Berpetualang di Istanbul (bagian 2-tamat)

Alhamdulillah, ini adalah hari keduaku di Istanbul. Pagi-pagi buta, aku sudah bangun, mandi, memakai baju yang bagus lalu segera menuju ke Masjid Biru untuk menunaikan sholat Shubuh dan tentu saja sholat Idul Adha.

Jam 5.30 pagi aku berangkat menuju ke Masjid Biru dengan berjalan kaki. Dekat sekali dari penginapan hanya berjalan 5 menit saja. Dari kejauhan lampu-lampu di menara masjid ini berkilauan di waktu Shubuh. Ya Allah, betapa besar kekuasaanMu, aku bisa berada di salah satu masjid termegahMu. Subhanallah, masjid ini dibuat pada abad ke-16 masih berdiri kokoh dan megah dengan desain yang indah dengan warna biru yang mendominasi.

Blue Mosque saat Shubuh

Tetap saja aku tidak mendengar suara takbir dari masjid, yang terdengar adalah suara khutbah. Aku bingung kok khutbah shalat Id sudah dimulai ya, kapan shalat Id nya.

Di luar kompleks masjid banyak sekali polisi dan mobil-mobil polisi. Kawasan masjid biru dikelilingi oleh pagar. Biasanya aku melewati pintu selatan tapi aku diwajibkan melalui pintu timur dan digeledah pula. Tumben nih, karena kemarin-kemarin tidak seketat ini. Bahkan kamera tidak diperkenankan untuk dibawa masuk, meskipun ada beberapa orang yang berhasil menyembunyikan kamera dan lolos dari penggeledahan.

Seusai diperiksa, aku langsung masuk ke dalam, aku sengaja berwudhu di penginapan, karena di Masjid Biru, tempat wudhunya ada di luar masjid dan di waktu shubuh bulan November suhunya bisa mencapai 10-12 derajat.

Di dalam masjid sudah banyak orang sedang mendengarkan khutbah dari Imam Besar Masjid Biru dengan bahasa Turki. Aku langsung melaksanakan shalat Shubuh terlebih dahulu. Aku menyimpulkan bahwa saat itu dilakukan kultum. Uniknya mimbar kultumnya bukan ada di depan seperti halnya kultum di masjid di Indonesia tapi ada disamping serong kiri jamaah. Aku mengambil foto ini dari kamera handphone. Sayang aku tidak membawa kamera digital karena tidak diperbolehkan untuk di bawa.

Mendengarkan Kultum

Selama kultum, aku berusaha menebak-nebak apa yang disampaikan oleh sang Imam Besar. Aku kaget mendengar sang Imam mengucapkan “Tsunami in Indonesia”, wah ada apa ini kok tiba-tiba sang Imam mengucapkan itu, masa sih dia tahu ada aku hehehehe. Mungkin dia menyampaikan bahwa musibah itu bisa terjadi dimana sehingga kita harus tetap meminta keselamatan dariNya.

Sejam kemudian datang serombongan pria-pria berjas hitam (Men in Black) mengawal seseorang. Dan seseorang itu langsung menempati shaf terdapan. Wah VVIP datang nih. Siapa dia aku juga tidak tahu. Bisa jadi walikota atau artis atau siapapun yang terkenal di Istanbul atau di Turki. Para Men in Black (MIB) ini kekar-kekar dengan alat komunikasi terpasang di telinga dan segera menyebar ke seluruh bagian masjid.

Rombongan VVIP datang, tampak dari kejauhan

Tak lama, shalat Id dimulai, prosesi seperti biasa hanya saja, takbir 7 kali pada rakaat pertama dan takbir 5 kali pada rakaat kedua bukan di awal sebelum membaca surat Al Fatihah, tapi dilakukan sebelum ruku’. Rupanya berbeda dengan di Indonesia tapi tidak melanggar aturan, yang penting takbir 7 kali di rakaat pertama dan takbir 5 kali di rakaat kedua.

Yang unik, setelah shalat Id dilakukan khutbah yang tidak begitu lama, kemudian setelah doa di penghujung khutbah selesai, barulah imam memimpin jamaah untuk mengumandangkan takbir.

Mendengarkan Khutbah Idul Adha

Setelah shalat Id selesai, sebagian besar orang-orang berjubel ke depan. Aku bingung, ada apa ini? Masa pembagian zakat fitrah, ini kan bukan Idul Fitri, lha ya mosok sih orang Turki ini melarat-melarat wong Turki ini masih termasuk negara yang kaya lah. Aku juga tertarik maju ke depan siapa tahu ada beneran orang VVIP itu bagi-bagi rejeki berupa Tele (Turkish Lira) hehehehe.

Di kerumunan itulah aku bertemu dengan orang Indonesia yang sedang melanjutkan studi Doktoral di Marmara University, namanya Pak Abbas, orangnya masih muda, mungkin seumuran atau lebih tua sedikit, Pak Abbas juga seorang penulis buku. Pak Abbas bilang bahwa VVIP itu adalah Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan atau biasa dipanggil Erdogan.

Waktu itu aku tidak tahu nama lengkapnya, hanya terdengar R. Doohan, lah kok kayak Juara Motor GP yang namanya M. Doohan. Ternyata namanya Erdogan.

Pak Abbas mengajakku mengantri untuk bersalaman, aku bingung kenapa kok orang-orang ini rela antri bersalaman dengan perdana menteri ini. Pak Abbas menjawab, orang yang satu ini berbeda dengan pejabat lain terutama di Indonesia karena rendah hati dan masih mau bergaul dengan rakyat biasa. Buktinya ada disini dan ya yang aku alami ini. Pak Abbas menambahkan, Erdogan ini tegas luar biasa seperti PM Iran, Ahmadinejad namun tidak seagresif Ahmadinejad, lebih mengutamakan dialog jika masih bisa. Aku hanya bilang “ooooo” dengan panjang.

Penjagaan MIBnya juga tidak selebay Paspampres negara yang aku tinggali sekarang ini, namun mereka tetap waspada dan siaga, buktinya mereka berhasil menangkap seseorang yang mereka anggap berbahaya, menurut Pak Abbas biasanya adalah kelompok separatis suku Kurdi.

Antrian salaman dengan PM Erdogan

Untung di Indonesia, ketrampilanku dalam antrian sudah terlatih jadi dalam hitungan menit aku sudah bisa sampai ke depan dengan mudah, sedangkan Pak Abbas yang tadi bersamaku tertinggal di tengah. Di samping Erdogan ada imam besar masjid biru. Aku hanya menunggu giliran sebentar karena orang-orang didepanku hanya bersalaman saja karena MIBnya meminta salaman dipercepat. Ketika sampai giliranku, aku mengucapkan salam kepada PM Erdogan.

HP: Assalamualaikum (sambil bersalaman dan akan mencium tangannya sebagai tanda hormatku)
PM: Walaikumsalam, where you come from? (sambil menarik tangannya cepat-cepat sehingga tidak bisa aku cium tangannya dan memandangku)
HP: I come from Indonesia sir
PM: Masya Allah

Setelah itu pembicaraan tidak dapat dilanjutkan lagi karena MIBnya memintaku untuk lanjut bersalaman dengan imam masjid biru. Tak lama dibelakang, Pak Abbas hanya bersalaman tanpa ditanya oleh PM Erdogan. Aku bertanya ke Abbas kira-kira alasan mengapa PM Erdogan dan Imam tidak mau dicium tangannya meskipun itu sebagai tanda hormat. Pak Abbas hanya menjawab bahwa mereka tidak mau dikultuskan, hanya itu jawabnya. Seperti biasa aku hanya bisa menjawab “oooo” dengan panjang.

Hanya itu saja pertemuan singkatku dengan Perdana Menteri Turki. Meski sebentar saja memang terlihat jika Erdogan ini seorang muslim yang rendah hati, wajahnya bersih bersinar. Sayang sekali semua ini tidak ada fotonya karena MIBnya melarang adanya kamera.

Seusai shalat Id tidak ada pemotongan hewan kurban. Umumnya hewan kurban disalurkan ke negara-negara yang membutuhkan seperti Palestina, Afghanistan, atau mungkin Indonesia.Yang ada setelah shalat Id, ada jamuan sederhana, para jamaah diberikan gratis sup hangat di luar Masjid Biru. Lumayan ada yang hangat-hangat gratis di tengah dinginnya udara pagi.

Jamuan sup gratis di luar kompleks Masjid Biru

Sup lezat nan hangat

Setelah shalat Idul Adha, dengan di antar oleh Pak Abbas, aku bergerak menuju ke pelabuhan Istanbul untuk menjelajah selat Bosphorus, sebuah selat yang memisahkan kota Istanbul daratan Asia dengan daratan Eropa. Aku berjalan kaki dari hostel, ah rupanya aku dan Pak Abbas salah ambil jalur dan memutar lebih jauh sehingga berjalan menyisir pesisir. Tak apa-apa karena aku jadi tahu ada benteng terbentang di pesisir itu. Benteng itu merupakan pertahanan kota Konstantinopel terhadap serangan bangsa lain.

Angin laut sepoi-sepoi menerpa ditambah sinar matahari yang hangat menemaniku. Sekitar 45 menit aku berjalan dan sampai di pelabuhan. Di pelabuhan, banyak orang Turki yang menawarkan jasa mengantarkan turis ke selat Bosphorus dengan menggunakan kapal mereka. Untung ada Pak Abbas yang bisa bahasa Turki, sehingga dia bisa nego harganya dan kapal siap berangkat jika sudah penuh. Menjelajahi selat Bosphorus memakan waktu sekitar dua jam karena perjalanannya bolak-balik. Pemandangannya seperti pada gambar bawah ini.

Perjalanan ke Dermaga + Pemandangan Selat Bosphorus

Seusai menikmati pemandangan Selat Bosphorus, masih dengan Pak Abbas, aku berjalan kaki menuju ke pasar tradisional, aku lupa namanya, yang jelas masih ada di depan pelabuhan itu. Yah sekedar jalan-jalan saja, tidak untuk belanja. Barang yang dijual yah mirip di Indonesia lah.  Tak lupa mencari toilet karena sudah kebelet pipis. Rupanya ada toilet umum di dekat sana. Yah kondisinya sama seperti di Indonesia, kurang dibersihkan saja. Ramai pula. Kalau di sana harus bayar dulu sebelum pipis, kalau di Indonesia kan bayar belakangan.

Toilet Umum

Ah lega setelah bertemu toilet. Oke berikutnya aku menuju ke Aya Sofya dengan melewati pasar tradisional. Sekalian makan siang di Resto Bambi yang terletak di salah satu blok di pasar tersebut.

Resto Bambi

Makan siangku. Yeah ketemu nasi lagi.

Setelah makan siang, aku melanjutkan perjalanan melewati pasarnya. Dan beginilah situasi pasarnya.

Pasar di Istanbul

Setelah sekitar 15 menit berjalan kaki aku sampai di Sultanahmet lagi tepatnya di Museum Aya Sofya (Hagia Sophia), yaitu bangunan bekas basilika, masjid, dan sekarang museum. Jadi, saat Konstantinopel (sekarang Istanbul) di bawah kekaisaran Romawi Timur ditaklukkan Sultan Mehmed II dari Turki Utsmani, beliau memerintahkan mengubah basilisk itu menjadi masjid. Berbagai modifikasi terhadap bangunan segera dilakukan agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan mesjid. Patung, salib, dan lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Hampir 5 abad Aya Sofya ini digunakan sebagai mesjid. Lalu pada tahun 1937, Mustafa Kemal Atatürk mengubah status Aya Sofya menjadi museum. Beberapa bagian dinding dan langit-langit dikerok dari cat-cat kaligrafi hingga ditemukan kembali lukisan-lukisan sakral Kristen. Sejak itu, Aya Sofya dijadikan salah satu objek wisata terkenal di Istanbul. (sumber: Wikipedia)

Aya Sofya selalu ramai dengan pengunjung, aku amati dari pagi sampai sore ini. Yah sudahlah daripada nunggu sepi berarti aku gak masuk-masuk dong, antri sebentar tak apalah. Kebanyakan pengunjungnya adalah rombongan, beruntung aku bukan rombongan jadi tak perlu antri menggunakan alat audio penterjemah, jadi langsung masuk ke museumnya. Keindahan arsitektur Byzantium tersaji dalam bangunan Aya Sofya ini. Subhanallah.

Aya Sofya

Aya Sofya

Aya Sofya

Aya Sofya

Satu setengah jam berkeliling di museum ini, akhirnya aku kelelahan sendiri dan keluar dari Aya Sofya untuk menuju ke Masjid Biru untuk melaksanakan sholat Ashar dan sekaligus menunggu untuk sholat Maghrib. Bersyukur sekali aku bisa kembali sholat di masjid ini. Sore hari airnya sudah mulai dingin, brrrrr.

Blue Mosque di Sore Hari

Setelah sholat, aku kembali ke hostel untuk beristirahat sebentar karena malamnya akan mengunjungi Taksim, salah satu pusat keramaian & perbelanjaan di Istanbul.

Ah lega rasanya kaki bisa selonjor di kasur. Tidur sebentar dan mandi menyegarkan badan ini. Sekitar jam tujuh aku makan malam di Med Cezir Restaurant, resto khas Turki di dekat hotel. Rupanya resto itu pernah di kunjungi oleh Jimmy Carter, mantan Presiden Amerika Serikat terlihat dari fotonya sedang makan di resto itu.

Makan Malam di Resto khas Turki

Seusainya aku diajak ke Taksim dengan menggunakan trem. Jadi dengan trem menuju ke Kabatas lalu ganti ke kereta bawah tanah. Uniknya disini, kereta bawah tanahnya ini ditarik kabel. Karena daerah Taksim letaknya lebih tinggi. Lihat saja perjalananku di gambar bawah ini.

Jalan Malam ke Taksim

Di Taksim, serasa berjalan di daerah Blok M – Melawai, banyakpenjual kaki lima dan toko-toko pakaian, handphone, cenderamata, makanan, sampai ke klub hiburan malam yang menampilkan tarian Belly Dance. Yang bikin aku ketawa ada toko kebab yang namanya Konak Kebab.. hahahaha padahal kalau di Indonesia itu artinya ******. 😀

Seperti biasa, tak ada barang yang ingin kubeli di Taksim, meskipun ingin aku tak bisa membelinya karena masalah tight budget. Ngirit. Makan malam aja di traktir. Hahahaha. Jadi kalau ditanya oleh-oleh, mohon maaf ya cuma oleh-oleh foto saja ya. Ini adalah foto-foto koleksiku. Maaf ya kalau tidak bagus karena aku masih amatir nih.

Oleh-oleh Foto 🙂

Nah hari semakin malam, lalu aku kembali ke hostel untuk beristirahat karena hari ini memang melelahkan, dari pagi hingga malam berpetualang menjelajah sebagian kecil kota Istanbul. Apalagi besok pagi-pagi sekali aku harus ke bandara untuk mengejar pesawat. Yah lumayanlah, meski transit 2 hari 2 malam di Istanbul tapi sangat berkesan, someday, somehow, I will be back soon.

“Hope to see you back in Istanbul soon”

Alhamdulillah selesai.

Advertisements
Categories: Hari ini aku belajar..., Jalan-Jalan, Keliling Dunia, Kisah | Tags: , , , , , , , | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Berpetualang di Istanbul (bagian 2-tamat)

  1. Subhanallah bisa bersalaman dengan PM Erdogan. kerenn.. saya cuman baca kisah nya.. >_<

    • Terima kasih sudah mampir ke blog saya dan memberikan komentar. Saya menghargainya.

      Man jadda wajada bu. Hari ini ibu membaca kisah saya, tapi saya yakin, Insya Allah, suatu saat ibu memiliki kisah yang lebih hebat dengan bertemu dengan tokoh-tokoh dunia. Bermimpilah bu, dan Allah akan memeluk anda dengan mimpi anda.

  2. dian

    ada rincian biaya backpacker ini nggak ya, dari mulai pesawat dll

    • Pesawat PP sekitar 9 juta, visa 250rb, naik trem/KRL sekitar 50-100rb, menginap di hostel sekitar 150rb/malam, sekali makan yang sederhana n ngirit sekitar 50rb, air minum botol kecil sekitar 5rb, yang mahal itu bis hoop on hoop off nya sekitar 300rb tapi bisa menjangkau seluruh tempat wisata dan bebas naik turun dalam 1 hari itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: