Sepak Bola dan Organisasi

Seperti yang telah diungkapkan oleh rekan Anggi dalam tulisannya, sepak bola adalah olahraga yang menyenangkan bagi kami semua. Bukan sekedar pelepas stress dari beban pikiran dan hati saja namun juga membuat kami merasa satu dan merasakan saat yang paling membahagiakan tak peduli hasilnya menang atau kalah. Jika ditinjau dari hukum fisika, maka seolah-olah ketika kami bermain bola t = 0, karena kami bermain dengan gembira hingga kadang tak terasa waktu mengalir.

Nah dari apa yang aku alami bersama sepak bola selama ini, aku mencoba menemukan serpihan puzzle-puzzle organisasi sepak bola yang aku coba rangkum dalam tulisan ini dalam perspektif seorang Hari Prasetyo. Kalaupun pembaca anggap aku gagal merangkai puzzle-puzzle tersebut maka aku meminta maaf sebelumnya karena aku baru belajar. Well, correct me if I wrong.

Sepak bola adalah organisasi permainan. Aku bisa bayangkan kalau dalam organisasi ada yang dipimpin dan ada yang memimpin. Dalam sepak bola, atau entah mungkin juga organisasi, di setiap lini pasti ada pemimpinnya, contohnya pemimpin pertahanan yang bisa kiper atau bek, pemimpin di lapangan tengah yang mengatur serangan, dan pemimpin penyerangan yang bisa seorang gelandang atau striker.

realhappy

Dalam sepak bola yang kami mainkan, semua bersatu. Tiada personal glory yang ada hanyalah team glory. Seandainya itu terjadi di organisasi maka hasilnya dahsyat. Seorang pemain yang terlalu menekankan ke personal glory bisa jadi akan membawa timnya di ambang kehancuran karena terlalu egois contohnya sehingga tidak mau bekerja sama dengan pemain lain.

Tujuan sepak bola adalah goal dan sehat, sehat baik fisik maupun mental (sportif, besar hati jika kalah, rendah hati jika menang, minta maaf jika salah, memberikan apresiasi jika ada rekan pemain yang menciptakan goal). Demikian juga organisasi yang memiliki tujuan-tujuan. Kemudian dalam sepak bola, jika terjadi goal maka seluruh pemain pun ikut merayakan, makanya tentunya seharusnya tidak ada personal glory, yang ada hanyalah adalah team glory.

Pemimpin, dalam sepak bola, merupakan seseorang berperan bagai konduktor orkestra yang dapat memainkan nada-nada yang harmoni. Mutlak pemimpin dapat memotivasi, mau melayani para pemain yang dipimpinnya. Kapten tim wajib tahu apa yang diinginkan seorang striker, kapan harus mengumpan bola, kapan harus protes ke wasit (baca negoisiasi), kapan harus membela pemainnya, kapan harus berani memutuskan untuk menembak di kala striker sedang dijaga ketat, bahkan juga memberikan instruksi atau arahan yang tepat. Semua itu dilakukan untuk sebuah goal. Artinya konduktor yang pandai tentunya akan menghasilkan harmonisasi nada-nada yang indah di dengar bukan labilisasi suara yang dapat menimbulkan kontroversi pendengaran dalam tubular koklea yang akan menggalaukan organon korti sehingga terjadi discontinuitas impuls saraf nomor dua ke lobus temporal sehingga jadilah keram otak (udah kayak vicky aja nih).

Seorang pemimpin atau kapten bukan hanya sekedar skill saja tapi juga harus memberikan contoh yang baik terutama hal-hal yang kecil seperti pengisian daftar absensi (baca presensi) di saat latihan. Jika seorang kapten kalau absensi latihan saja masih titip ke anak buah (pakai instruksi lagi yang mana adalah penyalahgunaan wewenang) bagaimana bisa dipercaya oleh pemainnya untuk melakukan hal-hal yang besar. Non sense. Selalu terngiang di benakku mengenai kalimat dari seorang rekan yang biasa dipanggil Mr. Y yaitu “Even when you are the boss..it doesn’t mean you’re a good leader

Dalam sepak bola secara umum, sangat penting namanya rotasi pemain, jika terjadi penurunan produktivitas kerja di lapangan maka rotasi pemain dapat menciptakan penyegaran skuad jika terjadi kelelahan (karena faktor usiaku yang 33 my age…vicky lagi), kebuntuan (tidak tercipta goal). Tentunya pemain harus berbesar hati (sportif) jika harus dilakukan rotasi. Rotasi tersebut hanya dilakukan untuk kebutuhan organisasi demi goal bukan hanya sekedar keputusan like or dislike dari manajer tim. Kalau seumpama keputusan like or dislike itu terjadi, itu pasti konspirasi hati dan disintegrai moral dari manajer (ups vicky lagi).  Umumnya manajer meihat statistik atau ke-on fire-an pemain juga untuk menentukan rotasi. Jadi organsisasi bukan sekedar kebiasaan atau hal praktis tapi juga ada ilmu manajemen dan sisi psikologisnya. Jika saja klub sebesar Manchester United ditangani manajer gurem, maka aku akan melihat klub itu di kompetisi kasta bawah.

Kebersamaan dalam permainan juga dibutuhkan karena menciptakan chemistry atau feeling yang kuat, setiap dari pemain tahu pergerakan atau keinginan pemain lain untuk diberikan umpan atau disodori bola yang berpotensi menjadi goal. Chemistry ini tercipta melalui kebersamaan yang sudah lama terbentuk dan kuat. Nah bagaimana chemistry bisa terbentuk jika pemain tidak pernah muncul, tidak pernah hadir, tidak pernah memberikan warna tapi sekali muncul hanya bisa memberikan perintah, maka chemistry tim akan berantakan dan hasilnya dapat membuat produktivitas goal menurun. Itu merupakan destatuisasi kebersamaan organisasi (eh vicky muncul lagi).

Sebagai pemain yang baik dan berkualitas tentunya harus selalu bermain dengan sebaik mungkin dan seriang mungkin karena tujuan kami bermain adalah untuk mendapatkan kegembiraan apapun yang terjadi selama permainan. Sebagai pemimpin yang baik dan berkualitas tentunya mutlak selalu bermain lebih baik atau lebih ekstra lagi daripada pemain yang lain sehingga dapat dicontoh dan ditiru serta membuahkan hasil berupa “goaalllll”.

Andai kegembiraan itu bisa dipindah ke organisasi, goalnya pasti mantab banget. Terserah konduktor, mau praktis atau humanis?

Categories: Belajar Beropini, Hari ini aku belajar..., Kisah | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Sepak Bola dan Organisasi

  1. Ridwan

    Ga ga mutungan. Ga pake nyalah nyalahin. Goal…… goal….goal…. akhirnya tetaplah kebersamaan sebagai sebuah team. Bukankah TEAM berarti Together Everyone Achieve More.

  2. asik. relevan sekali tulisan pak hari dengan kondisi keseharian kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: