dan istriku memutuskan untuk melunasi semuanya dan tutup. Agak rugi sih tapi demi tekat tight budget maka meski berat hati namun lega juga aku dapat melepaskannya.

Agak repot juga mengurusnya, pertama harus menelpon call center nya, dan itu butuh waktu lama. Apalagi waktu itu baru saja ada kasus meninggalnya nasabah kartu kredit oleh debt collector salah satu bank jadi aku harus memastikan bahwa ada dokumentasi tercatat dan tertulis bahwa aku telah membayar lunas semua tagihan yang ada, bahkan aku malah kebihan sedikit membayarnya.

Aku mendatangi kantornya di lantai sekian, aku lapor ke pihak security bank bahwa aku ingin menutup account kartu kreditku. Setelah ditulis nomor kartuku maka aku diminta menunggu. Tak lama seorang security memberitahuku bahwa aku tak perlu datang ke sini karena kantor ini khusus menangani penutupan kartu kredit apabila pembayarannya bermasalah. Aku, kata seorang security itu, termasuk nasabah yang cash flow nya lancar jadi disarankan ke kantor yang lain di Jakarta Selatan.Wow, aku dilempar ke sana nih, tapi sedikit lega karena aku jadi tahu bahwa aku termasuk nasabah yang rajin membayar :p.

Lalu aku datangi kantor yang di Pondok Indah, ternyata di sana dibilang juga bahwa aku tak perlu datang ke sini karena penutupan kartu kredit dapat melalui call center. Tapi mereka bersedia membantu dengan menghubungi call center. Aku dibawa ke ruangan kecil yang dilengkapi dengan CCTV dan perekam suara. Kemudian dengan bantuan salah satu stafnya aku dibantu proses penutupan kartu kredit. Ketika ditanyakan alasan penutupan kartu, aku menjawab karena dalam waktu dekat aku akan melanjutkan pendidikan ke Jepang dan tidak membutuhkannya lagi. Memang benar saat itu aku menunggu pengumuman beasiswa Monbukagakusho. Setelah beberapa lama, akhirnya proses penutupan selesai. Malah aku diberi voucher belanja di hypermarket besar sebagai point reward selama ini yang belum aku tukarkan. Alhamdulillah. Aku catat nama staf yang membantuku, aku foto guntingan kartu kredit untuk dokumentasiku. Aku cuma diminta menunggu kiriman dari bank tentang bukti semua tagihan yang telah lunas dan saat ini sudah datang bersama vouchernya.

Alhamdulillah sekali lagi, tak ada beban lagi. Hanya saja, ketika aku mendapat tugas ke luar negeri maka booking hotel juga melalui kartu kredit, ketika itu aku memakai kartu kredit rekan, untungnya masih diperbolehkan oleh staf hotelnya. Kartu kredit memang penting tapi aku masih belum pandai menggunakannya. Selamat tinggal kartu kreditku, terima kasih selama ini kau telah banyak membantuku. Suatu saat jika aku sudah pandai dan pantas maka aku akan kembali kepadamu.

Advertisements
Categories: Curhat, Hari ini aku belajar... | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: