Andai ku tak bicara

Naskah FTV :p

Nama panggilanku Reno, seorang mahasiswa yang telah berhasil melewati kegiatan Kuliah Kerja Nyata atau KKN di desa Sawahan, sebuah desa di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Mulanya dugaanku tentang Kuliah Kerja Nyata itu sengsara tapi semua itu tidaklah seperti dugaanku, yah mungkin kondisi desaku lebih baik daripada desa kelompok yang lain.

Pertama kali aku bertemu dengan anggota kelompokku mungkin aku ngga’ belum kenal dengan masing-masing orangnya sehingga aku menganggap aku merasa asing, sehingga aku merasa minder bila berada ditengah-tengah mereka, apalagi aku dari Fak. Pertanian, biasanya orang menganggap remeh Fakultas Pertanian karena memang rata-rata yang di Fakultas Pertanian adalah orang buangan yang ngga’ diterima di Fakultas pilihan mereka di universitasku, lagipula aku merasa ilmuku masih ngga’ ada apa-apanya di banding orang desa dalam hal menanam, itulah yang pertama kali aku rasakan. Rasanya asing banget, tapi aku harus berjuang untuk beradaptasi.

Pada hari keberangkatan, kami berangkat dengan kira-kira 18 bus menuju Nganjuk. Hari pertama aku merasa ngga’ betah ya mungkin karena aku belum kenal baik dengan teman-teman satu kelompok, pokoknya pada minggu pertama aku masih menyesuaikan diri dengan mereka, seringkali aku mendongkol pada temanku Wahyu yang sering ngledekin aku, emang sih anaknya jago ngledek, mulanya kutahan dan kutahan tapi udah ngga’ kuat nahan, ingin kuhajar si Wahyu itu.

Aku bermain dengan pikiran bawah sadarnya saja, jadi aku negur Wahyu itu langsung pas lagi tidur. Aku berkata seperti ini “Lihat dirimu sekarang, tidak berdaya kan! Sekarang lho kalo kamu diapa-apain kamu ngga’ bisa apa-apa kan! Makanya jaga mulutmu jangan menyinggung perasaan orang lain, sudahlah lihat dirimu sekarang!” begitu kataku saban dia tidur selalu aku bilang begitu.

Eh ternyata si Wahyu masih ada temannya lagi namanya Yono yang agak bandel ngledekin aku, lalu aku berusaha mendekati Yono, dan ternyata ada sela-selanya yang bisa bikin Yono agak sungkan sama aku. Tinggal si Wahyu nih, ternyata Allah memang Maha Mendengar, doaku terkabul ternyata dia adalah murid dari kakak tiriku, dia berasal dari SMA di Surabaya, lalu dia mengenal kakak tiriku yang guru di SMA di sana dan aku tertawa terpingkal-pingkal, dia heran, lalu aku ceritakan semuanya asal-usulku dan kakak tiriku, nah dia juga cerita bahwa dia adalah anak paling nakal di SMA itu dan pernah di semprot habis-habisan akibat kenakalannya oleh kakak tiriku yang saat itu jadi wali kelasnya. Sejak itu dia agak sungkan sama aku, dan kami berteman akrab dan untuk urusan ngledek-ngledek aku ngga’ lagi tersinggung.

Jadi minggu pertama aku benar-benar dongkol, sehingga ngga’ betah di posko kelompok, rumah penduduk setempat yang sekaligus rumah kami selama KKN, sehingga setiap sore aku selalu jalan-jalan dan mampir ke posko kelompok lain, oh ya Tia, rekan mahasiswi taksiranku, ternyata satu desa denganku meski beda dusun saja (wow bukan kebetulan kan! Dan aku sering maen ke poskonya lho seusai tugas kelompok).

Satu-satu hiburanku selama minggu pertama cumalah anak-anak SD kelas 5 dan 6 yang les pelajaran sekolah padaku, aku sendiri heran, dalam struktur kelompok KKN, aku ini bidang sarana dan prasarana, bagian perbaikan fasilitas desa seperti gapura, jalan, dll tapi lha kok anak-anak desa maunya sama aku ngga’ sama kawan-kawan di bidang pendidikan. Jadi kegiatanku sibuk sekali, siang ngecat, nyemen, malamnya ngelesin anak SD, betapa capeknya aku.

Mungkin anak-anak SD itu suka sama cara ngajarku, memang aku orangnya ngga’ tegaan kasihan anak-anak SD itu, meski hidupnya serba sederhana tapi semangat belajarnya tetap tinggi dan walaupun belum mengerti tapi mereka ngga’ malu-malu atau ngga’ gengsi untuk minta diajarin.

Aku jadi terharu dan menangis kala itu, mengingatkan diriku sendiri, mungkin aku seperti ini jika Allah tidak menolongku, setidaknya aku mau membagi ilmu yang kuperoleh, ikhlas, jadi pas hari pertama kedatangan mereka (anak-anak SD) itu di posko, dan kebetulan hanya ada aku di posko karena kawan-kawan lain sedang ada pertemuan perkenalan dengan perangkat desa sehingga anak-anak SD “jatuh cinta” padaku dan untuk seterusnya urusan les-mengeles diserahkan padaku dan aku senang sekali dipercaya untuk urusan itu, tapi kadang aku kewalahan dan agak marah sih sama kawan-kawan kok ngga’ ada yang mbantu aku, ada sih yang mbantu tapi rata-rata mereka ngga’ ngerti IPA maklum kebanyakan dari Ekonomi, dan Teknik sehingga lupa dengan materi pelajaran SD. Kalo aku sih santai saja, yang dipelajari di Pertanian ternyata ada manfaatnya bagi anak SD. Aku juga senang sih buku kegiatan KKN-ku penuh dengan kegiatan-kegiatan, semakin banyak kegiatan semakin bagus nilainya (oh ya aku dapat nilai A lho untuk KKN).

Di sisi lain dari itu, aku mulai naksir dengan Sely, mahasiswi cantik yang ada di kelompok KKNku, dia dari Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, awalnya sih aku cuma bercanda, tapi kawan-kawan nganggepnya lain, mereka mulai menjodoh-jodohin aku dengan Sely, memang sih pertamanya aku cuek tapi lama-kelamaan aku jadi naksir juga nih, udah baik, cakep lagi!

Aku sering berboncengan dengan dia naik sepeda onthel kalau pas nglesin anak-anak SD di sekolah dasar setempat pada malam hari. Nah, kadang di halaman sekolahan SD itu aku dan Sely memandangi bintang-bintang yang terhampar luas di langit seperti pasir di pantai, banyak banget, kutunjuk satu bintang kepadanya (kayak judul lagu SO7 aja), dan kuterangkan tentang rasi-rasi bintang, bintang yang warnanya kelihatan merah itu adalah Mars, lalu kutunjuk sebuah bintang jatuh, ya hanya berdua, kawan-kawan yang lain biarlah yang menangani anak SD, gantian dong ngajarnya! Wow romantis bukan?

(Backsound Lagu Tunjuk 1 Bintang – SO7 diputar)

TUNJUK SATU BINTANG (SO7)

Coba kau tunjuk satu bintang
S’bagai pedoman langkah kita
Jabat erat hasil karyaku
Hingga terbias warna syahdu

Akan ku ukir satu kisah tentang kita
Dimana baik dan buruk terangkum oleh indah
Akan ku cerna semua karya cipta kita
Dimana hitam dan putih terbalut oleh hangatnya cinta

Dan bila semua terwujudkan…
Di sisimu s’lalu hariku

(lagu selesai)

Lama-kelamaan aku perhatikan dia, kadang hatiku bertanya sebenarnya aku itu suka ngga’ sih ama dia? Kebanyakan teman-teman cowok mulai mendesak agar aku “proklamasi” tapi ada juga sih yang mbela aku untuk jangan “proklamasi” karena kasihan sama aku seolah-olah jadi bahan olok-olokan, hatiku benar-benar konflik, emang aku suka? Atau cuma simpati aja, haruskah aku “proklamasi”.

Tapi lama-lama aku ngga’ bisa menahan perasaanku sih, aku ajak dia ke bangku kayu di depan rumah berduaan, lalu kukatakan tapi dalam bahasa campuran yaitu jawa dan Indonesia,

“Sel! Gimana nih anak-anak ngledekin kita nih” kataku basa-basi

“Kamu itu lho Ren! Udah tahu anak-anak kayak gitu ya kok kamu masih nggodain aku!” jawabnya masih belum tahu maksudku

“Lho tapi kalo emang ada yang suka gimana lho Sel?” tanyaku pura-pura bodoh

“Emang siapa yang suka?” tanya Sely

“Ini orang yang ada disebelahmu!” jawabku polos

“Ah yang bener! Emang aku ini seperti orang yang menarik perhatian? Kamu kok bisa suka sama aku?” tanya Sely penuh keheranan

“Yah tapi aku ngga’ salah kan kalo aku suka sama kamu, aku ngga’ salah kan?” jawabku santai

“Ya ngga’ sih! Cuma apa sih yang menarik dari aku Ren! Aku ini biasa-biasa saja kok!”

“Yah begini Sel! Pertama kali aku lihat kamu sih, aku menduga wah anak cakep biasanya manja nih. Apalagi kamu anak ekonomi, biasanya anak ekonomi sukanya manja deh, tapi sewaktu kamu jalan-jalan ke pasar bareng aku tempo hari, aku ngga’ nyangka kalo kamu bisa tahu betul nama jajan pasar yang ada, aku aja ngga’ tahu, terus kamu orangnya sopan, bicara sama ibu Lurah tempo hari juga sopan, kan jarang ada orang kayak kamu, aku berpikir kamu orang yang bisa hidup sederhana!” jawabku dengan jelas

“Tapi kamu ngga’ tahu keadaan aku yang sebenarnya!”

“Keadaan apa sih Sel?” tanyaku masih pura-pura tak tahu

“Kamu tahu kan kalo aku punya pacar!”

“Aku tahu itu kok Sel! Dan aku ngga’ mau jadi ‘gulma’ yang ngganggu kamu! Aku hanya sekedar bilang suka sama kamu! Dan aku ngga’ salah kan kalo aku suka sama kamu Sel!” potongku

“Ya aku lihat kamu itu orangnya baik Ren! Rajin sholat, pintar, pandai bercocok tanam, jarang ada cowok yang bisa bertanam kayak kamu, tapi aku ngga’ pengen kamu berubah setelah ini!”

“Eitt! Kalo masalah sholat seumpama kamu lihat aku sholat di depan kamu bukan berarti aku mau pamer! Cuma memang kondisi di kamar cowok kamu tahu kan penuh dengan tasnya anak-anak, berantakan yah apa boleh buat aku terpaksa sholat di ruang tengah, bukan berarti aku mau pamer kepadamu lho Sel! Lalu kalo aku pintar bertanam sih sebenarnya aku ngga’ pandai bercocok tanam aku cuma menanam melonnya mbak Hesti anaknya bu Lurah, bagaimanapun aku masih kalah sama petani-petani disini kalo dalam hal menanam, aku cuma bisa teori saja untuk praktek wah masih kalah aku! Dan aku jamin aku ngga’ akan berubah setelah ini, aku juga mau berteman baik sama kamu! Kamu ngga’ marah kan soal ini?”

“Ngga’ kok Ren!”

“Ya sudah, aku minta maaf kalo aku membuat kamu tersinggung lho Sel!”

Selanjutnya kami masuk ke rumah posko kami dan kembali ke anak-anak yang lagi bercanda di teras, mulanya aku serasa di atas angin karena ternyata aku masih berani untuk mengungkapkan perasaanku ke seorang cewek. Walau aku tidak berharap lebih setidaknya aku dapat berteman dengan dia aku juga senang, tapi entah kenapa esoknya dia mulai menjauh dariku, dan terlihat sekali dan benar-benar menyakitkan perasaanku sekali, aku bertanya-tanya apa sih salahku? Bukankah tadi malam dia janji ngga’ berubah?

Aku bertanya-tanya, mulai dari teman dekatnya? Eh ternyata temannya juga ngga’ berani tanya dengan dia, takut kena getahnya katanya. Wah makin bingung deh, dan aku semakin stress dan stress dan stress, aku mulai bertanya kesana kesini ada apa gerangan pada Sely! Dan kawan-kawan sekelompok semuanya tahu masalahku dengan Sely, kemudian kawan-kawan sebelumnya merencanakan kalo hari Minggu, mereka akan jalan-jalan ke Air Terjun Sedudo, obyek wisata terkenal di Nganjuk, lalu kudengar selentingan bahwa Sely mau pulang ke Mojokerto (sebenarnya sewaktu KKN dilarang pulang, tapi kawan-kawan kompak melindungi yang pulang asal bawa oleh-oleh) wah kasihan dong dia ngga’ bisa ikut anak-anak semuanya ke Sedudo, kalo dia ngga’ ikut gara-gara aku biarlah aku yang ngga’ ikut.

Lalu siangnya aku pamit ke Korbid Sarana dan Prasarana serta Wakil Leader-ku untuk pulang ke Surabaya, mereka sebenarnya ngga’ ingin aku pulang karena aku juga sudah patungan untuk pergi ke Sedudo, kan sayang uangnya, bagiku ngga’ masalah asalkan Sely senang aku ngga’ apa-apa, biarlah tempatku digantiin sama yang ngga’ bisa ikut karena ngga’ ada dana! Eh ternyata ketika aku pamit, ada temanku namanya Hadi yang satu fakultas denganku dia mau ikut pulang karena kalo aku ngga’ ada dia bisa kesepian!

Ya sudah akhirnya kami berdua pulang ke Surabaya, tapi sebelumnya aku menulis surat ke Sely dan kutitipkan ke Sigit si wakil leader isinya permintaan maafku pada Sely dan aku masih mau berteman dengannya, si Sigit memujiku kalo aku benar-benar jantan mau minta maaf (wah GR nih!!). Dan aku kembali ke Surabaya, lalu menghibur diri sendiri di sini, dan aku sempat latihan silat di kampus. Bahkan sempat main Counter Strike di warnet kesayanganku.

Dua hari di Surabaya, lalu aku kembali ke Nganjuk bersama si Hadi temanku. Aku berharap Sely sudah membaca suratku dan mau memaafkan aku dan yang penting dia mau berteman padaku, yah ternyata sama saja, dia dingin sekali sama aku, cuek, yah satu-satunya hiburanku saat itu adalah pagi hari, nyiram tanaman melon yang kutanam di lahannya bu Lurah, siang kerja bakti, sore ngelesin anak SD, dan kalo malam hari sempet aku maen ke kelompok lain kunjung teman-teman pertanian yang lain.

Tapi ya untung ibu Lurah baik banget sama aku seperti anaknya sendiri, pagi-pagi setelah aku nyiramin tanaman melon, aku selalu disuguhi makan pagi, entah itu mie rebus, atau apa pokoknya selalu ada deh, sering lho aku makan di rumah bu Lurah, sampai jatah makanku di posko ngga’ aku ambil, kenyang sih! Lalu sorenya kalo aku sempet dan ngga’ capek, selalu dikasihi teh hangat dan jajan, sambil ndengerin ceritanya bu Lurah. Itulah hiburanku sambil itung-itung kurang lima hari lagi KKN akan berakhir, kulihat Sely semakin jauh dan semakin jauh, kadang boncengan sama temennya (ya temenku juga sih orang satu kelompok) tapi ya aku jealous sih!

Kawan-kawan masih aja ngledekin kami dengan menjodohkan aku dengan Sely tapi coba kalo kamu tahu apa reaksinya, dia marah, dan akupun malu dan tersinggung serta marah. Aku berusaha untuk sabar dan sabar toh tinggal menghitung hari KKN akan berakhir. Lalu malam terakhir kami gunakan untuk mengutarakan unek-unek dan perasaan masing-masing di hadapan semua anggota kelompok, kawan-kawan menanyakan kenapa kok ada salah satu anggota yang dimusuhin ama Sely, karena dalam unek-uneknya Sely tidak disebutkan sama sekali tentang aku, dan dia juga bilang “I love you all”. Dia diam tak bicara.

Yah sudahlah aku merana! Tapi setidaknya akhir ceritanya seperti kebanyakan di film-film drama yaitu Happy Ending, setidaknya satu jam sebelum kami naik bus untuk pulang ke Surabaya, aku dan Sely bersalaman dan aku lama-lamain waktu bersalaman dengan dia, seolah-olah aku ngga’ mau jauh dari dia dan aku meminta maaf atas salahku, dan dia juga minta maaf atas salahnya, aku lega sekali, tapi sayang ada retakan pada hubungan kami sehingga ada memori tentang yang satu itu sehingga yang aku tahu aku tidak bisa sedekat seperti dulu sebelum aku bicara, jika lagunya Jamrud yang judul Andaikan dulu aku bicara, mungkin kau masih ada di sini, tapi ini kebalikannya!

Tapi biarlah berbuat tapi salah lebih baik tidak berbuat apa-apa sehingga tidak ada tindakan yang dilakukan, biar ini sebuah pelajaran padaku yaitu “jangan sekali-kali ‘proklamasi’ kalo belum benar-benar mengenal orangnya, lihat dulu dengan berteman dulu” dan pelajaran itu sangat berharga ketika aku tidak jadi “proklamasi” ke Tia.

Yah lucunya dalam satu bus ada dua wanita yang membuat hatiku ngga’ karuan yaitu Sely dan Tia karena satu bus untuk dua kelompok yang lokasi desanya berdekatan.

Oalah Ren…Ren lha ya kok menyedihkan petualanganmu ya, proklamasi sering tapi ngga’ ada yang mau! Gila kaya cerita di Lupus aja, nembak berkali-kali yang kena cuma dikit dua doang! Itupun sedikit maksa, susah juga ya aku! Entar deh lihat aja, jagoan selalu menang terakhir….!” Tenang pasti ada yang mau sama aku, ha…ha…ha siapa ya?

Oh ya kembali lagi ke cerita KKN, sebelum kami pulang ke Surabaya, anak-anak SD itu ngasih aku kado berupa celengan kodok dan puisi serta pantun untukku, bayangin deh masak sih aku yang bukan bidang pendidikan aja dikasih kado lha emangnya anggota bidang pendidikan itu ngapain aja sih, bisa ndidik ngga’ sih? Kok ngga’ ada yang berkesan di hati anak-anak SD itu ya? Bukan maksud memuji diri sendiri tapi kata kawan-kawan aku sabar kalo ngelesin, yah gimana ngga’ sabar lagi, walaupun hati dongkol karena nakalnya anak-anak, ya gimana lagi namanya juga anak kecil pasti nuakal lagipula aku ingat-ingat diriku dulu sehingga aku harus sabar menghadapi sendiri, pernah aku menangis ketika melihat si Eny anak SD kelas V hitungan bagi-bagian aja ngga’ ngerti, batinku “Ya Allah, kalo anak ini ngga’ bisa nanti mau jadi apa ya?”. Aku tekadkan anak ini harus bisa hitungan bagi-bagian dan Alhamdulillah akhirnya si Eny bisa hitungan bagi-bagian! Aku selalu mencari Eny kalo dia ngga’ datang les, kasihan gitu, sepertinya sih emang ngga’ begitu cerdas sih, tapi bagaimanapun caranya dia harus bisa pintar!

Mereka seringkali aku tanamkan bahwa kalo bisa sekolah itu setinggi-tingginya membangun negara yang bobrok ini! Pokoknya selama KKN aku seperti bisa merasakan gimana rasanya jadi artis, kemana-mana di lokasi desa selalu ada yang menyebut namaku “Kak Reno”, bahagia banget rasanya bisa dikenal oleh anak-anak kecil. Sebenarnya aku mau ngritik gaya ngajar kawan-kawanku sih cuma biarlah asal ngga’ kelewatan aja karena mereka masih belum sabar dan cenderung menurunkan mental mereka apabila mereka berbuat salah, tapi masih wajar kok. Aku bisa berkata seperti itu karena aku ini juga kadang nglatih silat di kampus, ya setidaknya aku tahulah cara ngelatih kan sama aja dengan ngajar kan!

Pokoknya intinya kalo kita bisa ngambil hati mereka, pastilah mereka nurut sama kita, kalo mereka salah jangan dipermalukan di depan teman-temanya, lalu kutanamkan juga pada mereka rasa berani mengakui kesalahan dan segera minta maaf, jadi jangan seperti aku ini yang masih munafik, tapi ngga’ apa-apa kan setidaknya aku masih menyerukan kebaikan he…he…he! Pernah sih aku dipermalukan di depan anak-anak SD oleh leader kelompokku sendiri! Gila ngga’ sih cuma karena beda pengertian aja aku dibego-begoin di depan anak-anakku sendiri, toh dia ngotot kalo jam itu watch bukan clock yang aku tuliskan di papan tulis. Mulanya aku juga malu, wah aku salah, tapi ada temenku yang membela tapi telat kalo clock itu jam dinding sedangkan watch itu jam tangan.

Aku protes keras ke leader-ku di posko, jangan sekali-kali memalukan aku di depan anak-anakku sendiri dong, wibawa kan, akhirnya si leader minta maaf, tapi emang sih leaderku agak nyleneh, pernah hampir di pansus-kan oleh kawan-kawan dengan tuduhan menyelewangkan uang kegiatan kelompok, kawan-kawan “membantai” habis dia, sampai aku kasihan ke dia, tapi ya gimana lagi emang dia juga salah kadang mbohongin kawan-kawannya sendiri. Semula aku ngga’ mau ngurusin hal-hal seperti itu tapi emang karena dia keterlaluan aku jadi marah sama leaderku, pokoknya secara organisasi kelompokku sudah kacau, briefing pun tidak tiap hari seperti yang diagendakan. Leaderku punya agenda sendiri dan bukan agenda kelompok!

Tapi syukurlah semua rencana kegiatan kelompok semuanya berakhir dengan sukses, setidaknya kami membawa harum nama kampus kami di desa, yah seneng sekali senengnya ya itu tadi kenal temen-temen dari fakultas lain, kenal orang desa, dicintai anak SD dibenci Sely (kayak iklan obat serangga aja), ngga’ enaknya ya pas kerja bakti penduduknya sedikit yang mau mbantu cuma duduk cuek bebek aja, sebel kan, gila emang aku buruh kerja apa? Ya itu yang bikin stress, disuruh ngecat ini disuruh nyemen ini, disuruh ngamplas ini, uhhh kerja keras. Tapi setelah semua itu berakhir aku jadi lega, berakhir pula deritaku ini ha…ha…ha!

Ingin rasanya mau kesana lagi mau nostalgia, mau lihat anak-anak SD di sana, aku rindu sama mereka, rasanya di desa itu damai deh, gimana ngga’ damai harga pada murah semua, tapi ada yang kubenci dari sana, yaitu budaya judi togel dan penjarahan kayu jati yang lagi marak di sana, aku ini heran kenapa hutan jadi gundul.

Sebenarnya masih banyak kenanganku disana seperti ngawasin anak-anakku yang lagi lomba gerak jalan dalam rangka 17 Agustusan lombanya antar SD se-Kecamatan, jadi anak-anakku jalan aku naik sepeda dari belakang, kasihan juga sih mereka kehausan, tapi aku bawa air minum untuk mereka. Lalu apalagi ya? Naik delman sama si Sely ke pasar cari jajan! (waktu masih rukun-rukunnya dulu).

Lalu bersepedaan maen ke kelompok lain di malam hari lewat kuburan hiiiiii! Takut!!!!! Kalo aku sih cuek aja!!!!! Kasih salam kan beres!!!! Ya kan!! Wah pokoknya seru deh!!!! Pengalaman yang paling berharga selama aku kuliah!!!

ANDAIKAN *

Andaikan dulu aku tak bicara
Mungkin kau masih ada di sisi
Memang salahku yang tak perduli akan kisahmu
tapi ku menutup diri dan kaupun pergi jauh
Membawa luka yang masih tersimpan di dalam hatimu
Kaupun pergi jauh dan tinggalkan luka baru untukku

Akan kutanya embun pagi, kutanya matahari
Kutanya bintang, kutanya bulan, kutanya seisi bumi
Akan kucari kau disana, kucari kau disini
Sampai ke dasar laut, ke puncak gunung
Akan kujalani semua untuk rinduku

Andaikan dulu aku tak bicara
Mungkin kau masih ada disisi
Tak ada rasa bersalah, tak ada rasa gelisah di hati
Tapi kaupun pergi jauh membawa luka
yang masih tersimpan di dalam hatimu
kaupun pergi jauh dan tinggalkan luka baru untukku

Disaat tidurku kau selalu hadir
Didalam tidurku kau tersenyum manis
Hingga pagi tiba aku pasti kecewa
karena kau datang hanya di dalam mimpiku
hanya di dalam mimpiku

(* Modifikasi lagu Jamrud)

-Tamat-

Advertisements
Categories: Cerpen | Tags: , | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Andai ku tak bicara

  1. InVinciBle TeTik

    Wow Pak keren sekali cerita nya >_< kisah nyata ya…

    Pak bagi trik dung itu headernya kok bisa selalu berubah-ubah..
    thanks..

    • Hehehehe antara fiksi dan nyata.

      Untuk header yang berubah-ubah itu menggunakan animated gif.

      1. Siapkan foto2 yang mau dijadikan header
      2. Atur resolusinya kalau header saya 920 x 360 ada juga template lain yang harus 740 x 200 sekian. Resize dan Crop saja pake Microsoft Photo Manager
      3. Lalu download software yang namanya photoscape di http://photoscape.en.softonic.com/
      4. Buka Photoscape lalu pilih animated GIF
      5. Drag foto-foto yang mau dijadikan animated GIF. Atur resolusinya (kalo saya 920×360). Save ke GIF jadilah 1 file yang memuat banyak foto
      6. Upload ke blognya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: