Superhari

Oleh: Nur Ayu Nazhira*

Aku memasuki ruangan biologi dengan bawaanku yang tidak terlalu banyak hari itu. Hanya sebuah tas dan map di tangan kiriku. Ekspresiku terlihat lelah saat aku menyapa dan salam kepada guru biologiku, Bapak Hari Prasetyo. Sudah lama ia bekerja sebagai guru di SMA Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta, dan nampaknya beliau masih sangat enjoy.

“Kenapa? Kok lemes begitu? Belom makan?” seketika Pak Hari langsung memborong pertanyaan setelah melihat ekspresiku.

“Hmm.. Enggak apa-apa sih, Pak. Cuma capek aja sekolah, pingin liburan. Tapi saya juga takut, Pak, kalau saya gagal diterima di Universitas Indonesia” jawabku sambil menempati kursi di baris pertama dan meletakkan barang-barangku di atas meja.

“Sabar, sebentar lagi juga kita libur” katanya sambil menggeser kursinya agar dapat melihatku di balik layar komputernya, “Kegagalan itu bukan sebuah kehinaan, kegagalan itu sebuah keberhasilan yang masih tertunda. Makanya kamu harus semangat sekolah supaya bisa meraih cita-cita kamu. Mumpung kita masih muda, masih punya banyak waktu. Berlombalah supaya lebih cepat sampai ke puncak, dan setelah itu masih ada puncak-puncak lain yang dapat didaki.”

Aku tersenyum mendengar nasihat dari Pak Hari, “Iya, Pak. Bapak bener banget. Oh iya, saya gak pernah keliling dunia nih pak, pingin banget”

Pak Hari menyerngitkan dahinya karena mendengar jawaban dariku, “Jangan bilang enggak pernah, tapi belum. Dulu waktu saya SMA, saya pernah diberi nasihat sama turis dari Swiss. Dia bilang, jangan bilang ‘tidak pernah’ tapi bilang ‘belum, dan saya akan kesana’ ketika saya bilang ‘saya tidak pernah ke luar negeri’. Mulai dari situ lho, saya jadi punya mimpi keliling dunia juga”

Aku terdiam, mengingat aku pernah melihat beberapa foto-foto beliau di blog-nya. Seringkali aku membuka blog Pak Hari untuk men-download¬ materi biologi yang sudah dibuat dalam bentuk slide powerpoint. Dan setiap kali aku membukanya, ada beberapa foto Pak Hari yang tentunya bukan di Indonesia.

Guru yang sedang berjuang untuk mendapatkan beasiswa LPDP ini memang terlihat lebih high-tech dibandingkan dengan guru yang lainnya. Beliau satu-satunya guru yang membuat kuis dalam bentuk permainan who wants to be millionaire, beliau membuat game, online quiz, dan terkadang jika pertemuannya kurang, beliau juga membuat ulangan secara online.

“Hebat juga”, kataku dalam hati. Tak heran aku melihat sertifikat penghargaan dari sekolah yang ditempelnya di dinding dekat papan tulis.

“Cerita dong, Pak. Bapak udah pernah kemana aja?” tanyaku penasaran.
“Baca aja nih buku saya” Pak Hari menjulurkan buku novel yang tidak berukuran terlalu besar kearahku.
“Bapak bikin novel?”
“Iya hehehe”. Karena penasaran, aku mengambil novel itu dan berniat untuk meminjamnya.

***

The Tales of Good Hope, itulah judul novel yang diterbitkan Pak Hari melalui penerbit indie. Satu persatu kubalik halaman novel tersebut. Sampai pada cerita perjalanan pertamanya keluar negri. Saat itu ia bergabung dengan guru-guru lain dalam iEARN dan diundang untuk mengikuti konfrensi di Beirut, Lebanon. Tepatnya pada 4 Februari 2005. Disana, beliau juga sempat dijamu oleh Duta Besar RI, Bapak Abdullah Syarwani.

Pada Juni 2008, Pak Hari menghadiri rapat di Depdiknas sebagai web admin E9 di server Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, yang juga dihadiri oleh beberapa pejabat Kemdikbud dan orang-orang dari Pustekom. Rapat ini membahas pemindahan website E9 ke server Kemdikbud. Dalam rapat itu juga kemudian disepakati bahwa website akan dipindah ke server Depdiknas dan akan didesain ulang menggunakan Content Management System (CMS) sehingga lebih dinamis. Ternyata, para dubes negara-negara E9 memberi apresiasi dan komentar positif terhadap website E9 buatan Pak Hari.

Masih berhubungan dengan website, beliau pernah mendapat telfon dari koordinator Associated School Project Network UNESCO Indonesia. Ternyata, menjadi pembicara dalam acara internasional, Global Citizen Summit. Beliau diminta untuk berbicara mengenai website iEARN, salah satu website edukasi kolaboratif.

Asik membaca kumpulan kisah Pak Hari, aku pun melanjutkan pada cerita berikutnya.

Saat ia pergi ke luar negeri, yaitu Korea Selatan. Beliau memiliki kesempatan itu karena meraih 2nd Winner of UNESCO Associated School Project Network (ASPNet) Good Practce Development Project in Achieving Millennium Development Goals through Education for Sustainable Development in the Asia-Pacific Region, 2009. Lomba tersbut diadakan oleh Korean National Commision for UNESCO (KNCU) dan UNESCO Associated Schools (ASPnet) yang disponsori oleh UNDP dan Ministry of Education and Techonology of Korea.

Di Korea, Pak Hari bersama rekan-rekannya berkesempatan untuk menampilkan proyek buatannya. Seorang Koordinator dari UNESCO Paris kagum melihat banner Al-Izhar yang dipajang. “Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, waktu terbaik yang berikutnya adalah sekarang”, begitu tag title yang tertulis di banner tersebut.

Selain menampilkan presentasi, mengikuti dialog tentang masa lalu dan sekarang kemitraan kegiatan ASPNET, beliau juga berkesempatan untuk menampilkan kesenian tradisional dari Indonesia. Pak hari memperkenalkan batik sebagai warisan dunia UNESCO dari Indonesia, dan juga membuat pertunjukkan Silek Minang yang diikuti oleh musik talempong. Ternyata, para undangan bersemangat melihat pertunjukan mereka, termasuk Direktur Pendidikan Divisi Asia Pacific Cultural Center for UNESCO Jepang.

“Hari, Anda punya bakat tersembunyi. Anda tampak begitu pemalu dalam forum ini, tetapi ketika Anda melakukan penampilan tadi, Anda terlihat seperti orang yang berbeda.” begitu kata Ms. Tomoko yang baru pertama kali menonton pertunjukan silat secara langsung.

Beberapa tahun yang lalu, beliau pernah mendapat tugas mewakili sekolahku dan Indonesia ke sebuah workshop di Carnegie-Mellon University, salah satu universitas terkemuka di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Sertikat. Hari kedua workshop tersebut bertepatan dengan perayaan Idul Adha. Sayangnya, Amerika Serikat bukan negara Muslim, sehingga sulit mencari masjid disana.

Namun itu tidak membuat Pak Hari putus asa begitu saja. Beliau browsing di Internet dan akhirnya beliau menemukan Pittsburgh Islamic Center yang tak jaug dari hotel tempatnya menginap.

Tak hanya di Amerika Serikat. Pak Hari pun pernah merayakan Idul Adha di Istanbul, Turki. Tak sulit mencari masjid disana karena hampir seluruh penduduknya beragama Islam. Saat itu Pak Hari menunaikan solat Idul Adha di Masjid Biru. Saat khutbah disampaikan, serombongan pria kekar berjas hitam datang mengawal seseorang yang langsung menduduki saf depan. Pak Hari tidak tahu siapa yang dikawal, sampai pada akhirnya ketika selesai solat, beliau melihat banyak orang yang berkrumunan maju ke depan.

“Beliau adalah Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, biasanya dipanggil Erdogan” kata Abbas, seorang mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Pak hari pun ikut mengantri untuk bersalaman.

“Assalamu’alaikum” sapa Pak Hari
“Wa’alaikumsalam. Where do you come from?”
“I come from Indonesia, sir.”
“Masya Allah.” Pembicaraan setelah itu tidak dapat dilanjutkan karena pengawalnya meminta Pak Hari untuk lanjut bersalaman dengan Imam Besar Masjid Biru.

Perdana Menteri Erdogan bukanlah orang yang arogan, beliau selalu rendah hati terhadap masyarakatnya. Beliau juga tak ingin dicium tangannya meskipun itu sebagai tanda hormat. Perdana Menteri Erdogan dan Imam Besar Masjid Biru memang tidak ingin dikultuskan.

Pada akhir dari novelnya, Pak Hari memiliki sedikit tips untuk meniti awal karier calon guru atau guru yang baru memulai kariernya. Yang pertama harus dilakukan adalah, segera lakukan kesalahan, tapi lebih baik belajar dari kesalahan orang lain. Karena banyak pelajaran baik yang dapat diambil ketika kita melakukan kesalahan.

Kedua, temukan gaya mengajar sendiri. Calon guru harus bisa mengombinasi gaya-gaya mengajar. Maka dari itu dibutuhkan diskusi, observasi, membaca buku, dan lain-lain. Ketiga, posisikan diri sebagai murid. Terkadang, guru juga memerlukan beberapa kritik dan saran yang membangun dari murid-muridnya. Keempat, tetap percaya diri. Dan yang terakhir, ciptakan kesempatan sendiri, jangan menunggu. Jika ada kesempatan untuk mengikuti seminar, konferensi, workshop, atau MGMP, manfaatkan peluang itu utuk menambah jaringan.

Ada juga beberapa informasi dan ajakan kepada guru untuk berubah. Walaupun sekarang aku bukan guru, tapi aku bisa menilai bahwa ajakan-ajakan yang diutarakan oleh Pak Hari seluruhnya benar. Tak tahu apa yang harus aku katakan, akhirnya kututup novel yang sudah selesai kubaca. Aku sangat bangga memiliki guru seperti Pak Hari.

***

“Pak, ini bukunya sudah selesai saya baca” kataku sambil meletakkan novel itu di atas mejanya.
“Wah, bagaimana menurut kamu tentang novel saya ?”
“Bapak luar biasa” kataku sambil tersenyum.

***

*Penulis adalah siswa kelas XII IPA SMA Al-Izhar Pondok Labu. Pemilik hobi menulis dan memasak ini merupakan peringkat 8 dari Lomba Menulis Nasional Kisah Guru Inspiratif 2013 yang diadakan oleh Tim Riset Guru Inspiratif Jambi

Advertisements
Categories: Hari ini aku belajar..., Kisah | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Superhari

  1. mantap pak hari. guru cerdas dan inspiratif melahirkan murid cerdas. selamat untuk nazira.

  2. “Kalo mau sukses, cari prototype orang sukses yang seperti apa, kemudian ikuti jejak dia, bagaimana bisa sukses”. Baru baca sedikit blog ini saya sudah speachless. Saya juga seorang guru muda, yang “kecelakaan” menjadi seorang guru. Saya mengajar di sebuah SMA negeri, selama ini saya belum menemukan guru yang menjadi panutan, saya kesulitan mencari model. Saya mau jadi penerus bapak. Semoga saya bisa belajar dr bapak.

    • Ibu Dian mohon maaf ya bu karena saya baru membalas, ini karena saya sudah lama belun menengok blog saya yang satu ini.
      Hehehe saya seorang guru tua yang dulu “kecelakaan” menjadi seorang guru. Saya mengajar di sebuah SMA negeri, selama ini saya belum menemukan guru yang menjadi panutan, saya kesulitan mencari model. Model itu banyak kok bu, tidak harus bagus, kita tinggal melakukan perbaikan saja sesuai dengan model yang ibu inginkan. Semoga sukses selalu ya bu. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: