Posts Tagged With: guru

What a dream…

Allahumma innii a’uudzubika min ‘amalisy syaithooni wa sayyiaatil ahlaami. Ya Allah,sesungguhnya aku berlindung kepadaMU dari pekerjaan syetan dan dari mimpi mimpi yang buruk.

Aku malam ini terbangun dari mimpi, entah itu mimpi buruk atau tidak, semoga itu bukan mimpi yang buruk, karena kalau mimpi buruk tidak boleh diceritakan. Itulah sebabnya aku mengucapkan doa itu.

Jadi kisahnya diawali di akhir abad 21, aku mulai bekerja di suatu sekolah, di suatu tempat di Indonesia, yang dimana sebagian besar guru dan birokrasinya tidak begitu menyukai sama sekali kemajuan teknologi informasi. Waduhhh, abad 21 ini merupakan abad yang pesat kemajuan teknologi informasinya tapi kenapa sekolah ini sebagian besar guru dan birokrasinya malah cenderung lebih suka yang tradisional.

Continue reading

Advertisements
Categories: Belajar Beropini, Corat-Coret Tengah Malam, Curhat, Keliling Dunia, Kisah, Seri Teacher Transform!!!, Teacher's Log | Tags: , , , , , , | 1 Comment
 
 

Dapatkan buku karya Hari Prasetyo

T h e    T a l e s    o f    G o o d    H o p e

the-tales-of-good-hope3d

Penulis: Hari Prasetyo
Penyunting: Triani Retno
Tata Letak: Tim Indie Publishing
Cover: Dani Ardiansyah
ISBN: 978-602-7770-17-1
Ukuran: vi + 153 hlm; 13 x 19 cm

Harga: Rp 37.500 + ongkir (Order by SMS >> 085694771764 : Nama, Alamat Kirim, Judul, Jumlah pesanan) atau via BBM PIN 29EB65ED, dijual secara online di web penerbit Indie Publishing.

Komentar dari Para Pembaca:

“Pak Hari seorang easygoer yang optimis, maka saat kita membaca kisahnya akan sangat ringan namun senantiasa menunjukkan keoptimisan yang luar biasa. Humble, hangat, dan jujur sehingga kita mudah belajar apa yang dikisahkannya. Congrats ya pak Hari.”
~Saara Suaib, Guru Bahasa Inggris SMP Al-Azhar 9, Bekasi. Bintang Tamu Kick Andy Edisi “Jadi Guru, Ya Harus Kreatif” 9 Mei 2014

“Buku ini dalam 30 menit terlahap semua, bahasa ringan dan banyak inspirasi. Terimakasih full, buku selanjutnya kita tunggu”
– M. Roem Sybly, dosen Ilmu Agama Islam, UII Yogyakarta Continue reading

Categories: Kisah | Tags: , , ,

Pengalaman Memburu Beasiswa Monbukagakusho (Teacher Training)

Apakah anda seorang guru yang ingin belajar di salah satu negara maju di Asia? Apakah usia anda di bawah 35 tahun dan telah mengajar secara aktif di SD, SLTP, SLTA (termasuk sekolah swasta dan SMK) lebih dari 5 tahun di lembaga pendidikan formal?  Apakah anda bukan guru Pkn, bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Arab, pendidikan agama dan perhotelan? Dan apakah anda bersedia belajar bahasa dan kebudayaan Jepang? Jika anda menjawab ya pada semua pertanyaan di atas maka anda sebaiknya mendaftar di program Beasiswa Monbukagakusho (Teacher Training).

Program Penataran Guru (Teacher Training Program) adalah salah satu program beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho) yang dirancang khusus bagi para guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran sesuai dengan bidangnya. Mereka akan diberikan pelatihan dalam cara mengajar, pembuatan rencana belajar-mengajar yang lebih efektif dan menarik minat siswa dan hal-hal lain yang dapat mengingkatkan kualitas dan kemampuan para guru. Program ini adalah program non-gelar dan lamanya adalah 1 tahun 6 bulan (termasuk 6 bulan belajar bahasa Jepang).

Jika anda berminat maka website ini harus anda kunjungi karena di sana tertera pengumuman dan persyaratan lebih lanjut.

Jika anda ingin mengetahui mengenai pengalaman gagalku dalam memburu beasiswa ini maka sebaiknya anda tetap membaca artikel ini…. hehehehehe gagal aja maksa :p

Tahun lalu aku mendaftarkan diri, meskipun aku akhirnya tidak berhasil lolos di tahapan paling akhir tapi aku mau membagi pengalamanku kepada guru-guru yang ingin sungguh-sungguh mendapatkan beasiswa ini.

Di awali dengan mengirim aplikasi lengkap sesuai dengan semua persyaratan yang diminta dan setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya aku dihubungi oleh pihak kedutaan Jepang di Jakarta bahwa aku lolos seleksi berkas dan diminta untuk hadir dalam tes bahasa Inggris di Pusat Kebudayaan Jepang di UI, Depok siang hari dengan membawa KTP dan alat tulis.

Jangan khawatir mengenai tempat shalat, karena di aula terdapat space yang cukup untuk dijadikan tempat shalat, biasanya para peserta ujian melakukan shalat Dzuhur di tempat itu. Hanya saja tempat wudhunya ada di kamar mandi yang letaknya agak sedikit jauh dari tempat shalat.

Tak lama meja pendaftaran ulang pun dibuka. Para peserta ujian diminta untuk antri ke belakang dengan nama yang berabjad A-M mengantri di meja sebelah kanan dan sisanya di meja sebelah kiri. Peserta diminta menunjukkan KTP dan menyebutkan nama dan sekolah asal. Lalu petugasnya akan memberitahukan anda nomor ujian yang harus anda hafalkan karena itu akan ditulis pada lembar jawaban.

Antrian panjang

Setelah itu anda diminta untuk segera masuk ke ruang ujian dan menempati kursi yang paling depan dulu, nomor ujian tidak sama dengan nomor di kursi jadi anda duduk secara acak. Biasanya peserta diminta untuk mengosongkan kursi di sebelahnya untuk space sehingga tidak terlalu dempet.

Ruang Ujian Monbukagakusho

Tas dan barang bawaan diletakkan di belakang

Tak usah mencoba duduk berdekatan dengan rekan satu sekolah karena pengawas akan meminta peserta untuk bertukar posisi jika anda berdekatan dengan rekan satu sekolah anda.

Di sini, di ruang ujian ini, anda akan mengetahui bahwa banyak guru yang tidak dapat di atur, tidak mematuhi pengawas, atau tidak mendengarkan arahan pengawas. Entah karena etos kerja yang kurang atau memang tidak layak untuk mendapat beasiswa. Pengawas tak segan-segan menegur meskipun anda seorang guru. Jadi pantaskanlah diri anda untuk mendapatkan beasiswa dari sejak awal karena di sini anda sebagai calon siswa bukan lagi seorang guru yang bisa mengatur murid-murid anda. Ikuti saja arahan dari pengawas, tak jarang anda akan mendengar “semprotan” pengawas karena beberapa peserta yang tidak mendengarkan petunjuk atau melanggar. Meskipun pengawas adalah orang Indonesia namun mereka sangat disiplin ala Jepang.

Pengawas memberikan instruksi kepada peserta ujian

Pengawas akan membagikan paket lembar soal dan jawaban, jangan pernah membuka-buka paket itu sebelum ada petunjuk dari pengawas kalau anda tidak anda tidak mau mendapatkan “semprotan” dari pengawas dan malu. Oh iya jangan coba-coba untuk datang terlambat, karena anda tidak akan diijinkan untuk mengikuti ujian, apapun alasan terlambatnya.

Peserta hanya diberikan waktu kurang lebih satu jam untuk mengerjakan soal bahasa Inggris. Untuk peserta yang mengajar bahasa Jepang maka soalnya akan diberikan dalam bentuk bahasa Jepang dan waktunya lebih lama dibandingkan peserta yang tidak mengajar bahasa Jepang.

Setelah ujian apa yang anda lakukan? Menunggu telepon dari kedutaan Jepang biasanya sebulan setelah ujian, jika anda di telepon berarti anda lolos ke tahap berikutnya yaitu wawancara di kedutaan Jepang, Jakarta. Tanyakan jam berapa, apa yang harus disiapkan dan apa yang harus dibawa. Persiapkan diri anda diwawancarai oleh staf kedutaan Jepang dengan menggunakan bahasa Inggris.

Di hari wawancara, anda juga tidak boleh terlambat datang dan jangan lupa untuk memberitahu security kedutaan mengenai maksud kedatangan anda karena ada daftar absen yang harus anda tanda tangani.

List peserta

Kemudian peserta wawancara diminta naik ke lantai dua dan diberi arahan oleh petugas bagian pendidikan kedutaan. Anda akan diminta mengerjakan soal-soal ujian Monbukagakusho sambil menunggu giliran wawancara. Meskipun anda sudah lolos ke tahap wawancara, tetap anda harus mengikuti arahan dari petugas, kalau anda masih bandel juga, maka petugas tak segan-segan mendisiplinkan anda.

Aktivitas selama menunggu wawancara

Memilih universitas yang ada di buku panduan

Anda akan diminta untuk mengisi ulang form aplikasi yang pernah anda kirimkan ke kedutaan dan dikumpulkan selang beberapa minggu kemudian dengan melampirkan hasil medical check up dari rumah sakit atau klinik untuk membuktikkan bahwa anda sehat. Anda akan mendapatkan form medical check up tersebut dari kedutaan, didalamnya ada tes darah, EKG, rontgen thorax, tes refleks, tes buta warna, rekomendasi dokter dan sebagainya. Hanya form medical check up tersebut yang dikembalikan.

Kemudian saat wawancara dengan staf kedutaan Jepang, anda akan dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyan mengenai siapa anda, bagaimana kepribadian anda, motivasi belajar ke Jepang, mengapa memilih Jepang dan jurusan yang anda pilih serta manfaat apa yang akan anda berikan setelah pulang dari Jepang, bahkan mungkin saja pertanyaan mengapa anda layak diberikan beasiswa. Wawancara jika lancar hanya membutuhkan 15 menit saja. Sebaiknya belajar wawancara dengan bahasa Inggris terlebih dahulu dengan rekan anda. Siapkan mental anda.

Selesai wawancara maka anda diperbolehkan untuk pulang. Anda juga harus melengkapi form, melakukan medical check up dan mengirimkan ulang seminggu setelahnya. Form ini beserta hasil ujian anda akan dikirimkan ke MEXT Jepang untuk diseleksi lagi dengan peserta dari negara lain.

Wow, jadi setelah seleksi berkas, seleksi tes bahasa Inggris, wawancara, lalu seleksi dengan peserta negara lain. Jadi di tahap ini anda adalah nominasi dari Indonesia. Lolos tidakya anda tergantung hasil seleksi akhir. Nah disinilah aku beserta guru lain tidak lolos. Alasannya mungkin karena hasil tesnya kalah dari hasil tes peserta dari negara lain.

Ya tidak apa-apa, Alhamdulillah aku bersyukur bisa mendapatkan pengalaman ini. Setidaknya memunculkan rasa kepercayaan diri, ternyata bisa menembus dan mengalahkan peserta lain.

Isu yang berkembang di kalangan guru adalah yang mendapatkan beasiswa ini biasanya diutamakan guru dari daerah atau guru wanita.Tapi menuruku, jika memang anda layak maka anda yang mendapatkannya. Hanya masalah waktu saja. Aku, tiga kali mencoba, sekali berhasil melewati seleksi awal saja.

Ada yang keberatan jika aku jadi pergi ke Jepang, yaitu murid-muridku dan rekan-rekan guru. Alasannya aku masih dibutuhkan. Yah masak sih harus tidak dibutuhkan baru bisa pergi. Hehehehe. Hikmahnya adalah aku sudah diberikan jalan ke negara lain selain Jepang untuk menuntut ilmu, meski sebentar.

Selalu ada rencana dari Tuhan untuk kita, jadi jangan menyerah jika gagal. Coba saja lagi mumpung masih ada umur. Semoga berhasil rekan-rekan guru yang ingin mencoba. Pantaskanlah anda untuk menerima beasiswa tersebut dengan belajar dan disiplin.

 

Categories: Curhat, Hari ini aku belajar..., Kisah | Tags: , , , , , | 37 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: