Umra in the Summer of 2012 part 1

Prekuel

Akhirnya setelah beberapa tahun lalu aku berdoa kepada Allah di awal tahun baru Hijriah agar tahun 2012 aku bersama istri dapat mengunjungi Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, Alhamdulillah, ternyata doa itu terkabulkan.

Walau aku tak punya banyak simpanan di bank, gaji sebagai guru cukup untuk keperluan sehari-hari berdua, namun dalam doa aku pasrahkan kepada Allah mengenai cara dan bagaimananya, karena aku yakin Allah Mahakaya dan Mahamencukupkan. Yang aku dan istri lakukan adalah rajin bersedekah mulai dari senyum, ilmu, sampai keringat, sabar meski di remehkan orang, itu hanya karena Allah semata akhirnya dengan cara yang tak disangka-sangka, Allah mengabulkan doaku. Alhamdulillah.

Awalnya hanya aku yang akan berangkat karena aku mendapatkan hadiah umrah dari ibu Irmawati, presdir NRA Tour & Travel. Karena NRA sedang berulang tahun yang ke-12. Aku diberitahu pada bulan April lalu oleh Mbak Lutfy, staf NRA, untuk mengirimkan passportku ke kantor NRA segera mungkin untuk dilakukan pengurusan visa umrah. Aku melaporkan berita gembira ini ke ibunda dan kakak-kakakku. Dan Alhamdulillah, puji syukur kehadiratMu ya Allah, biaya perjalanan umrah istriku pun dibiayai oleh kakakku. Kami pun menangis karena mendapat kesempatan yang tak disangka-sangka ini. Dan hari itu aku memahami sesuatu:

  1. Jika Allah sudah berkehendak, maka dengan mudahnya jalan diberikan oleh-Nya
  2. Berbuat baik, berbuat lebih, banyak sedekah, shalat tahajud, shalat dhuha, dilakukan dengan ikhlas dan sabar itu tidak ada yang sia-sia, malahan membawa keberkahan.
  3. Suatu saat, jika telah mampu, akan meniru yang dicontohkan ibu Irma dan kakakku, yaitu mengumrahkan seseorang. Semoga Engkau memberikan kesempatan itu kepada kami. Amin.

Persiapan Umrah

Aku mempersiapkan diri dengan mengurus penambahan nama dari dua nama menjadi tiga nama di passport. Aku menambahkan nama ayah di belakang namaku. Tidak lama mengurusnya sekitar 5 hari kerja di Kantor Imigrasi Kelas II Depok. Istriku harus membuat passport baru, karena memang belum memilikinya. Istriku juga mengurus pendaftaran umrah di NRA. Pembayarannya di transfer dari rekening kakakku ke rekening NRA. Proses pendaftarannya mudah dan cepat. Alhamdulillah.

Mengisi formulir pendaftaran umrah di kantor NRA

Setelah itu harus melakukan suntik vaksin Meningitis di tempat-tempat yang telah ditunjuk pemerintah. Yang wajib adalah vaksin Meningitis, untuk vaksin Flu tidaklah wajib. Biaya vaksin Meningitis adalah Rp 250.000, jika anda ingin vaksin Flu maka harus menambah Rp 200.000. Alhamdulillah NRA memfasilitasi suntik vaksin meningitis di kantor NRA sehingga semakin mudah urusannya.

Ijin dari kepala sekolah sudah diberikan, untungnya sudah selesai kegiatan belajar mengajar di sekolah. Awal bulan Mei 2012, passport akhirnya sudah masuk ke kantor NRA untuk diajukan permohonan visa umrah ke Kedutaan Arab Saudi. Sempat deg-degan juga, karena kadang visanya sulit keluar. Tapi dari apa yang aku sudah pahami adalah jika Allah sudah berkehendak, maka dengan mudahnya jalan diberikan oleh-Nya. Jadi apapun itu aku pasrahkan kepada Allah. Termasuk biaya-biaya lain yang pasti akan menyertai,  sekali lagi jika Allah sudah berkehendak, maka dengan mudahnya jalan diberikan oleh-Nya, ada aja rejeki yang datang, yang honor lembur dari sekolah, tunjangan mengajar dari pemda DKI, dari tiada menjadi ada. Subhanallah, Engkau Mahakaya ya Allah (sambil menitikkan air mata).

Dari NRA sudah memberikan perlengkapan umrah dengan lengkap, mulai dari baju batik seragam, baju koko, sajadah, kain ihram, tas sandal, buku doa, sampai koper kecil dan koper besar. Kami pun juga melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Hanya tinggal menunggu manasik umrah pada tanggal 12 Juni 2012, sehari sebelum keberangkatan. NRA bekerja dengan baik sekali, sms centernya selalu memberikan informasi mengenai kegiatan yang akan dilakukan termasuk informasi manasik.

Beberapa perlengkapan yang harus disiapkan secara mandiri yaitu baju koko, peci, kaus kaki, sun block, kacamata hitam, sandal jepit, sabuk pengikat kain ihram. Untuk mengirit ya beberapa yang tidak aku punya, belinya di pasar kaget di jalan Juanda, Depok yang murah-murah. Malahan beberapa perlengkapan meminjam saudara dan membeli di koperasi sekolah. Alhamdulillah ya Allah, Engkau Mahamencukupkan.

Manasik

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya hari manasik itu tiba juga. Manasik diselenggarakan pada hari Selasa tanggal 12 Juni 2012 di Lantai 1 Hotel Atlet Century Senayan, Jakarta jam 09.00. Kami diharuskan membawa koper besar pada saat manasik. Istri berangkat dengan mobil omprengan dan aku naik motor membawa 2 koper besar. Aku lakukan ini untuk pengiritan. Dengan modal tali pramuka, maka koper berhasil di packing rapi di atas jok motor.

Siap berangkat dan motor pun sampai jomplang ke belakang 😀

Cobaan pertama datang, entah kenapa, pagi hari itu jalanan macet di mana-mana. Peluh keringat deras keluar dan tangan ini rasanya pegal menahan beban koper di punggung. Berbagai jalan tikus aku lalui namun hasilnya sama, macetnya dimana-mana. Karena membawa koper yang berat, aku berjalan dengan pelan-pelan sehingga rela di klakson oleh motor, mobil, bahkan bis. Sabar…sabar… hitung-hitung melatih kesabaran sebelum berangkat.

Semula aku memperhitungkan akan datang terlambat, namun ternyata aku bisa datang 15 menit lebih awal. Sesampainya di hotel, seperti biasa, motor tidak diperkenankan masuk ke pelataran lobby hotel hanya mobil yang boleh masuk, maka aku harus parkir jauh dibelakang. Istriku yang sudah menunggu di lobby maka harus menuju parkiran belakang hotel. Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke tempat manasik. Disana koper disetor ke petugas NRA dan kami diberikan ID card, buku program yang mencakup detil keberangkatan, daftar bis, dan nama-nama jamaah umrah.

Menyetor koper besar, pastikan name tag di koper sudah benar, karena kalau belum benar bisa tertukar dengan koper jamaah lain

Aku tandai koperku dengan pita warna-warni, eh ternyata banyak jamaah yang berpikir sama. Jadi sebaiknya tandai koper anda dengan cara yang unik sekali sehingga tampak beda dan mudah dikenali saat mengambilnya di airport

Acara Manasik

Saat manasik, jamaah diberikan informasi mengenai persiapan yang harus dilakukan, do’s and dont’s tata cara umrah, sampai teknis memakai kain ihram bagi jamaah laki-laki. Di acara itu juga dilakukan perayaan sederhana ulang tahun NRA yang ke-12 dan dihadiri langsung oleh ibu Irma, presdir NRA. Ibu Irma juga mengumumkan bahwa sebagian keuntungan dari travel ini digunakan untuk membeli sawah sehingga beras-beras yang dihasilkan dapat disedekahkan kepada yang berhak.

Mendengarkan Penjelasan Ustadz

Sambutan dari Ibu Irmawati, presdir NRA

Selesai manasik, jamaah disajikan makan siang dari hotel dan akhirnya kami berdua pulang bersama menggunakan motor kesayangan kami.

Keberangkatan

Awalnya kami berencana menggunakan bis DAMRI dari terminal Kampung Rambutan untuk menuju ke bandara Soekarno-Hatta, tapi kebetulan kakak bisa mengantar, jadi tak banyak kerepotan yang harus kami jalani. Ibuku juga mengantar kami ke bandara. Namun tak lama, kami harus segera masuk ke dalam karena harus berkumpul di Gate E-6.

Ibunda tercinta melepas kami

Setelah melewati kemigrasian, kami menuju ke Gate E-6. Di sana sudah banyak jamaah yang menunggu. Ramai juga, padahal rombongan ini sudah dibagi menjadi 3 keberangkatan. Keberangkatan pagi menggunakan 2 pesawat yaitu Lion dan Garuda 0981, sedangkan yang sore ini menggunakan Garuda 0983. Totaljamaah yang berangkat adalah 560 orang dari NRA Group.

Sejam menunggu, akhirnya, penumpang memasuki pesawat. Antrinya teratur dan tertib. Hanya saja karena banyak jamaah yang masuk dan berjalan pelan-pelan maka pesawat yang harusnya berangkat jam 17.30 mundur ke jam 18.00.

Berjalan masuk ke pesawat

Suasana dalam pesawat

Setelah mencari nomor kursi, akhirnya kutemukan kursinya, ternyata sebelah dengan pintu darurat dan tepat bersebelahan dengan toilet, aku bercanda dengan istriku, rupanya kita sedang dilatih untuk menjadi penjaga toilet. Hahahaha.

Tak lama datang pramugari cantik dan memberikan briefing singkat mengenai keadaan darurat seumpama pramugari tidak dapat membuka pintu darurat dan ada suara “Evacuate…evacuate” maka kami harus membukanya dengan memindahkan tuas ke tanda open, namun dicek dulu keadaan diluar apabila ada api maka tidak boleh dibuka. Okelah kalo begitu.

Pintu Darurat

Akhirnya setelah beberapa lama menunggu, pesawat pun lepas landas. Good bye Indonesia. Hello KSA :).

Duduk di dekat toilet merupakan ladang amal bagi kami. Kami amati banyak sekali jamaah yang pertama kali naik pesawat jadi agak kesulitan untuk membuka pintu toiletnya, padahal ada tulisan DORONG. Beberapa kali kami membantu jamaah lain untuk membuka pintu. Kadang kami juga harus memberi tahu jika toilet itu kosong atau sedang dipakai, karena kebanyakan jamaah tidak melihat tulisan Vacant. Bahkan ada yang tidak mengunci pintu toiletnya. Yang sering terjadi sudah dikunci tapi didorong-dorong terus sehingga pintu terbuka padahal masih ada orang yang sedang membuang hajat, contoh korbannya adalah aku. Malahan aku disalahkan tidak mengunci pintu. Lah kalau tidak dikunci pintunya, lampu lavatory atau toiletnya gak akan nyala bu. Eitsss hayo Hari, ingat pak Ustadz kemarin ngomong apa hayo… jangan berbantah-bantahan antara sesama jamaah meskipun engkau di pihak yang benar, sabar, sabar, sabar. Okelah aku diam dan mengalah sajalah. Btw, yang terparah adalah setelah membuang hajat, ada saja yang tidak di flush. Jadi masih tergenang di toilet atau juga toilet kering berubah menjadi toilet basah.

Sembilan jam berlalu, maka sampailah kami di Terminal Haji King Abdul Aziz Airport di Jeddah pada jam 11 malam waktu setempat. Dengan shuttle bus kami di antar menuju ke ruang kedatangan.

Menunggu Shuttle Bus

Langsung kami menuju ke keimigrasian untuk dilakukan kontrol passport dan visa oleh petugas imigrasi. Jamaah satu pesawat baru turun dan coba dibayangkan antriannya seperti apa hayo.

Antrian di Loket Imigrasi di King Abdul Aziz Aiport

Dan setelah lolos dari kontrol passport, maka disambutlah kami dengan banner besar bertuliskan selamat datang.

Banner Selamat Datang

Lalu tahap berikutnya adalah mengambil koper besar. Tak lama prosesnya sekitar 15 menit koper kami sudah kami bawa.

Mengambil koper besar

Di luar gedung, koper besar dikumpulkan kembali untuk langsung dibawa menuju ke hotel. Jadi kami hanya membawa koper kecil yang akan dibawa ke bis masing-masing yang telah menunggu di areal parkir.

Bis yang telah menunggu

Bis kami, nomor 9

Di setiap bis, jamaah ditemani oleh ustadz dari NRA. Ustadz kami bernama ustadz Muqodas dan ustadz Jun.

Selanjutnya adalah makan malam di bis lalu beristirahat di perjalanan menuju ke Madinah Al Munawaroh. Di perjalanan kami beristirahat di Al Fare untuk melakukan shalat Shubuh.

Perjalanan menuju Madinah

Masjid Al Fare

Seusai shalat Shubuh berjamaah, perjalanan pun dilanjutkan. Kami melihat matahari terbit dari sebelah kanan bis kami yang sedang berjalan. Subhanallah…indah sekali.

Menuju ke Madinah dan Sunrise

Sunrise di ufuk timur

Akhirnya setelah lama beristirahat di bis, kami tiba di Madinah. Pak Ustadz Muqodas membimbing kami dalam berdoa ketika memasuki kota Madinah Al Munawaroh. Pak Ustadz menjelaskan sejarah singkat kota Madinah ini kepada kami.

Kami tiba di hotel Al Haram, yang berjarak 50 meter dari Masjid Nabawi, pada pukul 07.00. Setengah jam kami diminta untuk sarapan di ruang makan dan jam 08.00 kami diminta berkumpul di lobby hotel untuk menuju bersama-sama ke Masjid Nabawi.

Untuk jamaah perempuan, ustadzah nya sudah mewanti-wanti bahwa jamaah perempuan DILARANG membawa ponsel berkamera ataupun kamera. Jamaah perempuan selalu digeledah oleh tentara perempuan berkerudung hitam. Kalaupun terpaksa membawa ponsel untuk kepentingan komunikasi sesuai ibadah (karena jaman sekarang kebanyakan ponsel pasti berkamera) maka jangan simpan di tas, letakkan di bagian tubuh tertentu.

Di Masjid Nabawi, jamaah perempuan tidak bisa bersama jamaah laki-laki meskipun suaminya sendiri.

Di pelataran Masjid Nabawi, kami dibimbing lagi oleh pak Ustadz dalam berdoa sebelum memasuki masjid dan kami diajari pula bagaimana mengucapkan salam kepada Rasullulah dan sahabatnya.

Penjelasan Pak Ustadz

Pak Ustadz mengajari kami strategi menjalankan ibadah shalat sunnah di Rawdah, tempat di antara makam Nabi (dulu kamar Nabi) dengan mimbar Nabi. Rawdah merupakan tempat mustajab untuk berdoa, sehingga tidak pernah sepi dari jamaah dan tidak ada sejengkal pun yang kosong. Luasnya kurang lebih 144 meter persegi. Rawdah sendiri artinya Taman Surga.

Tanda Rawdah adalah lantai dilapisi karpet halus berwarna putih kehijauan dan berbeda dengan warna karpet Masjid Nabawi yang semuanya berwarna merah.

Warna Karpet Rawdah (trm ksh pak Ustadz Sugi atas fotonya)

Rawdah dapat dicapai melalui beberapa pintu. Pintu paling dekat adalah pintu Jibril, terletak di kanan masjid bagian belakang. Kami diingatkan bahwa fokus utama ke Rawdah adalah untuk ibadah, salat, dan berdoa. Berdoalah agar semuanya dimudahkan dan dilancarkan. Doa tidak harus menengadahkan tangan jadi setelah shalat langsung sujud untuk berdoa. Pilih yang jauh dari Askar Penjaga, karena setelah shalat biasanya kita di usir keluar untuk memberi kesempatan pengunjung yang akan shalat.

Di Rawdah, kita harus sabar. Saking penuhnya pengunjung seringkali kita dilangkahi sewaktu shalat bahkan sewaktu sujud. Tak usah marah karena lebih baik fokus ke ibadah kita. Kadang pun kita terpaksa melakukan itu karena memang tidak ada jalan lagi.

Rawdah

Lihat begitu penuh sesaknya Rawdah, kita harus sabar bergantian atau aktif mencari celah tempat untuk melakukan shalat

Di sebelah rawdah terdapat makam rasul dan sahabatnya yang dijaga ketat oleh Askar, tentara Kerajaan Saudi Arabia.

Makam Rasul dan Sahabat, ucapkan salam kepada Rasul dan Sahabat

Tiga hari aku dan istri beribadah di Masjid Nabawi. Setiap hari aku selalu dimudahkan Allah untuk dapat melaksanakan shalat di Rawdah, Alhamdulillah.

Masjid Nabawi ini sangat indah sekali, aku pun betah di sana. Hawanya sejuk karena diselimuti dengan sistem pendingin yang 24 jam. Tiap pilar selalu ada pendinginnya. Kalaupun haus, disediakan air zam-zam dingin di tiap sudut masjid. Gratis pula.

Seperti inilah sisi Masjid Nabawi:

Pelataran Masjid Nabawi

King Abdul Aziz Gate

Tempat wudhu di bawah pelataran Masjid Nabawi

Ornamen Masjid Nabawi

Ornamen Masjid Nabawi

Pilar-pilar Masjid Nabawi

Waktu Shalat

Air Zam-Zam gratis

Di sela-sela waktu senggang, kadang kami gunakan untuk berjalan-jalan mengamati keadaan. Di sekitar hotel banyak sekali toko-toko yang menjual kebutuhan sehari-hari dengan harga murah, setidaknya hampir sama dengan harga di Jakarta. Uniknya, seluruh penjual dapat berbahasa Indonesia. Bahkan mereka menerima uang rupiah pecahan 50.000 dan 100.000. Selain dari itu mereka tidak mau. Jika ada uang kembalian, mereka akan mengembalikannya dalam bentuk riyal.

Kadang-kadang karyawan tokonya adalah TKI asal Indonesia, jadi untuk komunikasi, yang tidak bisa berbahasa Inggris, tidak jadi kendala di sana. Malahan orang arabnya sendiri lebih mengerti bahasa Indonesia ketimbang bahasa Inggris.

Salah satu favoritku adalah toko jus dan toko makanan. Tak perlu khawatir tidak bisa makan karena sebagian besar menjual makanan “rasa” Indonesia. Ada bakso, nasi goreng, gule, sop buntut, sop kaki sapi, dan lain-lainnya. Aku amati kok tidak ada yang jual gudeg ya?

Toko makanan favorit

Sedang membuat pesanan

Sop kaki sapi

Nasi Goreng, nasinya panjang-panjang

Toko Jus Buah

Di dekat toko-toko makanan tersebut ada taman yang sering digunakan tempat duduk untuk menyantap makanan, tapi yang membuatku sedih adalah ketika aku menemukan seorang TKI dari Kudus, Jawa Tengah yang sedang sarapan hanya dengan memakan nasi putih dan tahu goreng saja sedangkan aku menimati nasi goreng, aku jadi merasa bersalah, aku traktir si bapak itu jus mangga. Dia bercerita sudah setahun bekerja di Madinah, dengan gaji pas-pasan. Harusnya dia menerima gaji 1.500 riyal sebulan tapi kenyataannya dia hanya menerima 800 riyal sebulan. Menurutnya, dia ditipu oleh PJTKI yang memberangkatkannya. Meskipun agak sulit hidupnya, tapi  dia bersyukur bisa ke Masjid Nabawi setiap hari.

Di hari ketiga, kami di ajak ke Kebun Kurma di suatu tempat di Madinah. Dengan menggunakan bis kami di antar kesana. Di sana ada acara tasyakuran dan pengajian ultah NRA. Acara dipimpin oleh para Ustadz senior.

Seusai pengajian, jamaah diberi kesempatan untuk membeli kurma di pasar kurma yang ada di kebun tersebut. Ya Allah, nafsu belanja untuk oleh-oleh jamaah kuat juga ya.

Sikon di pasar kurma

Sikon di Pasar Kurma

Cuma mejeng saja, sambil mengamati jamaah yang belanja

Dari pasar kurma, jamaah berziarah ke  Masjid Quba dan Jabal Uhud. Di Jabal Uhud, kami dipandu oleh para Ustadz untuk berdoa bagi para mujahid yang wafat di Jabal Uhud.

Sungguh aku menikmati beribadah di Masjid Nabawi sampai tak terasa 3 hari sudah terlewati. Ini tandanya aku harus pergi ke kota Mekah Al Mukaromah untuk melakukan umrah. Perjalanan yang sebenarnya baru akan dimulai. Aku pun menitikan air mata ketika meninggalkan kota Madinah. Semoga Allah mengabulkan doa kami agar kami bisa kembali lagi ke kota Madinah, untuk beribadah lagi. Kabulkan ya Allah doa kami ini. Amin.

(Bersambung ke Umra in the Summer of 2012 part 2)

Categories: Hari ini aku belajar..., Jalan-Jalan, Keliling Dunia, Kisah, Seri bagaimana rasanya | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: