Berpetualang di Istanbul (bagian 1)

Alhamdulillah, segala puji kepada Allah karena berkat ijin-Nya, akhirnya aku dapat berpetualang di Byzantium alias Konstantinopel atau sekarang lebih dikenal dengan Istanbul, Turki beberapa tahun yang lalu. Ini juga karena transit menunggu pesawat, yang aku manfaatkan dan aku beranikan diri untuk keluar dari bandara Istanbul. Ini adalah salah satu petualanganku yang murah meriah nan irit ala backpacker.

Tidak perlu susah-susah membuat visa Turki di Indonesia karena sejak kerja sama bilateral Indonesia-Turki, visanya dapat diurus ketika datang di bandara (visa on arrival), aku pikir harus menyiapkan pas foto, lembar konfirmasi hostel (hostel loh ya bukan hotel, mohon dicatat itu), atau yang lain. Eh tinggal ke loket dan petugas ceweknya gak nanya gak nyapa cuma bilang ke aku tiga kata saja yaitu “Twenty five dollars“. Passport pun ditempeli visa berupa sticker kecil. That’s it. Tinggal antri di loket imigrasi dah. Petugasnya pun gak kepo-kepo amat meski itu tugasnya untuk kepo. Tinggal stempel di passport beres dan keluar dari loket imigrasi. Semudah itu loh masuk ke Turki.

Counter Visa on Arrival di Bandara Istanbul

Stiker Visa Turki

Interview dengan petugas Imigrasi Turki

Bandara Istanbul lumayan ramai tapi lebih modern dibanding Soetta. Seperti bandara internasional lainnya di sana ada  duty free shop dan tak ketinggalan money exchange.

Suasana Bandara Int’l Istanbul

Suasana Bandara Int’l Istanbul

Saatnya menukar US Dollar ke Turkish Lira (TL atau dibaca Tele), hanya 50 dollar saja. Serius loh aku gak banyak keluar uang. Untuk hostel dengan kamar tipe dormitory (satu ruangan 12 tempat tidur ala asrama) aku hanya mengeluarkan uang sekitar Rp 300.000 / 2 malam. Hehehe hasil googling di Internet. Lihat di situs TripAdvisor, dimana di sana aku juga mengulas hostelnya.

Tak lupa aku mencicipi musholla untuk sholat Shubuh di sana. Rapi bersih, cumaaa toilet di Mushollanya agak kotor, mungkin karena masih pagi kali ya, jadi belum ada petugas piketnya. Tapi uniknya toilet di luar musholla malah bersih banget.

Oke, sholat sudah maka berikutnya adalah menuju ke hostel. Tetap menggunakan cara yang irit yang menggunakan kereta listrik yang ada di bandara. Tinggal lihat rutenya, ternyata aku harus turun di Zeytinburnu Istasyonu (stasiun Zeytinburnu), sepintas bahasanya mirip-mirip dengan bahasa Indonesia yah, kalo di Indonesia, kita bisa baca stasiun, kalo di sana bacanya “istasion”. Kemudian aku pindah ke trem dengan tujuan ke Kabatas. Nanti turun di Sultanamet.

Pagi-pagi sudah banyak yang pakai KRL tapi perlu dicatat ya, tidak seperti KRL di Jabodetabek, yang umpel-umpelan. KRL di sana rapi dan tertib. Penumpang tidak perlu membeli karcis ke loket, tapi menukarkan uang koin atau uang kertas ke mesin penjual koin kereta (Jetonmatik). Butuh sekitar 25 menit dari bandara menuju ke Sultanahmet Istasyonu. Oh iya, dari KRL terus pindah ke Trem. Tremnya serasa di KRL loh, cuma dia berjalan di rel yang ada di tengah jalan raya, jadi bisa ngerem mendadak kalau ada mobil yang tiba-tiba nyelonong di jalurnya. Kalau di Jakarta seperti Bis Trans Jakarta yang diserobot mobil kecil.

Perjalanan menggunakan KRL dari bandara ke Sultanahmet

Sesampainya di Sultanamet Istasyonu, aku kebingungan mencari hostelnya. Aku tanyakan ke penduduk lokal alamat hostelnya kebanyakan tidak ada yang tahu. Wadow, ini pura-pura tak tahu atau bagaimana sih. Okelah kalo begitu sebelum berjuang mencari hostelnya, aku mau sarapan dulu ah, tapi dimana jam 8 pagi begini belum banyak resto yang buka. Aku lihat ada McD disana tapi buka jam 8.30. Ya sudahlah aku tunggu saja sambil mengambil foto-foto di sana.

Pagi Hari di Sultanahmet

Setengah jam berlalu, aku segera menuju ke McD. McD ini satu-satunya resto yang buka pertama di pagi hari.Ada yang unik di sini, sambalnya tidak pedas sama sekali, untung aku membawa saus sambal dari Indonesia yaitu merek Sasa Ekstra pedas. Karena masih sepi, aku bilang ke pelayannya, mau nyobain sambal Indonesia gak, dia mau nyoba dengan membawa satu sendok makan, aku tuangkan sambal Sasa Ekstra Pedasku dan dia mencoba dengan mengoleskan kentang goreng dan dia bilang terlalu pedassss. Hahahahahahaha. Pagi-pagi dah ngerjain orang. Orang Turki pula. Aku bilang, di Indonesia pedasnya seperti ini semua. Hahahaha.

McD di Sultanahmet

Okeh, sarapan sudah, sekarang semangaaatttt mencari hostel. Hostel Eurasia terletak di Seyit Hasan Cad. No: 12 Sultanahmet, Old City Sultanahmet, 34110 Istanbul. Akhirnya ada penduduk lokal yang mengetahui alamatnya dan mengarahkanku untuk menuju ke belakang Masjid Biru. Aku masih bingung pula nih, akhirnya aku telpon hostelnya, ya elah pake bahasa Turki lagi, gak kehabisan akal aku cari orang yang bisa bahasa Turki dan bahasa Inggris lalu aku minta tolong ke dia untuk berbicara dengan staf hostelnya. Tak lama orang itu menunjukkan arahnya. Wah terima kasih pak, Alhamdulillah hotelnya ketemu. Ternyata benar seperti yang di tulis di Internet, hostelnya dekat dari Aya Sofya dan Masjid Biru.

Hostel Eurasia, Istanbul

Hostel ini lumayan lah, tempatnya kecil, lantai bertingkat tanpa lift, cuma ada satu tangga. Kamarku, asrama, berada di lantai dasar di bawah tangga, sedikit sinar matahari di sana hanya beberapa lampu, tapi memiliki beberapa kamar mandi dan toilet jadi jangan khawatir ngantri untuk ke toilet. Jika ingin lebih nyaman, mengambil lantai 1 atau ruang lantai 2 untuk kamar pribadi. Nah, sangat cocok untuk aku dengan anggaran yang ketat. Hostel ini menyediakan akses nirkabel ke Internet dan komputer portabel di ruang tamu tetapi uniknya, alfabet di keyboard menggunakan huruf Turki. Puyeng dah bacanya, mau login ke e-mail aja salah terus. Staf hostel cukup ramah dan membantu. Senangnya lagi ternyata pihak hostel mengijinkan aku boleh menitipkan tas bawaanku di sana, secara waktu check in masih jam satu siang atau 5 jam lagi. Jadi aku bisa berjalan-jalan tanpa tas yang berat. Horeee.

Aku kemudian menuju kawasan masjid biru atau Blue Mosque dan Aya Sofya di wilayah Sultanahmet. Banyak pengunjung yang antri untuk masuk ke museum Aya Sofya, jadi aku memutuskan untuk masjid biru saja. Eh di masjid biru juga antri masuk tapi tidak sampai memakan waktu yang lama. Seluruh alas kaki pengunjung dimasukkan ke dalam tas plastik yang telah disediakan dengan gratis. Di dalam masjid, pengunjung hanya diperbolehkan untuk mengamati saja, tidak diperkenankan untuk maju sampai ke shaf pertama, kecuali kalau pengunjung ingin melakukan shalat. Rata-rata pengunjungnya merupakan non-muslim jadi mereka hanya berfoto-foto saja sambil mengamati keindahan disain bangunan masjid dan kaligrafinya.

Blue Mosque, Istanbul

Setelah berlama-lama di masjid biru, aku menuju ke taman Fatih Belediyesi, tak jauh dari masjid biru. Waktu itu ada lomba lari jadi ramai sekali. Di taman itu banyak kucing-kucing yang bagus-bagus dan jinak-jinak. Yang keren adalah taman itu dilengkapi dengan fasilitas Wifi gratis untuk Internet.

Taman Fatih Belediyesi

Berlama-lama di taman membuatku lapar, oh tentu saja karena memang sudah waktunya makan siang. Waktu berjalan dengan cepat. Aku mampir saja ke kedai kebab yang tidak jauh dari taman itu.

Kedai Kebab

Selesai makan siang maka agenda berikutnya adalah mengelilingi kota Istanbul dengan menggunakan Hoop On Hoop Off Bus. Untuk yang satu ini biayanya mahal kalau dirupiahkan sekitar Rp 300.000. Tapi sepadanlah dengan apa yang aku dapat. Memang kotanya unik dan banyak gedung-gedung bersejarah. Kadang aku tertawa ngakak, ternyata di sana ada Partai Demokrat, penulisannya sama lagi. Kalau tak percaya pantengin foto di bawah ini sampai ketemu ya.

Istanbul City Tour

City Tour ini memakan waktu kurang lebih 1,5 jam jika kita tidak turun dari bis. Yang membuat jadi lama apabila kita turun ke objek tertentu di jalur bis. Hal ini tidak mengganggu penumpang lain yang tidak mau turun karena setiap 30 menit selalu ada bis Hoop On Hoop Off yang akan menjemput kita asalkan kita berada di stop point yang telah ditentukan. Dengan bis, aku melewati jembatan yang menghubungkan daratan Asia dengan daratan Eropa. Selat yang dilewati jembatan itu adalah Selat Bosphorus. Anginnya kencang sekali ketika melewati jembatan itu. Yang ada aku menggigil, bagaimana tidak, suhu waktu itu sekitar 10-12 derajat Celcius ditambah angin pula.

Setelah puas mengelilingi kota Istanbul, maka aku kembali ke starting point bis tadi yaitu di depan Aya Sofya di Sultanahmet. Ah waktu sudah sore, saatnya kembali ke hostel. Eit sebelum balik aku berburu nasi goreng dulu ah, lagi pengen banget, tapi ada gak ya? Setelah tanya sono tanya sini, akhirnya aku menemukan resto nasi goreng. Letaknya tak jauh dari Blue Mosque, yaitu di sebelah timur laut, berjalan sekitar 100 meter.

Restoran Chinese Food

Eh gak nyangka di resto, aku ketemu wanita Indonesia yang semasa kecil tinggal di Cinere, Depok, namanya Grace, dia menikah dengan orang Turki. Kejutannya lagi pelayannya bisa berbahasa Indonesia padahal bukan orang Indonesia. Kata Grace memang banyak orang Indonesia yang berkunjung ke resto ini. Sayangnya, kata Grace selama bertahun-tahun hidup di Istanbul, dia belum menemukan restoran Indonesia. Mungkin ada tapi dia tidak tahu. Ah ini dia nasi gorengku telah tiba. Mari kita santap yuks.

Nasi Goreng

Tapi standar porsi makan orang non-Indonesia itu selalu banyak ya, jadi karena tidak habis maka harus dibungkus, siapa tahu juga tengah malam kelaparan, kan bisa dijadikan cemilan.

Okeh malam mulai tiba, saatnya kembali ke hostel, jaraknya sih tak jauh cuma 10 menit berjalan kaki. Malam ini adalah adalah malam takbiran. Harusnya kalau di Indonesia ramai terdengar suara takbir bertalu-talu, tapi disiini kok sepi ya, apalagi kompleks masjid biru. Ya sudahlah… besok pagi aku akan bangun pagi-pagi sekali untuk sholat Idul Adha di Masjid Biru. Aku pun bertakbir dalam hati saja. ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR LA ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR WALILLAH ILHAM.

Advertisements
Categories: Hari ini aku belajar..., Jalan-Jalan, Keliling Dunia, Kisah | Tags: , , , , , , , , ,

Post navigation

Comments are closed.

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: