Bencana Transportasi Lebaran

“When one man dies it is a tragedy, when thousands die it’s statistics.”
– Joseph Stalin

Definisi dari bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. (UU No. 24 tahun 2007)

Bencana transportasi lebaran yang dimaksud disini adalah bencana kecelakaan yang terjadi selama masa lebaran 2012 mengingat korban meninggal sudah mencapai angka 908 orang (per 27-8-2012). Angka ini sungguh menyedihkan (ya menyedihkan, bukan lagi memprihatinkan jika ada yang berpidato lalu mengatakan prihatin) mengingat banyak korban dan rata-rata usia korban yang meninggal adalah usia produktif. Sedangkan menurut situs bisnis.com, kerugian material dari kecelakaan tersebut ditaksir mencapai Rp8,95 miliar selama periode 15 hari masa Lebaran. Kerugian harian terbesar terjadi pada 25 Agustus yang ditaksir mencapai Rp1,08 miliar.

Sumber: Koran Kompas 27-8-2012

Begitu banyak korban, 908 orang itu setara dengan jumlah penumpang dari 9 pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) dan 1 pesawat Embraer EMB 120 Brasilia

Bukan bermaksud untuk mengungkit kepedihan para korban pesawat, sebagai perbandingan perhatian pemerintah, ketika 1 pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) dengan 45 penumpang yang jatuh pada 9 Mei 2012 di Gunung Salak, Jawa Barat saja, pemerintah sangat memperhatikan sekali bencana tersebut.

Menurut situs BNPB, bencana merupakan pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan kemampuan yang di picu oleh suatu kejadian.

Sumber: Koran Kompas 25-8-2012

Ancaman bencana ini muncul karena dalam waktu yang bersamaan, ada sejumlah orang (jutaan orang pemudik) yang berpindah tempat melalui jalan yang sama. Kerentanan yang dimaksud disini bisa jadi kerentanan infrastruktur yang kurang memadai (seperti kelaikan alat dan sarananya) atau kerentanan dari faktor manusianya (Lihat gambar disamping: mengantuk, kelelahan, terburu-buru, dsb). Sedangkan kemampuan yang dipicu oleh suatu kejadian bisa jadi kemampuan yang mematikan akibat dari efek kecelakaan tersebut.

Sehingga di kala lebaran tiba, budaya pulang ke kampung ini dilakukan bersama-sama dengan jumlah yang besar, pada waktu yang bersama dengan keterbatasan infrastruktur, ditambah pula perilaku berkendara yang berbahaya akibat kurang kompetensi dalam berkendara (karena 61% pelaku kecelakaan diketahui tidak memiliki SIM). Sebagian besar pula kecelakaan ini melibatkan sepeda motor.

Sepeda motor sebagai alat transportasi yang murah, karena strategi pemasaran yang memudahkan orang untuk kredit, sebagian besar dimiliki oleh orang dengan kemampuan ekonomi menengah bawah. Padahal sepeda motor  termasuk alat transportasi yang rentan kecelakaan. Maka munculah angka kematian yang besar.

Akar Permasalahan

Akar masalah ini jika dirunut jauh, maka benarlah apa yang dikatakan  sosiolog kondang UI, Tamrin A. Tamagola, ada 3 fakta dalam arus mudik ini yaitu ketimpangan pembangunan yang ada di Jakarta dengan daerah sehingga memicu urbanisasi dari daerah ke Jakarta serta tingginya pertumbuhan penduduk.

Solusi

  1. Mencegah urbanisasi dengan membangun kembali desa-desa sehingga ketertarikan terhadap “manisnya” Jakarta menjadi berkurang dan penduduk Jakarta dan sekitarnya ke depannya tidak bertambah banyak lagi (sekarang saja sudah banyak).
  2. Membangun transportasi massal sampai ke desa-desa -Djoko Setijowarno, Ahli Transportasi.
  3. Pemerintah membentuk lembaga khusus yang berwenang menangani persoalan transportasi mudik Lebaran. -Rudy Thehamihardja, Pengamat Transportasi
  4. Adanya perubahan pemikiran bahwa mudik itu tidak harus dilakukan pada saat Lebaran. -Maman S. Mahayana, pengajar FIB UI.

Kesimpulan

Jumlah korban kecelakaan ini sudah seperti korban bencana alam dan bahkan sudah seperti korban perang. Menyedihkan.Padahal jatuhnya korban ini harusnya masih dapat dicegah.

Untuk itu diperlukan koordinasi dan brain storming dari seluruh instansi pemerintah yang terkait untuk melakukan perbaikan pada masa Lebaran tahun 2013 dengan memperhatikan evaluasi pada lebaran tahun ini dan solusi yang diberikan oleh para ahli.

Advertisements
Categories: Belajar Beropini | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: