Warga Kelas III

Ini adalah pengalamanku 11 tahun yang lalu, sewaktu aku adalah mahasiswa semester terakhir dan sedang mempersiapkan penelitian di laboratorium bioteknologi. Waktu itu, aku mengalami pembengkakan jaringan yang sangat parah pada konka hidung atau istilah kerennya polip hidung sehingga menyebabkan aku sulit bernafas, ditambah lagi sinusitisku yang juga membuat kepalaku sering sakit.

Dimulai dari datang ke poliklinik THT sebuah rumah sakit pemerintah yang terbesar di kotaku itu. Ya Allah, antriannya bisa ratusan, kalau tidak datang pagi banget maka bisa sampai siang. Untungnya sekali masuk bisa sekalian banyak karena dokternya yang praktik juga banyak. Jaman saat itu belum ada mp3 player, smartphone bahkan handphone pun termasuk barang langka yang bisa dijadikan peneman dalam kebosanan menunggu. Mungkin yang bisa aku lakukan adalah membaca surat kabar.Ketika namaku dipanggil, maka aku masuk ke dalam ruang poliklinik dan di arahkan oleh seorang petugas medis ke dokter tertentu berdasarkan keluhanku. Di ruang periksa ternyata ada juga beberapa mahasiswa-mahasiswa kedokteran (yang mungkin) bimbingan dokter yang memeriksaku itu. Sakitku bagaikan seperti penyakit langka yang mendapatkan atensi khusus dari para mahasiswa itu, menurut dokter yang memeriksa, karena sudah bengkak maka sudah harus dilakukan pembedahan atau pengangkatan polipnya, dokter memerlukan diagnosis lanjutan, maka diaturlah jadwal khusus, di hari lain, untuk dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan tertentu yang akan dilakukan oleh mahasiswanya.

Singkat kata, setelah pemeriksaan-pemeriksaan, aku merasa, kok ini diperiksa terus oleh mahasiswa-mahasiswa, padahal aku makin sesak nafas. Aku masih ingat, pemeriksaan terakhir dari banyak rangkaian pemeriksaan  dimana aku di test pendengaran dengan garpu tala oleh seorang mahasiswa kedokteran, kebetulan salah satu mahasiswa kedokteran tersebut mengenali aku karena sewaktu kuliah bekerja sebagai operator persewaan komputer dan jasa pengetikan dan dia adalah salah satu konsumennya.

Karena sudah bosan diperiksa melulu dan dijadikan obyek pemeriksaan, di lain sisi aku semakin tidak bisa bernafas, maka memberanikan diri datang lagi ke poliklinik dan menemui dokter lain, saat itu aku diminta untuk operasi. Tiba-tiba datang seorang petugas medis tempo hari yang mengarahkanku ke dokter yang pertama lalu dia bilang “Kamu dikasih enak kok gak mau,  kamu kan bisa di operasi gratis”. Hahhh??? Aku bingung, maka terlintas pikiranku, “Wah jangan-jangan nih orang calo pasien buat mahasiswa kedokteran nih, tega bener, wong sudah sesak nafas masih diperiksa sana-sini, keburu mati lah pak”.

Akhirnya diputuskan minggu depan dilakukan operasi mengangkat polip dari hidung. Aku ijin seminggu ke sesama rekan mahasiswa peneliti dan dosen pembimbing untuk tidak hadir selama persiapan penelitian untuk menyembuhkan sakitku itu. Aku mendaftar di instalasi rawat inap di kelas III, kakakku, yang membiayai kuliah dan biaya operasi ini, menawariku untuk di kelas II, tapi aku tak enak hati harus membebani kakakku. Aku memutuskan untuk dirawat di kelas III yang di bangsal karena lebih murah.

Ilustrasi: Bangsal Kelas III http://i185.photobucket.com

Kondisi di ruang kelas III adalah dalam satu ruang besar ada sekitar 12 tempat tidur tanpa sekat yang dihuni sekitar 8 pasien. Pada malam hari sebelum hari operasi aku dipanggil oleh dokter jaga, waktu itu ada 2 dokter jaga. Dokter jaga yang pertama menerangkan prosedur operasi dan resiko-resikonya dan jika sudah mengerti maka harus menandatangani form yang telah disiapkan sebagai persyaratan sebelum operasi dimulai. Dokter jaga yang kedua mempertanyakan dokter jaga yang pertama, “Mengapa kau menjelaskan prosedur dan resikonya, suruh aja pasiennya langsung tanda tangan formnya seperti biasanya, tak perlu kau repot-repot menjelaskan”. Dokter jaga pertama menjawab “Eh pasien ini adiknya dokter anestesi di rumah sakit ini, kalau kita tidak menjelaskan, salah lah kita”.

Terbesit lagi di pikiranku lagi, “Hmmm, jadi selama ini, mentang-mentang karena warga kelas III, kami tidak berhak mendapatkan penjelasan atas prosedurnya? Oh, jadi gara-gara dia tahu saudaraku seorang dokter senior di rumah sakit ini yang tahu prosedur pra operasi maka membuat para dokter jaga harus melakukan penjelasan?” Ah banyak deh pikiran-pikiranku saat itu, yang harusnya aku jaga dengan baik karena aku akan operasi.

Di hari-H, aku diminta mengganti bajuku dengan baju operasi lalu dengan kursi roda yang di dorong oleh perawat, aku  menuju ke ruang tunggu operasi. Tak lama dokter memanggilku dan memintaku duduk di kursi bedah, umumnya meja bedah tapi ini semacam kursi. Lalu, hidungku disemprot obat bius lokal,  aku diminta memegang wadah stainless steel tepat di bawah daguku, kemudian dokter memasukkan alat semacam tangkai dengan tali lalu menarik alat itu dengan kuat. Kepalaku sedikit tertarik dan akhirnya polipnya pun jatuh ke wadah. Wow, besar sekali pembengkakannya, pantas saja aku tidak bisa bernafas. Saat itu aku lega sekali dan bisa merasakan segarnya udara dingin di ruangan itu. Dokter menyumbat hidungku dengan kapas untuk menghentikan pendarahan. Kemudian aku kembali ke ruang rawat inap.

Menurut dokter jaga, aku bisa pulang ke rumah sekitar 2 hari lagi, karena menunggu baik buruknya hasil recovery. Dokter meresepkan obat yang harus diminum pasca operasi. Aku hanya seorang diri, tidak ada yang menungguiku sebagaimana pasien-pasien di sebelahku, terpaksalah aku berjalan menuju apotik rumah sakit untuk membeli obat. Dengan berjalan agak terhuyung-huyung aku berjalan pergi pulang sendirian. Mungkin memang operasiku termasuk ringan jadi tak ada alasan kuat harus ada orang yang menungguiku. Aku tak mau ada yang menungguiku. Menjenguk boleh tapi jangan menungguiku. Lagipula, jaman itu tak ada handphone kan. Ada pasien yang mempertanyakan mengapa tidak ada orang yang menungguiku, aku menjawab karena sakitku tidak parah jadi tak perlu ada yang menungguiku.

Menjadi warga kelas III bersama pasien dari kalangan bawah membuatku bersyukur, dari segi beratnya penyakit mereka, sakitku termasuk paling ringan. Ada yang tenggorokkannya harus dilubangi, ada yang kanker paru-paru, pokoknya segala penyakit yang berhubungan dengan pernapasan ada disitu semua. Ada yang kalau bernafas berbunyi sehingga aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Berada di kelas III yang biayanya paling murah maka berkaitan dengan kurangnya kenyamanan dan privacy. Artinya tidak akan didapatkan kenyamanan dan privacy, karena satu bangsal ramai-ramai, tiada sekat atau partisi sekalipun. Orang bisa lalu lalang dengan merdeka, begitupun dengan toilet yang dipakai bersama-sama yang tentunya lebih bersih toilet di rumah sendiri kan. Hanya saja kenyamanan itu hanya bisa diciptakan dari hati dan pikiranku sendiri. Artinya yah aku nyaman-nyaman saja meskipun kondisinya seperti itu. Lagipula kapan lagi aku mendapatkan momen yang sangat berharga selain seperti waktu itu.

Dua hari telah terlewati dan tidak ada hal yang mencemaskan, setelah kakakku membereskan administrasi rumah sakit, aku pun diijinkan pulang. Home sweet home, leganya bisa bernafas dengan normal, alhamdulillah. Dan akupun sembuh serta melanjutkan penelitian skripsiku.

Itu adalah pengalamanku 11 tahun yang lalu, sewaktu aku adalah mahasiswa semester terakhir. Yah aku jadi tahu seperti apa rasanya jadi warga kelas III, yang kurang mendapatkan perhatian dan kenyamanan, dan sampai sekarang sekali-kali masih ingin merasakan, agar syukur ini selalu muncul. Alhamdulillah.

Advertisements
Categories: Kisah, Seri bagaimana rasanya | Tags: , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Warga Kelas III

  1. nn

    Polip bpa dlu di hidung kiri atau kanan.?
    11 tahun lalu biayanya brapa ya.??? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: