What a dream…

Allahumma innii a’uudzubika min ‘amalisy syaithooni wa sayyiaatil ahlaami. Ya Allah,sesungguhnya aku berlindung kepadaMU dari pekerjaan syetan dan dari mimpi mimpi yang buruk.

Aku malam ini terbangun dari mimpi, entah itu mimpi buruk atau tidak, semoga itu bukan mimpi yang buruk, karena kalau mimpi buruk tidak boleh diceritakan. Itulah sebabnya aku mengucapkan doa itu.

Jadi kisahnya diawali di akhir abad 21, aku mulai bekerja di suatu sekolah, di suatu tempat di Indonesia, yang dimana sebagian besar guru dan birokrasinya tidak begitu menyukai sama sekali kemajuan teknologi informasi. Waduhhh, abad 21 ini merupakan abad yang pesat kemajuan teknologi informasinya tapi kenapa sekolah ini sebagian besar guru dan birokrasinya malah cenderung lebih suka yang tradisional.

Dalam mimpi itu aku melihat, para pemegang kebijakannya, birokrat, guru seniornya, kebanyakan, bukan tipe-tipe yang mampu memanfaatkan teknologi untuk kemudahan, masih cenderung beranggapan bahwa untuk menguasai teknologi merupakan hal yang keluar dari zona kenyamanan mereka, mungkin mereka adalah digital immigrant.

Oohh sayang sekali, sebagai sekolah yang memproklamasikan modern dan unggul serta mempunyai visi internasional, para pemegang kebijakan, guru dan birokrasinya harus dapat menguasai dan memanfaatkan teknologi dengan maksimal. Jika tidak bisa, apa bedanya dengan sekolah biasa. Bedanya hanya mengajar di tempat yang lebih bagus saja.

Aku melihat di mimpi itu, teknologi diajarkan kepada siswanya hanya melalui pelajaran TIK saja, tidak banyak pelajaran non TIK yang memanfaatkan teknologi. Harusnya pembiasaan belajar dengan menggunakan TIK itu dilakukan di semua pelajaran. Kenapa, ya itu tadi, kebanyakan guru-gurunya terutama yang digital immigrant lebih mencintai yang tradisional, sedangkan murid-muridnya merupakan digital native.

Di mimpi itu, aku dan guru-guru muda lainnya memberikan masukan mengenai pengembangan teknologi kepada pemimpin sekolah itu. Segala argumentasi untuk mempertahankan yang tradisional dikeluarkan oleh para penikmat tradisional, mulai dari kelemahan teknologi dan semacamnya. Teknologinya yang lemah atau kelemahan kemauan menguasai teknologi???. Oke deh, kita pun mengalah karena kita lemah secara posisi, yang penting dalam sehari-hari kita mampu menguasai teknologi itu dengan baik. Di tangan guru-guru muda, lumayanlah ada kemajuan sedikit, sudah mau melakukan dialog jarak jauh dengan sekolah partner menggunakan Google Skype, padahal sekolah lain yang aku kenal di mimpi itu sudah sangat lama-lama sekali menggunakan itu.

Kemudian waktu berjalan dengan cepat, aku meninggalkan sekolah itu untuk berkeliling dunia, kemudian aku tiba kembali di sekolah ini di 10 tahun kemudian. Aku melihat para pemangku kebijakannya, birokrat, dan guru seniornya sudah pensiun dan digantikan dengan rekan-rekan guru-guru mudaku dulu.

Bayanganku sekolah ini sudah maju perkembangan teknologinya minimal mampu memanfaatkan teknologi sehingga kinerjanya menjadi optimal. Namun apa yang terjadi? Rupanya tidak ada perkembangan yang berarti, padahal 10 tahun waktu aku berkeliling dunia, di Eropa, di Asia Timur, di Australia, ataupun di Amerika, rata-rata sekolah di sana benar-benar mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Guru-guru dan birokratnya di dorong oleh pemangku kebijakannya, apa istilah Inggrisnya itu, oh ya di encourage, untuk menguasai dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi itu sehingga memudahkan dirinya dalam bekerja sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan kinerjanya.

Lalu aku bertanya kepada salah satu rekan guru yang dulu sama-sama muda, yang dulu sama-sama berjuang memajukan sekolah, “Bro, kenapa kok tidak ada perkembangan dalam pemanfaatan teknologi informasi di sekolah ini”. Rekanku itu menjawab “Iya nih mas, budaya untuk mau belajar dan menguasai teknologi tidak begitu berkembang baik disini, kebanyakan pada nyaman sih, mendingan nyuruh adik-adik guru yang lebih junior dan yang lebih menguasainya, jadi lebih praktis”.

Whaattt, aku memberikan masukan kepada rekan guru yang dulu sama-sama muda itu yang sekarang sudah menjadi kepala sekolahnya. “Eh, secara jaman windows udah versi 20 loh, sekolah elo gak akan maju nih selama guru-guru elo yang senior masih nyaman di zona nyamannya. Sekolah lain tuh ya, mau di Eropa, mau di Australia, atau dimana kek, itu sudah pada memanfaatkan teknologi untuk memudahakan dan meningkatkan kinerja mereka. Masak masih pakai cara primitif sih? Ingat dulu kita dapat wejangan dari pak Prof. Rhenald Kasali kan, bahwa tanpa perubahan tak kan ada kemajuan dan tak kan ada pembaharuan”.

Lalu aku menunjukkan foto-foto yang aku dapat selama berkeliling dunia tentang kemajuan beberapa sekolah yang sempat aku kunjungi sekaligus cerita pengalamanku memasukkan anakku di sebuah sekolah di Eropa.

Ilustrasi: Situasi belajar di kelas anakku saat di Eropa.
(Courtesy of teachthought.com)

Sayangnya itu menjadi dialog terakhir di mimpiku yang aneh malam ini. Aku tiba-tiba terbangun, menulis ini agar tidak lupa, shalat tahajud dan berdoa agar semoga cita-citaku untuk bersekolah di Eropa terwujud. Aamiin.

Advertisements
Categories: Belajar Beropini, Corat-Coret Tengah Malam, Curhat, Keliling Dunia, Kisah, Seri Teacher Transform!!!, Teacher's Log | Tags: , , , , , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “What a dream…

  1. pak hari, saya baru baja tulisan ini, hahaha. jadi inget diskusi-diskusi saat piket. hehehe. keren pak mimpinya. hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: