Kisahku ke Bunda

Bunda, ananda hidup di kota Jakarta seperti hidup di roda yang sedang berjalan. Ananda pergi mencari nafkah tanpa matahari terang, Ananda pun pulang tanpa matahari pula. Rindu Ananda dengan hangatnya matahari di teras rumah kita bersama Bunda.

Oh iya Bunda, terima kasih telah mengantarkan ananda di ujung pendidikan tertinggi, Bunda telah membanting tulang seorang diri demi ilmu yang ananda telah peroleh.

Ilustrasi Bunda (Courtesy of dakwatuna.com)

Bunda merelakan ananda pergi ke Jakarta untuk belajar mencari arti hidup, ananda pun bekerja, dan ananda senang mendapatkan pengalaman dan hasil jerih payah ananda sendiri, tapi kenapa bunda selalu menolak sebagian hasil jerih payah ananda? Kenapa bunda? Alhamdulillah Bunda, ananda kini di atas sedikit dari kesusahan, tapi meski begitu ananda tetap tidak akan berhenti membantu rekan ananda yang sedang susah.

Bunda, hari demi hari ananda lalui dengan senang hati. Bekerja dengan sebaik mungkin. Bekerja dengan seikhlas mungkin. Tapi Bunda, ananda takut kesederhanaan bernurani yang Bunda ajarkan menjadi sirna karena keserakahan belaka. Banyak ananda jumpai, macam-macam manusia yang tak peduli dengan moral. Ananda tak mau menjadi seperti itu Bunda. Ananda tidak tahu, apakah hidup di Jakarta itu seperti roda yang siap menggilas, seperti syair lagu Ebiet G Ade kegemaran Ayahanda?

Bunda, di sini banyak manusia yang tak bernurani. Manusia yang sering berprasangka tanpa sebab, manusia yang sering menuduh tanpa bukti, manusia yang berpikiran sempit yang tak mau memandang lebih dalam orang lain, manusia yang tega menginjak-injak manusia lain serta manusia bermental uang, uang dan uang. Bahkan matipun minta uang. Ingin ananda bertanya kepada mereka, kemana hilangnya nurani mereka. Ananda tak tahu apakah mereka sedang sadar atau mimpi? Bunda, ananda tak mau seperti itu. Ananda ikhlas dibilang gila, ikhlas dibilang naif, dan ikhlas dibilang bodoh karena tidak seperti itu. Ananda tak ingin mengecewakan Bunda.

Bunda kadang ananda ingin sekali seperti mereka manusia diatas roda, yang hidup berkecukupan, ingin pergi tinggal pergi, ingin makan tinggal makan, ingin liburan tinggal pergi, ingin senang tinggal menjentikkan jari. Selembar uang bagi manusia diatas roda mungkin adalah receh tapi sangat berharga bagi mereka yang bekerja berangkat dan pulang tanpa matahari seperti ananda.

Jika ananda berkesempatan menjadi manusia di atas roda, ananda akan memimpin bawahan ananda dengan dengan nurani ananda bukan rasional semata. Ananda ingin bawahan sama bahagianya dengan ananda. Alangkah indahnya, bisa bahagia bersama.

Tapi Bunda, tetap saja keinginan ananda adalah membahagiakan bunda dengan mengajak bunda ke kabah, bersujud di sana, menghaturkan segala puji dan doa ke Allah Subhana Wa Ta’ala. Hanya saja….

Bunda, setelah ananda mendapatkan pendamping setia yang selalu tersenyum dan mendukung ananda setia saat serta selalu bersedia menemani ananda di kala suka dan duka, tiba saatnya ananda mengenalkan anak ananda kepada Bunda. Namanya Ayu Harum, terinspirasi dari Bunda yang cantik dan selalu tersenyum kepada ananda. Jika ananda melihatnya, terbayang wajah Bunda. Oh iya, Bunda, ananda juga mengajarkan kesederhanaan bernurani yang Bunda ajarkan kepada Ananda.

Bunda, ananda merasa hidup seperti sebuah siklus yang selalu berputar dan berputar, ada saatnya di atas dan ada saatnya di bawah. Bunda, ternyata hidup tidak sekedar berputar, hidup akan lebih berarti jika tiap langkah putaran selalu diberi arti. Tak ada di setiap jengkal putaran ananda yang tidak memberi hikmah. Bunda, ternyata arti hidup yang ananda cari selama ini ada di depan mata. Ayu Harum! Kesederhanaan bernurani bukanlah untuk diri ananda semata tapi untuk dilanjutkan.

Bunda, umur ananda tidaklah muda lagi. Lelah hinggap hati ananda untuk berjuang hidup lurus, ingin rasanya ananda menyusul bunda disana, ingin rasanya ananda menangis dipeluk bunda, tapi demi Bunda pulalah aku berjuang untuk hidup menjaga Ayu.

Advertisements
Categories: Cerpen, Curhat, Hari ini aku belajar..., Kisah | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: