Puisi

Ini dia puisiku jaman kuliah dulu. Aku temukan di sela-sela tumpukan file digital.

PUISI GALAU

Hari yang Aneh

Aneh, di pagi hari aku tertawa
Di penghujung hari aku menangis
Hidup di dunia memang tidaklah adil
Kecuali engkau hidup di lain dunia

Keadilan adalah suatu barang mahal
Yang dicari dan diharapkan semua orang
Dimana untuk mencapai dan menggapainya
terkadang harus rela ditebus dengan nyawa

Wahai kalian yang selalu berpegangan padaku
Di kala badai menghempaskan kalian
Aku bagai pohon berusaha tegar menahan
Dimana kalian kala badai menghajarku

Saat hati mulai goyah, saat aku akan roboh
Mencoba bertaut, tak ada yang membantu
Saat hati berteriak, saatnya aku mulai jatuh
Mencoba tegak, sepi di sini tinggalkan aku

Hati mulia ada saatnya, hati kejam pun ada saatnya
Hati mulia berarti sabar, hati kejam berarti kehinaan
Tetap saja aku mencoba menjadi mulia tanpa harap
Mencoba berdiri tegak di atas kakiku sendiri

Ah betapa masa hidupku yang sangat memalukan
Tak ada yang mengenang tak ada yang mengingat
Tak ada yang pantas dikenang tak ada yang diingat
Benar-benar perjalanan hidup yang menyedihkan

Siksa raga tak menderita siksa jiwa menyakitkan
Kuingin seperti burung, bebas, terbang tinggi nun jauh
Di angkasa memandang keindahan melihat kedamaian
Sayang, aku tak punya sayap bagaimana aku terbang

Semoga ada masa yang menyembuhkan luka
Berharap punya sayap yang akan membawaku
Terbang tinggi sekali hingga bebas memandang
Takkan pernah jatuh dan takkan pernah terluka

——————————————————————————-

Puisi di atas ini aku buat karena kegalauanku dan kekecewaanku karena sering diremehkan banyak orang. Sejak itu aku bertekad untuk tetap belajar dan optimis agar tidak mudah diremehkan orang lain. Yah namanya dulu, ya itu dulu. Faktanya sekarang, Allah mengabulkan banyak doaku, sehingga kini aku bisa terbang tinggi dan jauh mengelilingi dunia ini sekali hingga bebas memandang (memiliki banyak perspektif atau sudut pandang) dalam menyikapi masalah. Disini aku belajar kesabaran dan pikiran positif. Alhamdulillah.

——————————————————————————-

HARAPAN BARU

Selamat tinggal tahun penuh kenangan
Kenangan suka ataupun duka
Selamat datang tahun penuh harapan
Harapan dan impian yang ada

Ingin kuraih semua bintang di langit
Ingin ku bersinar dengan terang
Ingin ku tegar menggantung di langit
Di tahun yang mendatang

Selamat tinggal tahun penuh pertanyaan
Dimana kudapatkan semua jawaban
Selamat datang tahun penuh tantangan
Yang takkan pernah terduga di angan

Akan kugapai cita, akan kucapai tujuan
Akan kuraih asa, akan kuantar kemenangan
Kau tetap kucinta, Kau tetap kurindukan
Kau yang tercinta, Kau yang kuimpikan

——————————————————————————-

Puisi di atas ini aku buat pada saat malam pergantian tahun 2002 ke tahun 2003. Banyak kesalahan dan kebaikan yang telah aku lalui dan aku belajar dari semuanya. Aku takkan pernah tahu apa yang akan yang terjadi, yang kutahu hanyalah aku tetap berusaha sebaik mungkin. Terima kasih ya Allah atas perkenan-Mu dalam mengabulkan doa-doa hamba. Alhamdulillah.

——————————————————————————-

PUISI CINTA

Petani Cinta

Akulah si petani cinta
Yang menebarkan benih cinta
Dan menyemaikan bibit kasih sayang
Di ladang hatimu

Aku kan pelihara sekuatku
kan kujaga dari penyakit cinta
kan kusirami dengan kesetiaan
kan kusiangi dengan kelembutan
kan kupupuk dengan kepercayaan
kan kunanungi dengan kejujuran
Aku kan pelihara dengan kesabaran

Aku menunggu dengan sabar
Saat tiba untuk menuai
Menuai cinta yang kutanam
Kutanam di dalam dirimu

Semoga ladang hatimu
masih menyisakan sedikit
Ya…walaupun sedikit kesempatan saja
Benih cinta yang dapat aku tanami
untuk masa kisah selanjutnya

Akulah si petani cinta
yang menebarkan benih cinta
dan menyemaikan bibit kasih sayang
Di ladang hatimu

Edelwis

Bunga Edelwis yang dulu kamu berikan kepadaku, takkan pernah hilang di pandanganku, bagiku adalah sebuah bunga yang abadi darimu….akankah cinta kita seperti bunga itu,  sungguh dulu aku tak bisa memahami arti pemberianmu itu, yah tanpa kusadari itu jika itu menandakan sesuatu.

Kini semua kembali padaku bukan? Tergantung seberapa keras usahaku untuk mendapatkanmu kembali. Karena sungguh aku tak akan kuat menahan beban seberat ini, jika tiada dirimu di sisiku! Aku sungguh menyesal mengabaikanmu, oh bunga edelwis bisakah kami menjadi sepertimu? Yang tak pernah layu sampai kapanpun. Hanya bunga itu yang aku kenang.. bagiku bunga itu adalah kamu,.

Bungaku…bungaku maukah kamu kembali tumbuh di hatiku.
Bungaku…bungaku maukah kamu kembali bersemi di hatiku.
Bungaku…bungaku maukah kamu tetap abadi di hatiku
Bungaku oh bunga edelwis engkau telah merubahku
Bungaku oh bunga edelwis semoga aku memilikimu di hatiku.
Bungaku oh bunga edelwis, pemberian terbaik darimu yang belum pernah kudapatkan

 

Mimpi yang Indah

Manakala mimpi menjadi nyata
Bagai tiada menjadi ada
Bagai semu menjadi asa

Saat cinta mewarna
Bagai hamparan bunga
Menghias halaman jiwa

Saat rindu melanda
Bagai hati yang merana
Karena menahan rasa

Andaikan ada masa
Kuingin raga bersama
dirimu disana

Empat Elemen

Matahari, sebuah pelita menyinari dunia
Bulan, cermin cahaya di kala gelap
Bintang, ribuan lilin kecil menghiasi
Engkau matahariku bulanku dan bintangku

Air, sejuk dan menghilangkan dahaga
Tanah, pijakan penuh arti di dunia
Api, berkobar bagai bara semangat
Engkau airku tanahku dan apiku

Hembusan angin lemah gemulai
Deru ombak di laut bergoyang riang
Awan pun memutih dan tersenyum
Mendengar nada cinta yang kita cipta

Bunga bermekaran mendengarnya
Kumbang beterbangan menari
Kicau burung mengiringi
Semua nyanyian cinta kita

Wahai alam semesta
Yang mengikatkan tali kita
Dan menyaksikan cinta kita
Kau dan aku semoga satu rasa

 

Embun Cinta

Setetes embun cinta
Menyejukkan hati
Setetes embun kasih
Menyegarkan kalbu

Dia menetes di kala pagi
Menempel di dinding hati
Jatuh meresap ke jiwa
Menambah khidmat rasa

Ah…adakah dia
Yang menyejukkan
Yang menyegarkan
Yang menghibur

Bulan oh malam tiadalah
Fajar oh pagi segeralah
Agar bisa kureguk dia
Dia setetes embun cintaku

——————————————————————————-

Puisi di atas ini aku buat karena kegembiraanku dalam menemukan calon pasangan hidup. Berharap semoga akan disatukan oleh Allah untuk selamanya. Faktanya sekarang, Allah mengabulkan doaku. Alhamdulillah.

——————————————————————————-

PUISI UNTUK GURUKU

Untuk Ibu Sukendah, Ibu Sukartiningrum, dan Ibu Pangesti

Engkau menjadi pelita
Menyinari di kala gelapku
Engkau telah menjadi air
Yang kureguk ketika dahaga

Engkau menjadi cahaya
Menyinari di kala malamku
Engkau telah menjadi utara
Ketika arah dan jalanku tersesat

Ilmu yang engkau berikan
Kan bertuah di masa tuaku
Ilmu yang engkau isikan
Adalah berharga untukku

Semua ilmu yang engkau berikan
Kan kukenang di masa hidupku
Kan kusebarkan seperti benih
Yang kemudian akan tumbuh

Kapanpun, dimanapun
Ibu tetap menjadi pelita
Ibu telah menjadi utaraku
Ibu tetap menjadi guruku

Kesabaran yang tak pernah habis
Ketulusan yang tak pernah hilang
Kebaikan yang tak pernah terlupakan
Ribuan rasa terima kasih untukmu

Semoga Tuhan membalas kebaikan Ibu
Dengan beribu kebaikan dan kemudahan
Tak banyak yang bisa aku berikan
Hanya doa dan harapan untuk Ibu

——————————————————————————-

Puisi di atas ini aku buat saat akhir studiku di kampus. Sebagai rasa syukur dan terima kasihku kepada ibu dosen yang telah membimbingku selama di laboratorium Bioteknologi di FP UPN Surabaya.

——————————————————————————-

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: