Belajar Dipimpin dan Memimpin

Beberapa minggu ini aku lewati untuk mengamati dan terjun langsung belajar ke dalam sebuah kepanitiaan berskala besar dan melibatkan banyak sekali sumber daya manusia. Aku mendapat kesempatan untuk belajar dipimpin dan memimpin. Hasil pengamatanku, ternyata, tidak semua orang dapat diajak bekerja sama, bahkan ada yang sulit untuk bekerja sama, meskipun ada juga yang sangat mau bekerja sama dan tentunya jumlah tak banyak. Aku juga mengamati, ada orang yang berjiwa pemerintah, ada yang sabar, ada yang pemberontak, ada yang cuek tak peduli. Yang cuek ini juga ada dua tipe, positif dan negatif. Positifnya, diperintah apa saja, bahkan dimaki-maki pun tetap cuek dan terus bekerja. Tipe yang kedua adalah cuek negatif, jarang pernah datang ke pertemuan-pertemuan kelompok, jarang mengupdate informasi, jarang berkomunikasi cenderung abai. Semakin bermacam-macam manusianya makin banyak karakteristiknya.

Memimpin banyak orang memang tidak akan semua orang akan menyukai sang pemimpin, apalagi kalau ada keputusan-keputusan yang tidak memuaskan. Ada satu prinsip yang harus dipegang yaitu perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh orang lain. Pendekatan dari secara personal kadang perlu dilakukan untuk memotivasi. Tinggal orang yang dimotivasi ini apakah bermotivasi tinggi atau rendah. Kadang ada pemimpin yang dikejar target yang kadang mengabaikan pendekatan personal ini, yang ia lakukan adalah pendekatan komando alias perintah.

Memimpin tak lepas cara kepemimpinan seseorang. Menurut Nurkolis (2003), dalam bukunya Manajeman Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi, kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Kata kuncinya ada di memengaruhi atau memberi contoh. Sering aku amati seorang pemimpin tidak memiliki daya untuk memengaruhi bawahannya karena kurangnya memberi contoh, tapi sangat hebat dalam memberikan instruksi dan menggunakan wewenangnya untuk memberikan surat teguran.

Tuntutan seorang pemimpin memanglah berat karenalah kadang memimpin itu dikatakan sebuah seni. Memimpin rasanya berbeda dengan memerintah.Tantangan yang dipimpin pun juga berat karena harus taat aturan dan harus tetap berkonsentrasi dengan hasil pekerjaannya meskipun beban pekerjaannya berat. Nah disitulah jiwa pemimpin harus masuk, minimal berempati atau membantu bawahannya, walaupun tak banyak yang bisa dilakukan namun setidaknya pemimpin ikut merasakan dan munculah empati kepada bawahannya. Akibatnya bawahannya pun merasa dihargai. Penghargaan tak harus berupa pujian atau nominal tertentu. Mau mengerti beban kerja bawahan itu pun juga cukup apalagi jika membantu.

Ada juga motivasi dari seorang pemimpin yang perlu dikembangkan berkaitan dengan cara berkomunikasi dan bahasa tubuh. Pemimpin sebaiknya menggunakan magic words yang terdiri dari tolong, maaf, dan terima kasih. Bahasa tubuh juga perlu dikembangkan, memberi instruksi dengan bahasa tubuh dan intonasi suara yang buruk pun juga mempengaruhi. Ada yang mengatakan, bahwa sebagai seorang profesional harusnya tak peduli dengan segala bentuk penyajian dalam instruksi, cacian dan makian. Yang utama dari seorang profesional adalah mengerjakan tugasnya dengan baik. Menurut pendapatku, profesional pun punya hati. Jika bekerja dengan hati maka hasilnya sangat memuaskan. Bahkan ada yang bilang, dicaci makipun tak apa asalkan masih masalah pekerjaan, asal tidak mencaci maki keluarga dan orang tua. Ada juga yang menambahkan, separuh gaji adalah hasil dari cacian atasan. šŸ˜€

Jadi intinya baik dipimpin atau memimpin sebenarnya adalah seni memainkan komunikasi, namun kadang-kadang beban pekerjaan yang berat atau dikejar target membuat masing-masing menjadi stress, terburu-buru dan akhirnya marah. Jadi intinya memimpin itu sebuah keterampilan yang perlu dipelajari. Pertanyaannya, aku termasuk yang mana nih? Jawabannya aku ini masih belajar dipimpin dan memimpin.

Mohon maaf aku haturkan dengan segala kerendahan hati, karena uraian di atas ini sedikit banyak menyinggung para pembaca, karena aku baru belajar menulis. Menulis apa yang aku telah amati, rasakan, dan dengar. Untuk itu aku membutuhkan saran dan kritik yang membangun.

 

Categories: Curhat, Hari ini aku belajar... | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: